Menuju konten utama
Pemilu Serentak 2024

Polemik Yenny Wahid vs Cak Imin Pengaruhi Elektabilitas PKB?

Polemik Yenny vs Cak Imin dinilai masalah internal PKB. Akan tetapi, bisa mengganggu elektabilitas PKB bila tidak ditangani dengan baik.

Polemik Yenny Wahid vs Cak Imin Pengaruhi Elektabilitas PKB?
Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar tertawa pada acara Tasyakuran Harlah ke-22 PKB di Kantor DPP PKB, Jakarta, Kamis (23/7/2020). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.

tirto.id - “Yeni itu bukan PKB, bikin partai sendiri aja gagal lolos, bbrpa kali pemilu nyerang PKB gak ngaruh, PKB malah naik terus suaranya, jadi ngapain ikut - ikut ngatur PKB, hidupin aja partemu yang gagal itu. PKB sudah aman nyaman kok.”

Twit Ketua Umum DPP PKB, Muhaimin Iskandar alias Cak Imin di akun media sosial Twitter @cakiminNOW memicu polemik. Cuitan tersebut terkait pernyataan putri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid dalam sebuah wawancara yang menyatakan ia adalah PKB Gus Dur. Pernyataan tersebut juga tidak terlepas dari pertanyaan sejumlah wartawan di tengah konstelasi Pemilu 2024 yang semakin ‘panas.’

Yenny pun membalas pernyataan Cak Imin lewat akun media sosial Twitter @Yenniwahid tidak lama setelah cuitan tersebut muncul. Yenny menulis, “Hahaha inggih Cak. Tapi ndak usah baper to, Cak. Dan memang benar, saya bukan PKB Cak Imin. Saya kan PKB Gus Dur. Cak Imin juga belum tentu lho bisa bikin partai sendiri.. kan bisanya mengambil partai punya orang lain.”

Cuitan Yenny tersebut diikuti dengan pernyataan Imron Rosyadi Hamid, loyalis atau kader Gus Dur. Imron menyebut selama ini Cak Imin lah yang selalu mendompleng nama Gus Dur sebagai bentuk pertahanan eksistensi partai.

“Selama ini PKB Muhaimin Iskandar tetap mengeksploitasi nama ataupun gambar Gus Dur meskipun Gus Dur adalah paman yang dia lawan secara hukum di pengadilan,” kata Imron dalam rilis tertulis.

Imron juga menegaskan saat ini Yenny dan barisan PKB Gus Dur tidak berada dalam satu gerbong dengan Cak Imin dan PKB yang kini dipimpin Wakil Ketua DPR RI itu.

“Pernyataan Mbak Yenny tentang PKB Muhaimin dan PKB Gus Dur merupakan upaya memberikan pemahaman kepada masyarakat, terutama terkait Pilpres 2024 bahwa keluarga Gus Dur hingga saat ini tidak dalam gerbong Muhaimin,” kata dia.

Terkait polemik ini, Maman Imanulhaq, salah satu pengurus PKB Muhaimin mengakui bila nilai-nilai dan ajaran Gus Dur saat ini masih dikelola PKB di bawah nakhoda Muhaimin Iskandar.

“Di PKB, nilai-nilai Gus Dur juga terus jadi marwah perjuangan. Cak Imin pun selalu menekankan semua pengurus membawa pemikiran-pemikiran Gus Dur untuk tiap rencana aksi,” kata Maman yang merupakan Dewan Syuro PKB dalam keterangan tertulis, Jumat (24/6/2022).

Maman mengklaim Cak Imin berupaya menyatukan nilai demokrasi dan spiritualitas serta nilai-nilai lain. Ia malah berkilah bahwa terbukanya konflik Yenny Wahid dan Cak Imin sebagai aksi pencerdasan publik.

Konflik Lawas yang Tak Berujung

Polemik Yenny dan Cak Imin tidak bisa dilepaskan dari sejarah PKB di masa lalu. PKB yang berdiri setelah runtuhnya orde baru ini sebagai upaya mengakomodir suara politik warga NU, sementara NU berupaya untuk tidak berpolitik sesuai hasil Muktamar NU 1984.

PKB akhirnya resmi berdiri pada 23 Juni 1998. Deklarasi dilakukan di kediaman Ketua Umum PBNU, Gus Dur. Selain Gus Dur, beberapa tokoh NU yang turut mendeklarasikan berdirinya PKB di antaranya KH Ilyas Rukhiat, KH Munasir Ali, KH Mustofa Bisri, serta KH Muchit Muzadi. Matori Abdul Djalil terpilih sebagai Ketua Umum PKB pertama.

PKB langsung mendapatkan posisi di Pemilu 1999. Hal tersebut tidak terlepas dari peran Gus Dur yang merupakan tokoh paling berpengaruh dan dihormati nahdliyin maupun di kancah nasional. Gus Dur kemudian terpilih sebagai Presiden RI ke-4 menggantikan Presiden RI ke-3 BJ Habibie.

PKB mulai memasuki masa perpecahan setelah PKB di bawah kepemimpinan Alwi Shihab memecat Ketua Tandfidz Dewan Pengurus PKB Matori Abdul Djalil. Pemecatan Matori dilakukan PKB karena dia hadir pada saat sidang pelengseran Gus Dur dari kursi presiden.

Friksi internal semakin menguat setelah PKB menggelar Muktamar 2005 yang memilih Muhaimin Iskandar yang notabene keponakan Gus Dur sebagai Ketua Umum PKB. Gus Dur ditunjuk sebagai Ketua Dewan Syura PKB kala itu. Namun, Cak Imin malah dipecat dari PKB karena “mendekat” ke SBY selaku presiden kala itu.

Pada akhirnya, kubu Cak Imin dan kubu Gus Dur menggelar musyawarah luar biasa (MLB) sendiri-sendiri. MLB kubu Gus Dur digelar di Parung, Bogor pada 30 April-1 Mei 2008, sementara Cak Imin menggelar MLB di Hotel Mercure, Ancol sehari kemudian. Pada MLB kubu Cak Imin, Yenny didepak dari kursi sekjen dan kursi Gus Dur diganti dengan KH Azis Masyur.

Kubu Gus Dur yang tidak terima lantas menggugat ke pengadilan. Singkatnya, kubu Gus Dur akhirnya kalah di tingkat kasasi karena hakim menilai MLB yang digelar kubu Cak Imin sah sesuai AD-ART partai. Kubu Yenny lantas 'pergi' dari PKB Cak Imin dan sempat membuat partai sendiri.

Aksi Ofensif Rugikan Cak Imin dan PKB?

Peneliti dari Pusat Riset Politik Badan Riset dan Inovasi Nasional (PRP-BRIN) Wasisto Raharjo Jati memandang, konflik yang terjadi antara Yenny vs Cak Imin adalah masalah internal PKB. Akan tetapi, eskalasi ribut Yenny-Cak Imin bisa mengganggu elektabilitas PKB bila tidak ditangani dengan baik.

“Tergantung pada eskalasi ribut-ributnya, kalau makin membesar tentu merugikan citra PKB,” kata Wasisto saat dihubungi reporter Tirto.

Wasisto mencontohkan, eskalasi membesar itu bisa berbentuk pernyataan viral dan menyasar ke akar rumput. Hal itu bisa mempengaruhi santri dengan latar belakang Gusdurian. Ia mengingatkan bahwa Yenny memiliki basis massa lewat jejaring Gusdurian yang kuat di berbagai daerah dan fokus pada isu tertentu seperti pluralisme. Basis ini bisa saja berbenturan dengan kelompok Cak Imin.

“Bisa saja, karena yang namanya santri pasti juga secara kultural adalah seorang Gusdurian," kata Wasisto.

Apa bentuk kerugiannya? Wasisto khawatir, partai lain akan berupaya mengambil pemilih-pemilih yang kurang suka dari konflik Imin-Yenny. Jika ingin mendapat suara optimal, maka perlu ada pihak ketiga yang menjembatani islah antara Cak Imin dan Yenny. “Islah jadi harga mati," kata Wasisto.

Sementara itu, Dosen Komunikasi Politik Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin menilai, langkah Imin sudah tepat dengan bersikap ofensif dalam menghadapi pernyataan Yenny. Alasannya, kata Ujang, langkah ofensif kepada Yenny penting untuk menunjukkan bahwa dia adalah pemenang dan berusaha bertahan dari serangan yang dialami.

“Nah langkah ofensif yang dilakukan Cak Imin mungkin juga bagian daripada pertahanan diri atau pembelaan diri bahwa selama ini berpolitik, ya tadi, ada menang, ada kalah dan kita lihat kondisi Cak Imin adalah posisi yang menang ketika dulu katakanlah mendapatkan kemenangan dari kubu Gus Dur," kata Ujang kepada Tirto, Jumat (24/6/2022).

Ujang mengingatkan, dinamika seperti Cak Imin vs Yenny pasti terjadi di dunia politik, apalagi memasuki Pemilu 2024. Dalam pandangan Ujang, Cak Imin mengambil langkah ofensif secara suka-tidak suka karena PKB saat ini kurang harmonis dengan PBNU di bawah pimpinan Yahya Cholil Staquf.

Cak Imin memang terekam kurang bersahabat dengan PBNU di bawah kepemimpinan Gus Yahya. Pada Mei 2022 misal, Gus Yahya sempat menyindir soal langkah Cak Imin yang mengumpulkan ulama-ulama untuk kepentingan PKB. Di sisi lain, kubu Cak Imin juga berani 'ofensif' kepada PBNU lewat kaus bertuliskan “Warga NU Kultural Wajib ber-PKB, Struktural Sakkarepmu!.”

Ujang mengingatkan, posisi Cak Imin yang ‘menyerang’ Gus Yahya dan Yenny tidak lepas dari konflik PKB Imin dan PKB Gus Dur di masa lalu. Ia mengingatkan bahwa Gus Yahya merupakan pengurus PKB di era Gus Dur.

Lantas, akankah berpengaruh terhadap elektabilitas Cak Imin dan PKB? Ujang menilai sikap ofensif Cak Imin mempunyai dampak baik atau buruk. Namun besaran dampak harus berdasarkan hasil survei yang lebih tepat.

“Saya melihatnya selalu ada saja plus minus dalam konteks hal yang dilakukan ketum partai. Ya konsekuensi ketika dikritik, ketika diserang. Ada yang memang defensif, ada yang ofensif. Kebetulan pilihan ofensif itu dilakukan Cak Imin," kata Ujang.

Ujang justru menilai situasi konflik Cak Imin dengan YennY maupun PBNU di era Gus Yahya memang menjadi tantangan bagi PKB. Sebab, PKB tidak lagi mendapat dukungan penuh dari PBNU, berbeda dari era sebelum Gus Yahya. Karena itu, PKB harus mencari upaya agar suara parpol yang 13,5 juta pemilih tersebut tetap terjaga meski hubungannya dengan NU strultural kurang harmonis.

“Tergantung usaha-usaha dari Cak Imin dan PKB Cak Imin dalam konteks menjaga suara NU. Bisa tetap terjaga, bisa naik, bisa juga turun karena memang basis PKB adalah NU," tutur Ujang.

Redaksi Tirto berupaya meminta pandangan Wakil Ketua Umum DPP PKB, Jazilul Fawaid maupun Ketua DPP PKB, Iman Sukri. Namun hingga artikel ini dirilis, mereka belum memberikan respons.

Sementara Cak Imin tidak ingin membahas konfliknya bersama dengan Yenny Wahid. Dia mengakui itu merupakan persoalan masa lalu dan berharap masyarakat bisa melupakan polemik tersebut.

"Itu masa lalulah yang penting rebut hati rakyat, dan raih suara sebanyak-banyaknya," kata Cak Imin di Gelanggang Remaja Jakarta pada Sabtu (25/6/2022).

Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan lainnya dari Andrian Pratama Taher

tirto.id - Politik
Reporter: Andrian Pratama Taher
Penulis: Andrian Pratama Taher
Editor: Abdul Aziz