Pemilu Serentak 2024

Gejolak Internal PSI Saat Kadernya Dukung Anies Baswedan Pada 2024

Reporter: Irfan Amin - 30 Jul 2022 11:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Sejumlah kader PSI yang mendukung Anies menjadi gejolak internal. Sebab, PSI dikenal sebagai partai yang aktif mengkritik Anies Baswedan.
tirto.id - Di awal kemunculannya pada 16 November 2014, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menarik perhatian banyak kalangan. Selain karena berisi generasi milenial yang baru terjun ke politik, isu yang diusung juga merepresentasikan kegelisahan publik, yaitu anti intoleransi dan anti korupsi.

PSI juga memberikan porsi yang besar pada perempuan. Bahkan Grace Natalie, ketua umum pertama PSI merupakan triple minoritas: perempuan, non-muslim, dan keturunan Tionghoa. Hal ini membuat publik semakin yakin bahwa PSI benar-benar konsisten dengan DNA nya sebagai partai yang menjunjung keberagaman.

Tak heran jika pada Pemilu 2019, PSI sebagai parpol baru memperoleh suara cukup tinggi, yakni 2.650.361 suara atau 1,89 persen berdasarkan hasil rekapitulasi KPU RI. Perolehan suara PSI bahkan tercatat mengalahkan partai lama, seperti Hanura (1,54%), PBB (0,79%), dan PKPI (0,22%). Namun, PSI masih belum lolos ambang batas parlemen 4% sehingga tidak ada kadernya yang duduk di DPR RI.

Meski demikian, PSI masih memiliki 72 anggota DPRD di seluruh Indonesia, sebanyak 13 orang di tingkat provinsi dan 59 orang di tingkat kabupaten/kota.

Namun belakangan, publik mulai mengkritik manuver-manuvar PSI. Salah satunya saat mendukung Gibran Rakabuming Raka maju pada Pilkada Solo 2020. Sebab, langkah ini dinilai tak sejalan dengan semboyan yang mulanya diusung PSI. Pada 25 Juni 2015 misal, Raja Juli Antoni (saat itu sekjen) sempat mengutarakan bahwa PSI melawan segala bentuk politik dinasti.

Manuver lain yang juga disorot publik adalah saat Giring Ganesha, mantan vokalis band Nidji, mendeklarasikan diri sebagai calon Presiden RI untuk Pemilu 2024 lewat konferensi pers dan akun resminya di Youtube, Senin (24/8/2020).

Saat itu, Giring ditunjuk menjadi Pelaksana Tugas (Plt) Ketua Umum PSI. Giring menggantikan sementara Grace Natalie yang akan melanjutkan studi di luar negeri dan memilih melepas jabatannya sementara waktu.

Pengajar ilmu politik dari Universitas Al-Azhar Indonesia, Ujang Komaruddin menilai, deklarasi Giring merupakan langkah promosi dan iklan partai untuk mendapatkan atensi yang tinggi dari publik. “Giring capres 2024 itu hanya jualan,” kata dia saat dihubungi reporter Tirto, Selasa (25/8/2020).


Gejolak Internal PSI Gara-Gara Anies?

Belakangan, Giring ditetapkan sebagai ketua umum PSI definitif sejak November 2021. Sementara Grace Natalie dipercaya sebagai wakil ketua dewan pembina. Di bawah nakhoda Giring ini kemudian PSI identik dengan parpol yang kerap mengkritik kepeminpinan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Lebih-lebih ketika nama Anies masuk dalam tiga besar bakal capres 2024 berdasarkan sejumlah lembaga survei.

Grace bahkan menegaskan PSI tidak akan pernah mendukung Anies pada Pilpres 2024 yang menurutnya memiliki nilai berbeda dengan yang dianut PSI. “Sesuai pernyataan saya sebelumnya bahwa PSI tidak akan pernah mendukung Anies Baswedan karena yang bersangkutan memiliki rekam jejak dalam politik identitas yang sangat bertentangan dengan DNA PSI,” kata dia pada 28 Juni 2022.

Namun, PSI harus menghadapi fakta bahwa sejumlah kadernya melakukan hal sebaliknya dengan mendukung Anies Baswedan untuk maju menjadi bakal calon presiden di Pemilu 2024. Dua kader di antaranya adalah Sunny Tanuwidjaja dan Surya Tjandra.

Bahkan demi mendukung Anies, Sunny rela melepas jabatannya sebagai Sekretaris Dewan Pembina DPP PSI.

Menurut Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Solidaritas Indonesia Grace Natalie, keinginan Sunny sudah disampaikan semenjak 2021 untuk mundur dari PSI dan memiliki pilihan politik yang berbeda. “Sunny sudah secara resmi mengundurkan diri dari Sekretaris Dewan Pembina PSI sejak setahun lalu,” kata Grace saat dikonfirmasi reporter Tirto, Selasa (28/6/2022).

“Sunny mundur atas keinginannya sendiri, karena beliau menyadari akan memilih jalan politik yang berbeda dengan PSI,” kata Grace. Redaksi Tirto sudah mencoba menghubungi Sunny Tanuwidjaja terkait hal ini, tapi hingga artikel ini rilis, ia belum merespons.



Berbeda dengan Sunny yang memilih mundur karena berbeda pandangan politik, Surya Tjandra masih memilih untuk tetap di PSI. Walaupun PSI hingga kini masih tidak memilih Anies sebagai kandidat capres. Surya berkeyakinan PSI bisa menerima friksi politik yang saat ini dia pilih.

“Ya, itu kan dari pilihan pribadi saya. Saya kira PSI, kan, partai terbuka, bisa menerima perbedaan, biasa saja sebetulnya. Jadi buat saya bagian dari proses demokratis," kata Surya saat dihubungi Tirto pada Jumat (29/7/2022).

Surya menambahkan, “Nanti, kan, kalau memang dibutuhkan bisa ada diskusi dan tabayun dalam internal PSI.”

Surya melihat Anies memiliki komitmen untuk bekerja dan memimpin negara. Hal itu berdasarkan latar belakang Surya sebagai sebagai mantan Wakil Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) di Kabinet Indonesia Maju.

“Kalau dari calon yang muncul namanya sejauh ini yang sudah ada, saya merasa memang beliau [Anies] yang paling cocok, yang bisa melakukan apa yang bisa dikerjakan dari pengalaman saya lihat selama jadi wamen di Jakarta," terangnya.

Dia melihat Anies memiliki pengetahuan dan masa depan kebijakan agraria yang sangat baik. Hal itu pula yang coba dia tawarkan kepada Anies.

“Memang untuk urusan agraria dan tata ruang, Pak Anies menonjol. Dalam konteks itu saya merasa dia bisa didukung dan bisa jadi presiden yang baik kalau nanti kepilih,” kata dia.

Keyakinan Surya kepada Anies cukup tinggi, dia bahkan siap menjadi tim kampanye Anies Baswedan dalam proses pencapresan bila diminta dan dibutuhkan.

“Kalau emang dianggap bermanfaat dan dibutuhkan, saya pikir kita perlu bantuin. Pak Anies ini perlu tim yang kuat, yang bisa kerja, bisa memberi perspektif. Karena, kan, semakin banyak, nanti akan jadi plural dukungannya,” kata dia.


PSI Belum Bersikap

Pengakuan Surya Tjandra yang mendukung Anies maju jadi bakal capres 2024, belum mendapat respons resmi dari PSI. “Kalau langsung ke saya belum (terkait respons PSI)," jelas Surya.

Secara terpisah, Juru Bicara PSI, Ariyo Bimo juga masih menunggu sikap resmi dari DPP PSI mengenai pilihan Surya Tjandra. “Bro Surtjan (Surya Tjandra) adalah sahabat kami, dia salah satu kader yang sangat mengerti nilai-nilai yang diperjuangkan PSI. Kita tunggu saja perkembangan berikutnya” kata dia.

Meski demikian, Ariyo mengungkapkan bahwa PSI membebaskan para kader untuk memilih dalam rangka kebebasan ekspresi dan berpendapat. “Bro Surtjan tentu memiliki kebebasan berpendapat sebagai pribadi,” kata dia.

Di sisi lain, PSI hingga saat ini masih menunjukkan perbedaan politiknya dengan Anies Baswedan. Selain selalu mengkritik, partai ini juga menyiapkan sejumlah nama untuk menjadi kandidat bakal capres mereka yang tentunya tidak ada nama Anies di dalamnya. Mereka yang dicalonkan oleh PSI berasal dari kepala daerah, menteri hingga presenter.

Ketua Umum DPP PSI, Giring Ganesha menyebut, Emil Dardak, Erick Thohir, Ganjar Pranowo, Mahfud MD, Muhammad Andika Perkasa, Ridwan Kamil, Muhammad Tito Karnavian, Najwa Shihab, dan Sri Mulyani Indrawati adalah kandidat yang berpotensi dijagokannya.

“PSI yakin, sembilan sosok tersebut adalah kader-kader bangsa yang dianggap mampu melanjutkan politik kesejahteraan, politik bersih, dan politik keterbukaan,” kata Giring.


Kadernya Dukung Anies Baswedan, PSI Bisa Apa?

Sejumlah kader yang mendukung Anies menjadi gejolak internal partai tersebut. Sebab, PSI dikenal sebagai partai yang aktif mengkritik Anies Baswedan dalam setiap kebijakannya. Bahkan menurut Direktur Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno hal ini sangat merugikan bagi internal PSI.

“PSI pasti dirugikan karena mereka yang paling aktif mengkritik Anies habis-habisan sejak dia berdinas sebagai Gubernur DKI Jakarta. Bahkan hampir setiap hari dengan menyebut Anies sebagai simbol politik identitas," kata Adi saat dihubungi Tirto pada Jumat (29/7/2022).

Adi juga menyebut PSI sudah bukan menjadi partai yang nyaman untuk dihuni bagi politisi. Terutama setelah sejumlah kader kunci memilih keluar, seperti Tsamara Amany, Sunny Tanuwidjaja, dan Surya Tjandra yang memilih Anies.

“Ini menandakan PSI tak lagi jadi rumah nyaman yang bisa diharapkan untuk ke depan bagi kadernya. Politik itu kalkulasinya untung rugi. Orang seperti Tsamara, Sunny, dan Surya pastinya rasional, tak mungkin terus menerus berada di PSI yang tak lolos ke Senayan. Pastinya nyari peluang baru di tempat lain,” kata Adi.

Sementara itu, Dosen Politik Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komaruddin menyebut, pilihan Surya Tjandra untuk mendukung Anies menjadi pertanda adanya kekecewaan di dalam PSI. Surya yang sebelumnya sempat menjabat sebagai Wakil Menteri ATR/BPN harus menyerahkannya kepada kader PSI lainnya yaitu Raja Juli Antoni.

“Ini bisa menjadi pertanda sebagai sebuah kekecewaan dari Surya Tjandra yang sebelumnya menjabat sebagai wamen. Ternyata kemudian diganti oleh sahabatnya sendiri yaitu Raja Juli Antoni," kata Ujang.

Ujang menambahkan, “Itu pasti kekecewaan karena seseorang yang sedang menjabat di tengah jalan harus dibredel dan menyerahkannya ke orang lain, sehingga pilihannya untuk melompat ke Anies menjadi suatu hal yang wajar.”


Baca juga artikel terkait PEMILU 2024 atau tulisan menarik lainnya Irfan Amin
(tirto.id - Politik)

Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Abdul Aziz

DarkLight