tirto.id - Harga kondom diprediksi akan naik hingga 30 persen dari harga awal sebagai imbas dari perang Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih terjadi hingga sekarang.
Kepala perusahaan pembuat kondom terbesar di dunia, Karex, memperingatkan bahwa harga produknya bisa naik hingga 30 persen atau bahkan lebih jika konflik antara Iran dan AS terus mengganggu pasokan bahan baku.
CEO Karex, Goh Miah Kiat, menjelaskan bahwa biaya produksi meningkat tajam sejak konflik dimulai, terutama karena ketergantungan perusahaan pada bahan turunan minyak seperti amonia untuk pengawetan lateks dan pelumas berbasis silikon.
Gangguan ini berkaitan erat dengan situasi di Selat Hormuz, jalur vital yang biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia, namun kini terganggu akibat ancaman terhadap kapal-kapal yang melintas, termasuk penutupan dari angkatan laut Iran dan blokade maritim dari AS.
Karex sendiri memproduksi lebih dari lima miliar kondom setiap tahun dan memasok merek global seperti Durex dan Trojan, serta sistem kesehatan publik seperti NHS.
Selain kenaikan biaya bahan baku, perusahaan juga menghadapi lonjakan permintaan sekitar 30 persen tahun ini, yang diperparah oleh biaya pengiriman yang lebih tinggi dan keterlambatan logistik.
Konflik Global, Kondom Dinilai Menjadi Kebutuhan Penting
CEO Karex, Goh Miah Kiat menyebut ketidakpastian ekonomi yang terjadi saat ini justru meningkatkan kebutuhan masyarakat akan alat kontrasepsi. Hal itu dikarenakan banyak orang ingin menghindari beban finansial tambahan dari memiliki anak di tengah kondisi yang tidak menentu.
"Di masa-masa sulit, kebutuhan untuk menggunakan kondom menjadi lebih penting karena Anda tidak yakin dengan masa depan Anda, apakah Anda masih akan memiliki pekerjaan tahun depan," katanya kepada Bloomberg, Rabu (22/4/2026).
"Jika Anda memiliki bayi sekarang, Anda akan memiliki satu mulut lagi yang harus diberi makan," tambahnya.
Dampak konflik AS-Iran yang pecah sejak akhir Februari lalu tidak hanya terasa pada industri kondom, namun juga meluas ke berbagai sektor global.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah ini telah mengguncang pasar energi dunia dan mendorong kenaikan harga berbagai barang konsumsi.
Tarif penerbangan meningkat signifikan, harga pupuk naik akibat gangguan distribusi, dan terjadi kelangkaan helium yang penting untuk industri semikonduktor.
Bahkan industri air minum dalam kemasan dan sektor pangan ikut terdampak karena biaya transportasi yang meningkat, sehingga harga gula, produk susu, dan buah diperkirakan akan naik.
Di Indonesia sendiri, harga plastik pun mulai melonjak. Kondisi ini mulai dikeluhkan oleh para pemilik usaha, terutama UMKM yang banyak tergantung dengan plastik untuk kemasan produknya.
Di berbagai negara Asia, mulai muncul gerakan seperti mengganti plastik dengan kertas atau bahan bakar fosil dengan energi surya akibat tekanan geopolitik dan ekonomi global.
Harga Plastik Pengaruhi Perilaku Publik
Data dari OECD, seperti dilaporkan Reuters (16/4/2026), menunjukkan bahwa penggunaan plastik di negara-negara seperti China, Jepang, Korea Selatan, dan Asia Tenggara melonjak drastis dari 17 juta ton pada 1990 menjadi 152 juta ton pada 2022.
Selain itu, kawasan ini juga menyumbang lebih dari sepertiga limbah plastik global yang mencemari lingkungan, terutama karena sistem pengelolaan sampah yang belum memadai di negara-negara berkembang.
Namun, gangguan pasokan bahan baku akibat konflik global mulai memaksa perubahan. Di Jepang, pelaku ritel menghadapi kemungkinan kelangkaan kemasan plastik seperti baki dan kantong, sehingga mereka harus memikirkan ulang cara menjual produk.
"Sekarang kami harus membahas bagaimana menjual produk kami jika nampan tidak lagi dipasok sama sekali," kata Kensuke Takahashi, manajer produk untuk supermarket Marutake di Saitama dikutip Reuters (16/4/2026).
"Saya sangat khawatir. Kami benar-benar tidak tahu apa yang akan terjadi," keluhnya lagi.
Produsen besar seperti Mitsubishi Chemical dan Sanipak bahkan berencana menaikkan harga hingga sekitar 30 persen karena lonjakan biaya bahan baku. Di sisi lain, beberapa perusahaan mulai beradaptasi dengan alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Misalnya, produsen susu Malaysia Farm Fresh sementara beralih ke kemasan karton berbasis kertas. Pemasok dari Korea Selatan seperti Kolmar Korea melihat peningkatan permintaan untuk kemasan berbasis kertas yang hanya menggunakan sekitar 20 persen plastik dibandingkan kemasan konvensional, terutama dari klien global seperti L'Oreal.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































