tirto.id - Layanan Healing 119 milik Kementerian Kesehatan RI mencatat sekitar 500-600 pengakses dalam satu shift. Jumlah tersebut jauh lebih besar dibandingkan kapasitas psikolog yang bertugas, sehingga konsultasi dibatasi selama 30 menit untuk setiap pengakses.
Psikolog Annelia Sari Sani menjelaskan keterbatasan tenaga membuat layanan harus menerapkan metode triase. Pengakses yang tidak berada dalam kondisi krisis dapat dialihkan ke layanan lain agar kapasitas penanganan dapat diprioritaskan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan segera.
“Dalam satu shift, psikolognya mungkin paling cuma 5 orang. Satu shift 3 jam, yang mengakses satu shift itu bisa 500-600 orang,” ujar Annelia.
Tingginya jumlah pengakses juga membuat kebutuhan tenaga psikolog menjadi perhatian. Perhitungan layanan tersebut menunjukkan diperlukan sekitar 100 psikolog klinis untuk memenuhi kebutuhan operasional.
Annelia menjelaskan kapasitas layanan dalam satu shift masih sangat terbatas dibandingkan jumlah pengakses. Kondisi tersebut membuat sebagian pengakses dapat kembali menggunakan layanan setelah sesi 30 menit berakhir.
“5-6 psikolog klinis itu berarti dalam satu shift, kalau satu shift itu cuma bisa 6 pasien, berarti sekitar 30 orang yang terlayan dari satu shift. Padahal pengakses satu shiftnya 500-600 orang,” kata Annelia.
Di sisi lain, catatan layanan Healing 119 menunjukkan persoalan hubungan keluarga menjadi faktor yang paling banyak ditemui dalam kasus krisis yang ditangani. Selain persoalan keluarga, faktor sosial seperti bullying dan masalah ekonomi juga ditemukan.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan RI, Irman Pambudi, menyebut persoalan hubungan keluarga menjadi faktor pertama, disusul bullying dalam pertemanan dan persoalan ekonomi.
“Jadi pertama adalah hubungan keluarga, yang kedua itu adalah bullying teman-teman. Kemudian itu baru yang ketiga masalah ekonomi,” ujar Irman.
Sebagai informasi, Healing119.id merupakan layanan darurat dan konseling kesehatan mental gratis selama 24 jam yang disediakan Kementerian Kesehatan. Layanan ini bukan pengganti intervensi psikologis secara komprehensif, melainkan ditujukan untuk membantu menstabilkan seseorang yang berada dalam kondisi krisis hingga dapat memperoleh bantuan lanjutan.
“Ini adalah pertolongan saat krisis untuk menstabilkan sampai jangka waktu tertentu, sampai bisa mengakses bantuan yang lebih komprehensif,” ujar Annelia.
Penulis: Putri Az Zahra
Editor: Alfitra Akbar
Masuk tirto.id

































