Obituari

Harry Moekti: Rocker Hijrah yang Menolak Politisasi Agama

Oleh: Petrik Matanasi - 25 Juni 2018
Dibaca Normal 3 menit
Sebelum hijrah lalu bergiat di HTI dan menyuarakan khilafah, Harry Moekti adalah rocker terkenal Indonesia di zamannya.
tirto.id - Selain sebagai kota serdadu sedari zaman kolonial—karena banyak instalasi militer—Cimahi juga dikenal sebagai daerah asal beberapa rocker Indonesia. Generasi penikmat musik 1990-an tentu mengenal band rock asal Cimahi binaan Log Zhelebour: Zamrud.

Sebelum era Zamrud, pada 1980-an, ada seorang anak tentara yang jadi rockstar dengan warna vokalnya yang khas bernama Hariadi Wibowo. Ia anak tentara biasa, yang belum tentu tercatat dalam buku sejarah. Tapi Hariadi Wibowo mampu membuktikan bahwa kelak namanya tercatat dalam sejarah.

Dunia ayahnya jelas keras dan Hariadi Wibowo muda suka sekali pada musik keras. Hariadi Wibowo dikenal banyak orang Indonesia sebagai Harry Moekti.


Harry Moekti dikenal sebagai rocker energetik yang bersuara melengking. Seperti dunia yang digeluti ayahnya, musik Harry sama-sama jauh dari kesan menye-menye. Ia berjaya sebagai rocker tatkala Bangun Sugito Tukiman alias Gito Rollies juga sedang berada di puncak karier sebagai rock star.

Seperti Harry, Gito juga anak tentara. Ayahnya adalah Kapten Tukiman. Harry dan Gito sempat mengalami dunia glamor selebritas Indonesia. Rocker populer lain di zaman mereka adalah Ikang Fauzi.


“Ayahnya seorang militer sehingga cara mendidik anak-anaknya pun sangat keras dan disiplin tinggi. Tak heran kalau karakter Harry Moekti juga terbilang keras,” tulis Salman Iskandar dalam 99 Tokoh Muslim Indonesia (2009: 50-51).

Anak ketujuh dari sembilan bersaudara ini mulai berlatih vokal sesudah lulus SMA, waktu tinggal di Semarang. Namanya melejit setelah ia tampil dalam Festival Lagu Populer Indonesia 1987. Saat itu, ia membawakan lagu "Dalam Kegelapan".


Di eranya, Harry Moekti adalah penyanyi yang sangat dikenal publik. Sebagian mantan pendengarnya mungkin ingat penggalan lirik “Adududududuh... kau tak percaya” dalam lagu "Ada Kamu" atau “Ciut nyaliku lihat wajah bapaknya… Hilang rinduku karna tatap curiga” dalam lagu yang terkesan kocak, "Apel Pertama". Meski ngerock, lagu-lagu Harry Moekti yang terkenal adalah yang bertema cinta dan anak muda.


Sebelum jadi penyanyi solo terkenal, Harry Moekti pernah jadi vokalis dalam sebuah band. Seperti kebanyakan penyanyi rock, karier bermusik Harry Moekti juga bermula dari band yang tidak terkenal.

Ketika namanya sudah semakin tenar, Harry Moekti pernah satu band atau berkolaborasi dengan musisi lain di Indonesia. Nama besar yang pernah satu band dengannya adalah Indra Lesmana, Gilang Ramadhan, Donny Suhendra, dan A.S. Mates. Mereka pernah bermain bareng dalam band berumur pendek, Adegan. Menurut catatan Adib Hidayat dalam Gigi: Peace, Love & Respect, Stadion Mandala Krida Yogyakarta, 11 Januari 2008 (2009: 47), Armand Maulana nyaris menjadi vokalis band ini setelah Harry Moekti keluar.

Intinya, Harry Moekti merangkak dari bawah dan tidak terkenal dengan cepat. Pada 1976, Harry pernah bergabung dalam band Darodox—yang konon namanya diambil dari bahasa Jawa nderedeg atau gemetar. Setelah kematian ayahnya yang tengah berdinas di Semarang pada 1980, Harry kembali ke Bandung. Kota Bandung, yang tak jauh dari Cimahi dan telah melahirkan The Rollies dan banyak band catchy lainnya itu, tidak asing dengannya.


Selama di Bandung, di awal-awal karier bermusiknya, Harry pernah bermain di band Orbit, Primas, dan New Bloodly. Setelah itu, dia mencoba peruntungan ke Jakarta. Bagi banyak orang Indonesia, termasuk musisi, Jakarta adalah kota yang harus ditaklukkan untuk sukses.

Di ibu kota, dia bergabung dengan Makara dari 1982 hingga 1985. Band terkenal tempatnya pernah bergabung adalah Krakatau—di mana nama besar seperti Dwiki Darmawan, Trie Utami, Indra Lesmana, dan Gilang Ramadhan juga pernah bernaung.


Banting Setir Jadi Juru Dakwah

Selama dua dekade terakhir, Harry Moekti tak menjadi berita karena musik rock—ia sudah hengkang dari dunia itu pada 1995—melainkan karena predikatnya sebagai juru dakwah. Salman Iskandar memasukkan Harry Moekti sebagai salah satu tokoh Muslim dalam bukunya, 99 Tokoh Muslim Indonesia. Tentu saja ini terkait dengan fase 20 tahun terakhir hidup Harry Moekti yang dihabiskan sebagai juru dakwah. Dia termasuk tokoh Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Harry Moekti hengkang dari dunia musik rock setelah naik haji pada 1995. “Hal itu dilakukan setelah dia serius mendalami Islam. Dalam pencarian makna hidup yang sesuai syariat agama itu, Kang Hari (Harry Moekti) menemukan visi yang sama dengan kelompok dakwah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI),” tulis Salman.

Setelah itu dia asyik berdakwah dan meninggalkan hobi panjat tebing dan arung jeram—yang digelutinya antara 1990 hingga 1995. Harry lebih sering meluangkan waktunya untuk memenuhi undangan ceramah baik di dalam maupun luar negeri, bahkan ke daerah terpencil.


Bila kini muncul fenomena hijrah di kalangan musisi atau aktor/aktris Indonesia, itu bukanlah hal baru. Sebelumnya ada Gito Rollies dan Harry Moekti. Mereka ingin meninggalkan masa lalu yang dianggap kelam itu. Mereka ingin hidup baru, setidaknya berpenampilan baru, meski tak benar-benar meninggalkan dunia selebritas nan glamor.


Infografik Harry Moekti


Setelah hijrah, beberapa bukunya terbit atas nama Hari Moekti. Di antaranya: Generasi muda Islam: dari masalah putauw sampai sekularisme (1998) terbitan Rosdakarya, Mencetak Generasi Cerdas dan Bertaqwa (2004) terbitan Cakrawala, dan Renungan Hidup Mantan Rocker Harry Moekti (2008) terbitan Mahabbah Cipta Insan.


Banyak yang berubah dalam kehidupan Harry Moekti setelah hijrah. Tak lama sesudah hijrah, dia bercerai dengan Yuli Agustina—yang belum begitu lama dinikahinya. Proses perceraian itu disiarkan dalam sebuah acara gosip stasiun televisi swasta. Setelahnya, ia menikah lagi dengan Ummu Haura.

Bersama HTI, Harry Moekti yang kerap disapa Kang Hari ini sangat serius. Ia bukan kader HTI yang biasa saja. Sebagai mantan rocker, dia jelas masih terkenal. Kegiatannya bersama HTI juga tetap terpantau media. Dia termasuk yang mendukung dan mengampanyekan diterapkannya syariat Islam dan khilafah di Indonesia.

“Indonesia hanya akan mampu memakmurkan rakyatnya jika menerapkan sistem Khilafah atau syariat Islam,” kata Harry Moekti dalam Daurah Akbar HTI di Kalimantan Selatan, seperti dikutip Antara (19/2/2015).


Dalam dua dekade terakhir, banyak sekali selebritas bergabung dengan partai politik, masuk parlemen, atau menjadi kepala daerah. Harry Moekti mungkin berpolitik bersama HTI, tapi dia tidak masuk ranah politik praktis. Sebagai juru dakwah, seperti dicatat Salman, Harry Moekti pernah bilang: “Jangan gunakan ajaran agama untuk menipu umat karena balasan dari Allah akan sangat pedih.”

Harry Moekti tidak mau menjual agama. Setidaknya dia tidak mau meneruskan karier musiknya pasca-hijrah dengan membawakan lagu-lagu bernafaskan keagamaan seperti pernah dilakukan Rhoma Irama.

Ada sebuah cerita ketika ia diajak konser oleh musisi nasional ternama yang lebih junior darinya. Namun begitu melihat ada karpet bertulis "Allah", Harry Moekti memilih mundur. Rock tinggallah masa lalu dalam hidupnya. Akhir hidupnya adalah dakwah. Populer bukan lagi jadi tujuan hidup Harry Moekti. Toh, dia pernah hebat di zamannya.

Baca juga artikel terkait OBITUARI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Musik)


Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan