tirto.id - Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengingatkan bahwa bulan Ramadan merupakan bulan syahrul muwasaat, yaitu bulan kesabaran, bulan ampunan, dan bulan berbagi.
“Ada banyak nama untuk bulan Ramadan. Selain yang telah banyak disebutkan, Nabi Muhammad Saw. juga menyebutnya sebagai ‘bulan kesabaran, bulan ampunan, bulan berbagi’ atau syahrul muwasaat,” kata Gus Ipul dalam keterangan tertulis, Senin (3/3).
Gus Ipul mengatakan, bulan ini sepatutnya menjadi momentum untuk meningkatkan kesalehan sosial dengan saling berbagi dan berempati. Dirinya menekankan, tidak seharusnya ada pengelompokan dalam masyarakat yang menjadi jurang pemisah dalam kehidupan bermasyarakat.
Menurut dia, orang kaya bukan hanya harus berbagai kekayaan dengan orang miskin pada bulan Ramadan. Orang kaya juga harus ikut berempati dengan penderitaan orang yang tidak seberuntung mereka sebab mereka sudah sepatutnya berbagi kebahagiaan dengan orang-orang yang malang.
“Tuhan berfirman, ‘puasa itu hanya untuk Aku.’ Puasa disembahkan hanya untuk Tuhan. Tidak ada persembahan yang paling agung selain perkhidmatan kepada makhluk-Nya. Mencintai Tuhan hanya dapat dilakukan dengan mencintai sesama manusia. Karena itu, amal yang paling dicintai Tuhan pada bulan berbagi bukanlah saja ibadah ritual yang bersifat individual, tetapi ibadah yang membagikan kebahagiaan kepada orang banyak. Islam mendorong pemeluknya untuk juga saleh secara sosial,” tegas Gus Ipul.
Gus Ipul mengingatkan, kerja sosial harus selalu berpedoman kepada landasan filosofis yang memprioritaskan 12 pemerlu atensi sosial (12 PAS). Hak-hak mereka, kata Gus Ipul, dijamin oleh konstitusi sehingga upaya pemberdayaannya mampu mendorong Indonesia yang lebih mandiri dan bahagia.
Dalam klaster terkait perlindungan, Gus Ipul mengatakan, rehabilitasi dan pemberdayaan anak-anak bermasalah telah didasarkan pada religiositas. Pasalnya, sebagaimana termaktub dalam Al-Quran, Allah mengingatkan bahwa anak bermasalah akan menjadi persoalan serius dalam melahirkan generasi yang tangguh apabila tidak segera ditangani.
“Kesadaran keagamaan penting bagi kita yang dikenal religius, ajaran bahwa orang beriman yang kuat lebih Tuhan sukai daripada yang lemah, harus dijadikan kesadaran bersama,” tuturnya.
Kemudian, Gus Ipul mengimbau seluruh umat Islam untuk menunaikan kewajibannya di penghujung bulan Ramadan kelak. Ia menegaskan ibadah dan kewajiban membayar zakat fitrah mampu memberdayakan diri, dengan berbagi.
“Oleh sebab itu, di ujung bulan Ramadan, sebelum salat Idulfitri, semua kaum muslimin, kaya atau miskin, sakit atau sehat, laki-laki dan perempuan, berkebutuhan khusus atau tidak, terpencil atau tidak, bahkan yang masih baru lahir, diwajibkan mengeluarkan hartanya untuk membayar zakat fitrah. Ibadah dan kewajiban membayar zakat fitrah, menunjukkan betapa semua umat Islam wajib hukumnya memberdayakan diri, meski cuma dengan sekian liter beras,” tutupnya.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id


































