Facebook Membuatmu Ingin Balikan dengan Mantan

Oleh: Yulaika Ramadhani - 1 Oktober 2017
Dibaca Normal 2 menit
Kalau tak mau mellow karena teringat masa lalu bersama mantan, unfriend dia sekarang juga.
tirto.id - Jadian lagi dengan mantan bukan hanya konsumsi remaja. Pasangan yang menikah pun bisa rujuk. Lihat saja yang terjadi dengan pasangan Vira Yuniar dan Teuku Ryan atau juga Aa Gym dengan Teh Ninih. Kedua pasangan itu menikah kembali setelah sempat bercerai.

Apa yang membuat orang cenderung mengharapkan kesempatan kedua dengan orang yang sama?

Baca juga: Mengapa Perceraian Terjadi?

Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK) bukan hanya dialami Vira Yuniar atau Aa Gym. Sejumlah pasangan yang telah memutuskan berpisah terkadang mempunyai kecenderungan untuk bersama kembali.

Survei situs kencan online Ellite Singles pada 200 responden Selandia Baru di tahun 2016 menemukan bahwa ada penyesalan yang dialami orang yang berpisah dengan pasangannya. Namun, tingkatannya berbeda pada laki-laki dan perempuan. Sebesar 43 persen responden laki-laki mengaku menyesal telah berpisah dengan pasangan mereka. Sementara itu, hanya 35 persen responden perempuan yang merasa menyesal.

Sebesar 38 persen responden menyatakan merasa bersalah terkait penyebab perpisahan yang terjadi. Survei tersebut juga menyatakan bahwa ada 46 persen responden mengalami ‘boomerang break up’ setelah berpisah dan mereka bersedia rujuk dengan mantan untuk menjajal kesempatan kedua.

Baca juga: Pasangan Humoris dan Resep Awet Menjalin Hubungan

Terkadang, motivasi seseorang menginginkan kehidupan lamanya lagi bersama mantan dilatarbelakangi emosi-emosi yang tumbuh saat berpisah. Emosi-emosi itu membumbung karena seseorang mengetahui kebiasaan yang dilakukan mantan. Satu di antaranya adalah kebiasaan ‘ingin tahu’ kehidupan mantan di masa sekarang alias kepo.

Dewasa ini, upaya tersebut semakin berkembang dengan semakin meningkatnya aktivitas warga internet di media sosial. Salah satunya adalah Facebook.

Tara C. Marshall di jurnal Cyberpsychology, Behavior and Social Networking (2012) turut membahas hubungan pasangan yang telah berpisah dengan penggunaan Facebook. Marshall menyatakan bahwa Facebook berpengaruh terhadap dinamika emosi pasangan yang telah putus/cerai.

Mantan pasangan yang masih berteman di Facebook mempunyai tekanan yang lebih besar dalam menghadapi perpisahan, emosi negatif yang lebih besar, hasrat seksual yang lebih tinggi, dan tingkat kerinduan terhadap mantan yang juga lebih besar. Sementara itu, mantan pasangan yang tidak berteman di Facebook cenderung lebih sehat menyikapi emosi-emosi yang timbul setelah perpisahan.

Baca juga: Membongkar Ketegangan antara Menantu-Mertua Wanita


Infografik Balikan sama mantan


Berdasarkan informasi yang mereka terima melalui media sosial itu, kebanyakan pasangan mengembangkan motivasi mereka untuk rujuk. Mulai dari alasan klise “Dia sudah berubah,” sampai keyakinan bahwa tidak ada pengganti yang lebih baik lagi selain sang mantan.

Sherri Myers, seorang terapis keluarga dan hubungan pernikahan menjelaskan bahwa di satu titik dua orang yang telah menjalin hubungan lama memerlukan waktu untuk beristirahat. Berpisah sejenak adalah salah satu cara yang terkadang terjadi.

“Terkadang short break (perpisahan sejenak) adalah satu-satunya hal yang dibutuhkan pasangan. Merasakan kehidupan yang baru dan kemudian merasakan kerinduan atas kehidupan hubungan lama yang hilang,” kata Myers.

Yang perlu diperhatikan ketika menjalani kehidupan fase kedua bersama orang yang sama adalah menjaga satu sama lain untuk tidak mengulang kesalahan yang sama, terlebih permasalahan yang membuat mereka berpisah. Itulah satu faktor krusial yang menentukan berhasil-tidaknya kehidupan bersama kedua atau pernikahan kedua.

Mort Fertel, penulis psikologi hubungan yang mempunyai reputasi internasional sebagai ‘penyelamat’ pernikahan, mengingatkan hal-hal yang perlu dipertanyakan lagi sebelum melakukan pernikahan kedua atau rujuk dengan mantan dengan orang yang sama.

Beberapa hal yang perlu dipertanyakan kembali, menurut Fertel, adalah apa prioritas utama pasangan Anda, apakah lebih memprioritaskan anak-anak atau pekerjaan? Apakah Anda dulu sering lupa memberi pujian dan membiarkan pasangan Anda menjadi tidak istimewa begitu saja? Apakah Anda lebih sering mengkritik pasangan Anda dibanding menghargai pencapaiannya? Apakah Anda sudah benar dan bijak mengelola kehidupan dan relasi di luar pernikahan Anda? Apakah Anda mampu mengendalikan perasaan Anda dan menempatkan pasangan dalam posisi yang setara dengan Anda?

Jika pertimbangan-pertimbangan tersebut telah menjadi perenungan bersama sampai kemudian didapatkan keputusan berdua untuk rujuk kembali, Mort Fertel juga menyarankan kepada pasangan untuk memperbaiki kehidupan baru mereka.

“Berhenti membicarakan semua masalah masa lalu dan fokus untuk membangun kebiasaan baik dan niat baik bersama-sama,” kata Fertel menegaskan.

Selain itu, kebiasaan baru juga dibutuhkan untuk mendukung berhasilnya kehidupan kedua tersebut. Contohnya adalah dengan melakukan perjalanan berdua, paling tidak 4 kali dalam setahun. Juga meluangkan waktu untuk berbicara secara pribadi dengan pasangan paling tidak selama 20 menit setiap malam.

Satu hal yang lain yang harus diminimalisir: mengkritik, mengeluh, dan memperlakukan pasangan seperti anak kecil. Sudah siap?

Baca juga artikel terkait FACEBOOK atau tulisan menarik lainnya Yulaika Ramadhani
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Yulaika Ramadhani
Penulis: Yulaika Ramadhani
Editor: Maulida Sri Handayani