tirto.id - PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE) resmi menggandeng Toyota Motor Corporation untuk membangun pabrik bioetanol di Lampung dengan rencana konstruksi pada akhir tahun 2026. Proyek ini tidak hanya mencakup pembangunan fasilitas pengolahan berkapasitas 60.000 kiloliter per tahun, tetapi juga pengembangan 6.000 hektare perkebunan sorgum sebagai bahan baku energi bersih.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi, Todotua Pasaribu, membeberkan, rencana konstruksi akan dimulai pada kuartal III atau paling lambat kuartal IV 2026.
"Untuk first step-nya, planning-nya sekitar Q3-Q4 (kuartal III-kuartal IV) tahun ini kita akan mulai konstruksi untuk pembangunan plan etanolnya," kata Todotua, dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Jakarta Selatan, Senin (20/4/2026).
Bersamaan dengan itu, akan dibangun pula perkebunan budidaya sorgum seluas 6.000 hektare (ha).
Todotua menjelaskan, Lampung menjadi pilihan dibangunnya pabrik bioetanol karena di daerah tersebut banyak sumber bahan baku bioetanol, mulai dari tebu, ubi kayu atau singkong, hingga sorgum. Sementara, perkebunan budidaya sorgum dikembangkan sebagai bagian dari dukungan bahan baku bioetanol.
"Nah, berbicara terhadap itu, plan-nya, rencana yang akan di situ ... untuk start (mulai) penanaman itu 6.000 hektare untuk sorgum aja dulu. Itu untuk supporting. Karena ini nanti plan-nya akan menjadi plan multi-feedstock. Baik dari first generation maupun second generation [bahan baku bioetanol generasi satu dan generasi dua yang berasal dari residu pertanian]," tambah dia.
Dengan teknologi yang dimiliki Toyota, nantinya limbah tebu, singkong maupun sorgum bisa diolah kembali menjadi bahan baku bioetanol. Dus, pengembangan bahan bakar dengan energi bersih ini tidak akan mengganggu rencana pemerintah dalam mencapai swasembada pangan.
"Teknologi redit atau research development-nya dari Jepang yang mengandalkan etanol itu, mereka sudah masuk ke second generation. Kalau second generation itu artinya tidak lagi mengganggu ekosistem yang ada, untuk ketahanan pangan kita. Setidaknya, second generation di-combine dengan first generation ini akan berimbang," jelas Todotua.
Meski begitu, Todotua tidak menampik penggunaan tebu, singkong dan sorgum sebagai bahan baku bioetanol akan meningkatkan harga pangan nasional. Namun, sebagai gantinya Indonesia tidak akan kekurangan pasokan bioetanol, bahkan bisa menjadi salah satu penyedia bahan baku bahan bakar bersih terbesar di dunia.
"Jadi, for future ini juga nanti akan meningkatkan harga pangan kita. Tetapi pun, sebagai penyeimbangannya juga ada," tuturnya.
Kendati konstruksi pabrik sudah dimulai sejak akhir 2026, produksi bioetanol B50 dan juga E10 baru bisa dimulai pada 2028. Pada tahap awal, pabrik ini diproyeksikan memiliki kapasitas produksi mencapai 60.000 kiloliter per tahun.
Pada kesempatan yang sama, CEO Asia Region Toyota Motor Corporation, Masahiko Maeda menjelaskan selain turut serta dalam pembangunan pabrik bioetanol, Toyota juga akan menyesuaikan produk kendaraan dengan kebutuhan pasar serta kebijakan energi yang ditetapkan pemerintah.
"Posisi Toyota sejalan dengan pemerintah Indonesia. Sebagai produsen otomotif, kami bisa menyediakan solusi kendaraan yang sesuai, baik untuk mobil penumpang maupun kendaraan komersial. Pada akhirnya kami akan mengikuti arah kebijakan pemerintah dan menyediakan berbagai jenis kendaraan yang sudah kami miliki," kata Maeda.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id







































