tirto.id - Presiden Prabowo Subianto akan merayakan hari ulang tahun ke-74 pada Jumat, 17 Oktober 2025. Hari tersebut bertepatan dengan Hari Kebudayaan Nasional yang disahkan oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. Apakah ada keterkaitan antara hari ulang tahun Prabowo Subianto dan Hari Kebudayaan Nasional?
Prabowo Subianto Djojohadikusumo merupakan presiden ke-8 Indonesia yang mulai menjabat pada 20 Oktober 2024 bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sebelumnya, ia merupakan Menteri Pertahanan ke-26 di bawah kepemimpinan Joko Widodo dari 2019-2024 dan menjadi presiden ketiga dengan latar belakang militer setelah Soeharto dan Susilo Bambang Yudhoyono.
Saat dilantik setahun lalu, Prabowo baru saja merayakan ulang tahun yang ke-73 sekaligus menjadikannya sebagai presiden tertua saat dilantik di Indonesia, yaitu 73 tahun 3 hari. Sebelumnya, gelar presiden tertua saat dilantik di Indonesia dipegang oleh BJ Habibie, yang menjadi Presiden RI pada umur 61 tahun.
Apa Itu Hari Kebudayaan Nasional
Menteri Kebudayaan Fadli Zon melalui Surat Keputusan Menteri Kebudayaan Nomor 162/M/2025 yang terbit pada 7 Juli 2025 meresmikan Hari Kebudayan Nasional yang jatuh pada 17 Oktober. Keputusan tersebut berlaku sejak tanggal yang ditetapkan, sehingga pada Jumat, 17 Oktober 2025 kita akan merayakan Hari Kebudayaan Nasional.
Hari Kebudayaan Nasional dirayakan bertujuan untuk memperkuat identitas nasional dengan Garuda Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai simbol pemersatu. Penetapan momen tersebut juga bagian dari upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan kebudayaan.
Berdasarkan SK tersebut, kebudayaan dinilai sebagai hal yang penting karena bagian dari pondasi, pilar utama, dan instrumen yang dapat membangun, serta menguatkan karakter bangsa. Kebudayaan juga dapat memperteguh jati diri bangsa dan meningkatkan citra bangsa untuk mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
Apakah Hari Ulang Tahun Prabowo Berkaitan dengan Hari Kebudayaan Nasional?
Penetapan 17 Oktober sebagai Hari Kebudayaan Nasional sempat menuai pro kontra dari masyarakat. Beberapa pihak menilai keputusan tersebut kurang transparan karena bertepatan dengan HUT Prabowo. Hal itu sempat direspons oleh Ketua DPR RI Puan Maharani yang mempertanyakan dasar argumentasi penetapan tersebut.
"Kami akan meminta kepada Kementerian Kebudayaan atau Menteri Kebudayaan melalui Komisi X untuk menerangkan dan menjelaskan apa dasar dan argumentasinya terkait dengan hal tersebut," ungkap Puan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (15/07/2025).
"Jadi saya minta untuk bisa dijelaskan dasar dan argumentasinya dengan baik untuk tidak menimbulkan polemik yang berkelanjutan," lanjutnya.
Sementara itu, Fadli Zon menjelaskan bahwa Hari Kebudayaan Nasional yang ditetapkan 17 Oktober tidak memiliki kaitan dengan hari lahir Presiden Prabowo Subianto.
“Nggak ada(kaitan dengan hari ulang tahun Presiden Prabowo). Kebetulan saja. Hari lahir saya kan hari lahir Pancasila ya, tanggal 1 Juni, nggak ada hubungannya,” kata Fadli saat ditemui di kompleks parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (17/07/2025).
Menurut Fadli, 17 Oktober dipilih sebagai Hari Kebudayaan Nasional setelah melalui kajian dari tim Garuda 9 plus yang berisi seniman, tokoh pegiat budaya, dan akademisi selama 5-6 bulan. Hasil kajian tersebut menghasilkan tanggal 17 Oktober dipilih sebagai momentum yang tepat karena merujuk pada tanggal penandatanganan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara.
Menurut siaran pers Kementerian Kebudayaan di Jakarta, PP Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara ditandatangani oleh Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Sukiman Wirjosandjojo pada 17 Oktober 1951.
"PP tersebut menetapkan lambang Negara Indonesia, yaitu Garuda Pancasila, dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika sebagai bagian integral dari identitas bangsa," kata Fadli.
"Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar semboyan, tetapi filosofi hidup bangsa Indonesia, yang mencerminkan kekayaan budaya, toleransi, dan persatuan dalam keberagaman," paparnya.
Pembaca yang ingin mengakses informasi mengenai hari penting dapat klik tautan yang ada di bawah ini:
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id







































