Menuju konten utama

Era FOMO Sudah Mati, Selamat Datang Era Saintifikasi Belanja

Survei Tirto-Jakpat mengungkap hampir sembilan dari sepuluh responden (88,8%) menilai bukti ilmiah penting dalam membangun kepercayaan produk.

Era FOMO Sudah Mati, Selamat Datang Era Saintifikasi Belanja
Header Decode Jualan Pakai Sains, Emang Lebih Laku?. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Sebelum membeli produk perawatan kulit atau rambut, Nadin (24) punya kebiasaan yang kini tak pernah ia lewatkan: membaca daftar kandungan produk. Aktivitas yang mungkin hanya memakan beberapa menit itu menjadi semacam langkah wajib sebelum ia memutuskan membawa sebuah produk ke kasir atau menekan tombol checkout.

Perempuan yang baru lulus kuliah dan kini bekerja sebagai pegawai swasta tersebut mengaku tidak lagi mudah tergoda oleh kemasan menarik maupun janji hasil instan yang kerap ditawarkan iklan.

“Kalau dulu lihat kemasannya bagus atau banyak yang pakai langsung beli. Sekarang aku cek dulu kandungannya apa yang sesuai sama tipe kulit,” ujarnya kepada Tirto, Selasa (17/6/2026).

Selain memperhatikan komposisi, Nadin juga menjadikan status registrasi di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai salah satu pertimbangan utama. Meski demikian, ia mengakui pengaruh iklan media sosial belum sepenuhnya hilang dari proses pengambilan keputusannya.

“Kadang sih kemakan iklan tapi nggak sesering dulu. Ya yang penting (berlabel) BPOM,” kata Nadin.

Menurutnya, keberadaan klaim ilmiah atau label tertentu tidak selalu menjamin sebuah produk akan cocok digunakan. Pengalaman pribadi membuatnya lebih berhati-hati dalam menyikapi berbagai janji pemasaran.

“Karena kadang teruji klinis belum tentu ngaruh di kulit,” tambahnya.

Ilustrasi skincare

Ilustrasi skincare. FOTO/iStockphoto

Pengalaman serupa dialami Adi (30), seorang pekerja swasta yang mengaku selalu memeriksa kandungan produk skincare sebelum membeli. Bagi Adi, langkah tersebut bukan sekadar kebiasaan, melainkan kebutuhan karena ia memiliki jenis kulit yang sensitif.

Meski sering mengetahui sebuah produk dari iklan di media sosial maupun platform e-commerce, ia tidak langsung mempercayai promosi yang muncul di layar ponselnya.

“Awal taunya pasti karena iklan. Tapi pasti aku baca dulu kandungannya apa aja, karena kulitku kan sensitif,” ujarnya kepada Tirto.

Kesadaran itu lahir dari pengalaman yang kurang menyenangkan saat pertama kali mencoba berbagai produk perawatan wajah. Kala itu, ia mengaku sempat mengalami sejumlah masalah kulit, mulai dari jerawat berlebih hingga iritasi, karena belum memahami karakteristik kulitnya sendiri.

Pengalaman tersebut membuat Adi lebih selektif. Kini, ia cenderung lebih percaya pada produk yang menyertakan bukti ilmiah atau data pendukung dibanding produk yang hanya mengandalkan popularitas influencer maupun jargon pemasaran yang sedang tren.

Pengalaman Nadin dan Adi bukanlah kasus yang berdiri sendiri. Di tengah meningkatnya kesadaran konsumen untuk memeriksa kandungan dan kredibilitas produk, merek-merek juga semakin agresif mengadopsi narasi berbasis sains dalam strategi pemasaran mereka.

Konsumen Kian Akrab dengan Narasi Sains

Narasi ilmiah tampaknya semakin mendominasi ruang iklan digital. Penelusuran Tirto melalui Meta Ad Library menunjukkan peningkatan signifikan penggunaan istilah berbasis sains dalam materi promosi berbagai merek di media sosial.

Indikator yang digunakan mencakup kata kunci seperti “uji klinis”, “dermatologically tested/teruji dermatologi", “berdasarkan riset”, “formulasi ahli”, “data laboratorium”, hingga “kandungan aktif X persen”, termasuk visual yang menampilkan laboratorium, grafik penelitian, maupun proses riset.

Salah satu lonjakan terlihat pada penggunaan istilah “uji klinis”. Dalam periode 17 Juni 2023 hingga 17 Juni 2026, Tirto menemukan 320 iklan yang menggunakan kata kunci tersebut. Jumlah itu meningkat lebih dari tiga kali lipat dibanding periode 17 Juni 2019 hingga 17 Juni 2023 yang hanya mencatat 88 iklan.

Jika diurai per tahun, kenaikannya bahkan terlihat lebih dramatis. Pada periode 2023–2024 hanya ditemukan 10 iklan yang memuat istilah “uji klinis”. Angka itu naik tipis menjadi 11 iklan pada periode 2024–2025, sebelum melonjak tajam menjadi 300 iklan sepanjang 2025–2026.

Tren serupa terlihat pada penggunaan frasa “berdasarkan riset”. Sepanjang Juni 2023 hingga Juni 2026, terdapat sekitar 1.300 iklan yang menggunakan istilah tersebut, jauh lebih tinggi dibanding periode Juni 2019 hingga Juni 2023 yang hanya mencatat 190 iklan.

Lonjakan itu juga tampak ketika data dipecah per tahun. Pada 2023–2024 terdapat sekitar 150 iklan yang menggunakan kata kunci tersebut. Jumlahnya meningkat menjadi 130 iklan pada periode berikutnya dan mencapai puncak sebanyak 940 iklan sepanjang Juni 2025 hingga Juni 2026.

Secara konsisten, pola serupa juga ditemukan pada kata kunci berbasis sains lainnya seperti “kandungan aktif” dan “teruji dermatologi”. Untuk istilah “kandungan aktif”, misalnya, Tirto menemukan sekitar 3.000 iklan pada periode Juni 2025–Juni 2026, meningkat tajam secara tahunan dibanding tahun sebelumnya yang hanya berjumlah 82 iklan.

Perlu dicatat, pengambilan data dilakukan pada 17 Juni 2026 melalui Meta Ad Library, basis data publik milik Meta yang menampilkan iklan aktif maupun arsip iklan dari seluruh platformnya, termasuk Instagram, Facebook, Messenger, dan Audience Network.

Peningkatan penggunaan narasi berbasis sains oleh berbagai merek juga berkelindan dengan temuan survei Tirto bersama Jakpat terhadap 1.250 responden pada 17 Juni 2026 bertajuk “The Science of Buying: Bagaimana Science & Publikasi Ilmiah Berdampak pada Belanja

Survei tersebut menunjukkan mayoritas masyarakat mengaku semakin sering terpapar iklan yang menggunakan istilah seperti “teruji klinis”, “berdasarkan riset”, “dermatologically tested/teruji dermatologi”, maupun “direkomendasikan ahli”.

Sebanyak 64,7 persen responden menyatakan sangat sering atau cukup sering melihat iklan dengan klaim semacam itu dalam setahun terakhir. Rinciannya, 24,40 persen mengaku sangat sering, sementara 40,32 persen cukup sering. Hanya 11,1 persen responden yang mengaku jarang atau bahkan tidak pernah menemukannya.

Sains Menjadi Sumber Kepercayaan Baru

Tingginya paparan terhadap iklan berbasis sains tampaknya berjalan beriringan dengan meningkatnya tingkat kepercayaan konsumen terhadap klaim-klaim ilmiah yang digunakan merek.

Survei Tirto bersama Jakpat menunjukkan hampir enam dari sepuluh responden, atau 59,7 persen, mengaku cukup percaya hingga sangat percaya terhadap produk yang menggunakan istilah ilmiah dalam komunikasinya. Temuan ini mengindikasikan bahwa narasi sains kini tidak lagi sekadar menjadi pelengkap materi promosi, melainkan mulai berfungsi sebagai penanda kredibilitas di mata konsumen.

Meski demikian, kepercayaan tersebut tidak bersifat mutlak. Sebanyak 34,9 persen responden memilih bersikap netral. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar konsumen tidak serta-merta menerima semua klaim yang mengatasnamakan sains. Namun, mereka tetap memandangnya sebagai sinyal penting yang dapat membantu menilai kualitas sebuah produk.

Kecenderungan tersebut terlihat lebih kuat ketika responden ditanya mengenai faktor yang menentukan kredibilitas produk. Hampir sembilan dari sepuluh responden (88,8 persen) menyatakan bahwa bukti ilmiah merupakan unsur yang penting atau sangat penting dalam membangun kepercayaan terhadap suatu produk. Bahkan, lebih dari separuh responden (50,7 persen) menilai faktor tersebut sangat penting.

Sebaliknya, hanya kurang dari dua persen responden yang menganggap bukti ilmiah tidak terlalu penting atau sama sekali tidak penting. Temuan ini memperlihatkan bahwa bagi banyak konsumen, sains tidak lagi dipandang semata sebagai bahasa pemasaran, melainkan telah menjadi bagian dari proses evaluasi sebelum mengambil keputusan pembelian.

Viral Tetap Menjual, tetapi Tidak Selalu Memuaskan

Meski semakin menghargai bukti ilmiah, konsumen ternyata belum sepenuhnya lepas dari pengaruh tren dan viralitas di media sosial. Sebanyak 82,6 persen responden mengaku pernah membeli produk karena sedang viral atau ramai diperbincangkan. Angka ini menunjukkan bahwa popularitas masih memiliki daya tarik yang besar dalam mendorong keputusan pembelian.

Namun, pengalaman setelah membeli produk viral justru menghadirkan cerita yang berbeda. Dari kelompok responden yang pernah membeli produk karena tren, hampir 89 persen mengaku setidaknya pernah merasa kecewa. Bahkan, lebih dari separuh responden (51 persen) menyatakan pengalaman tersebut terjadi berulang kali.

Sumber kekecewaan terbesar berasal dari persoalan kualitas. Sebanyak 74,7 persen responden menilai kualitas produk yang mereka beli tidak sesuai dengan ekspektasi yang dibangun sebelumnya. Selain itu, 47,8 persen merasa klaim yang disampaikan produk terlalu berlebihan, sementara 41,8 persen menyebut produk tidak memberikan manfaat sebagaimana yang dijanjikan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan terletak pada viralitas itu sendiri. Yang menjadi masalah adalah kesenjangan antara ekspektasi yang dibangun melalui pemasaran dengan pengalaman nyata yang dirasakan konsumen setelah menggunakan produk.

Semakin sering konsumen menemukan ketidaksesuaian antara janji dan realitas, semakin besar pula kebutuhan mereka terhadap indikator yang dianggap lebih objektif, terukur, dan dapat diverifikasi. Di titik inilah narasi ilmiah menemukan momentumnya.

Bukti Ilmiah Menjadi Sinyal Kualitas

Survei Tirto dan Jakpat menunjukkan bahwa sebagian konsumen mulai menempatkan bukti ilmiah sebagai salah satu pertimbangan utama dalam proses berbelanja. Di antara responden yang pernah secara sengaja membeli produk karena adanya riset atau bukti ilmiah yang dipublikasikan merek, sembilan dari sepuluh orang menilai produk tersebut memiliki kualitas yang lebih baik dibanding produk viral yang tidak menyertakan dukungan riset.

Sebanyak 50 persen responden bahkan menyatakan produk berbasis ilmiah yang mereka beli terasa jauh lebih efektif atau berkualitas. Sementara itu, 40,2 persen lainnya menilai kualitasnya sedikit lebih baik. Hanya sekitar satu dari sepuluh responden yang menganggap kualitasnya sama saja atau bahkan lebih buruk.

Pengaruh narasi ilmiah juga tidak berhenti pada persepsi kualitas. Data survei menunjukkan bahwa konsumen relatif bersedia membayar lebih mahal untuk produk yang dianggap memiliki dasar ilmiah yang jelas dan dapat diverifikasi.

Sebanyak 90,7 persen responden mengaku bersedia membayar harga premium untuk produk yang didukung bukti ilmiah yang dapat diperiksa kebenarannya. Mayoritas bersedia mengeluarkan biaya tambahan sekitar 5 hingga 10 persen dibanding produk sejenis yang tidak memiliki dukungan bukti yang jelas.

Secara rinci, 36,72 persen responden menyatakan bersedia membayar hingga lima persen lebih mahal. Sebanyak 32,40 persen bersedia membayar hingga 10 persen lebih mahal. Bahkan, 13,28 persen responden rela membayar hingga 20 persen lebih mahal, sementara 8,32 persen lainnya bersedia membayar lebih dari 20 persen ekstra.

Hanya 9,28 persen responden yang menyatakan tidak bersedia membayar lebih. Temuan ini mengisyaratkan bahwa bukti ilmiah bukan hanya memengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas produk, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang nyata. Bagi sebagian konsumen, legitimasi ilmiah telah menjadi faktor yang cukup kuat untuk membenarkan harga yang lebih tinggi.

Ketika Sains Berhadapan dengan Pemengaruh

Perubahan preferensi konsumen terlihat semakin jelas ketika responden diminta memilih di antara dua produk dengan harga yang sama. Produk pertama digambarkan sebagai produk yang telah melalui pengujian laboratorium dan diformulasikan berdasarkan hasil riset. Sementara produk kedua mengandalkan popularitas, viralitas, dan dukungan para influencer.

“Produk A:"Diformulasikan berdasarkan riset dan telah melalui pengujian laboratorium.

"Produk B:"Sedang viral dan digunakan banyak influencer."

"Produk mana yang lebih mungkin Anda pilih?”

Hasilnya menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok. Sebanyak 84,1 persen responden memilih produk yang menonjolkan hasil riset dan pengujian laboratorium. Sebaliknya, hanya 6,4 persen yang memilih produk yang mengandalkan influencer dan viralitas sebagai daya tarik utama. Sementara 9,52 persen lainnya menyatakan akan memilih berdasarkan harga atau promosi yang tersedia saat itu tanpa mempertimbangkan kedua faktor tersebut.

Temuan lain mengungkap sumber kepercayaan yang paling berpengaruh dalam menilai klaim sebuah produk. Ketika diminta menyebut bukti yang paling membuat mereka percaya terhadap suatu produk, responden paling banyak memilih data penelitian atau hasil uji klinis. Sebanyak 31,43 persen responden menempatkan faktor tersebut di urutan pertama.

Di bawahnya, 26,67 persen responden lebih mempercayai ulasan dari konsumen lain, sementara 20,95 persen mengandalkan rekomendasi langsung dari ahli seperti dokter atau saintis. Sebaliknya, hanya 2,86 persen responden yang menganggap rekomendasi influencer sebagai faktor yang paling meyakinkan. Bahkan, tidak ada satu pun responden yang memilih popularitas produk di media sosial sebagai bukti yang paling dapat dipercaya.

Temuan ini menunjukkan bahwa meski influencer masih berperan dalam menciptakan perhatian, sumber legitimasi yang dianggap paling kuat oleh konsumen mulai bergeser ke arah bukti yang dapat diverifikasi.

Pergeseran tersebut semakin terlihat ketika responden diminta memprediksi strategi pemasaran yang akan paling efektif dalam beberapa tahun mendatang. Menariknya, mayoritas responden tidak memilih influencer, viralitas media sosial, ataupun perang harga sebagai faktor utama yang akan menentukan keberhasilan sebuah merek.

Sebanyak 53,1 persen responden meyakini bahwa strategi yang paling menjanjikan adalah inovasi yang didukung bukti ilmiah dan edukasi konsumen. Angka ini jauh melampaui mereka yang memilih viralitas media sosial (18,7 persen) maupun influencer (6,2 persen).

Narasi Sains Jadi Simbol Kredibilitas

Maraknya penggunaan istilah seperti “uji klinis”, “berdasarkan riset”, hingga “dermatologically tested” dalam iklan media sosial bukan sekadar mengikuti tren pemasaran yang sedang berkembang. Di balik pilihan diksi tersebut, terdapat strategi komunikasi yang dirancang untuk membangun persepsi bahwa sebuah produk memiliki dasar ilmiah sehingga lebih layak dipercaya dibanding produk lain yang hanya mengandalkan popularitas atau citra semata.

Dosen Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM), Syaifa Tania, menjelaskan bahwa narasi berbasis sains merupakan salah satu bentuk advertising message appeal yang menggunakan pendekatan logis atau logical appeal. Dalam teori retorika komunikasi publik, pendekatan ini dikenal sebagai logos, yakni upaya mempersuasi audiens melalui data, fakta, maupun argumen yang tampak rasional.

“Narasi berbasis sains merupakan salah satu pendekatan dalam advertising message appeal. Terdapat sejumlah message appeal dalam substansi konten iklan, salah satunya adalah logical appeal yang ditunjukkan misalnya dengan menggunakan narasi sains agar nampak meyakinkan dan rasional,” ujar Syaifa kepada Tirto, Jumat (19/6/2026).

Menurut Tania, penggunaan istilah ilmiah pada dasarnya merupakan cara yang ditempuh merek untuk membangun fondasi logis dalam pesan pemasaran mereka. Dengan menampilkan hasil riset, pengujian laboratorium, atau klaim ilmiah tertentu, merek berupaya memperkuat alasan bagi konsumen untuk mempercayai produk yang ditawarkan.

“Iklan yang menggunakan istilah berbasis narasi sains tersebut berupaya untuk membangun bukti logis agar dapat mempersuasi target konsumennya,” katanya.

Penjelasan tersebut sejalan dengan hasil survei Tirto dan Jakpat yang menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan publik terhadap narasi ilmiah. Sebanyak 59,68 persen responden mengaku cukup percaya hingga sangat percaya terhadap iklan yang menggunakan istilah berbasis sains. Sementara itu, hampir 89 persen responden menilai bukti ilmiah merupakan faktor penting dalam menentukan kredibilitas sebuah produk.

Namun, Tania yang saat ini juga menjabat sebagai Executive Secretary di Center for Digital Society (CfDS) UGM, menilai tingginya tingkat kepercayaan tersebut tidak serta-merta berarti konsumen memahami secara mendalam substansi ilmiah yang disampaikan dalam iklan. Dalam banyak kasus, istilah seperti “teruji klinis” atau “berdasarkan riset” justru berfungsi sebagai penanda cepat yang membantu konsumen membentuk persepsi mengenai kualitas suatu produk.

“Klaim ilmiah yang disampaikan dalam narasi iklan dapat berperan sebagai petunjuk atau penanda cepat bagi audiens untuk membentuk persepsinya terhadap kualitas produk,” ujarnya.

Dalam kajian psikologi konsumen, fenomena tersebut dikenal sebagai heuristic processing, yakni kecenderungan individu menggunakan petunjuk sederhana untuk mengambil keputusan ketika dihadapkan pada informasi yang kompleks atau terlalu banyak.

Menurut Syaifa, konsumen tidak selalu memiliki waktu, kemampuan, maupun sumber daya untuk memverifikasi seluruh klaim yang mereka temui. Karena itu, mereka cenderung menggunakan sinyal-sinyal tertentu yang dianggap dapat mewakili kualitas produk secara lebih praktis.

“Ketika berhadapan dengan informasi yang cukup kompleks, konsumen cenderung mencari penanda atau petunjuk sederhana yang membuat mereka dapat memahami kualitas atau informasi produk dengan lebih mudah (heuristic processing). Misalnya, lewat klaim saintifik ini,” katanya.

Di satu sisi, kondisi tersebut menjelaskan mengapa istilah ilmiah semakin efektif digunakan dalam komunikasi pemasaran. Namun di sisi lain, tren ini juga membawa konsekuensi yang perlu diwaspadai.

Syaifa mengingatkan bahwa penggunaan narasi sains secara berlebihan berpotensi mengikis makna istilah ilmiah itu sendiri. Ketika hampir semua merek mengklaim produknya berbasis riset atau teruji secara ilmiah, konsumen justru akan semakin kesulitan membedakan mana klaim yang benar-benar didukung bukti dan mana yang hanya menjadi jargon pemasaran.

“Tentu saja, penggunaan berlebihan istilah saintifik secara berlebihan dan tidak terkontrol dapat menghilangkan makna sesungguhnya. Jika semua merek mengklaim produknya secara ilmiah maka konsumen akan semakin kesulitan membedakan mana yang betul-betul berbasis ilmiah dan mana yang tidak,” jelasnya.

Risiko lain yang muncul adalah berkembangnya praktik pseudoscience atau pseudosains, yakni penggunaan simbol, istilah, maupun klaim ilmiah tanpa didukung bukti yang memadai. Dalam praktiknya, pendekatan semacam ini sering digunakan untuk membangun kesan kredibel tanpa benar-benar menyediakan landasan ilmiah yang dapat diverifikasi.

“Risiko pseudoscience yang menggunakan istilah, simbol, atau klaim ilmiah tanpa bukti memadai dapat menghilangkan makna saintifik yang sesungguhnya,” ujar Syaifa.

Karena itu, transparansi menjadi aspek yang tidak bisa dipisahkan dari penggunaan narasi sains dalam komunikasi pemasaran. Menurut Tania, sebuah merek tidak cukup hanya menyebutkan bahwa produknya telah melalui riset atau pengujian tertentu. Mereka juga perlu menjelaskan sumber, metode, waktu pelaksanaan, hingga konteks penelitian yang digunakan sebagai dasar klaim.

Ia mengingatkan bahwa prinsip tersebut sejatinya telah diatur dalam Etika Pariwara Indonesia. Regulasi tersebut menegaskan bahwa istilah ilmiah tidak boleh digunakan secara menyesatkan dan klaim berbasis penelitian harus dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka.

Dengan kata lain, meningkatnya penggunaan narasi sains memang berpotensi memperkuat kredibilitas produk di mata konsumen. Namun, tanpa transparansi dan evidensi yang memadai, strategi komunikasi tersebut justru dapat berbalik arah: mengikis kepercayaan publik terhadap klaim ilmiah yang selama ini menjadi sumber legitimasi baru dalam pemasaran.

Belanja Makin Berbasis Sains, Tapi Tetap Dikendalikan Emosi

Meski bukti ilmiah semakin menjadi rujukan penting dalam proses pengambilan keputusan, bukan berarti konsumen sepenuhnya berbelanja secara rasional. Pakar Perilaku Konsumen sekaligus Managing Partner Inventure, Yuswohady, menilai perubahan perilaku konsumen saat ini bergerak dalam dua arah sekaligus.

Di satu sisi, konsumen semakin rasional dan semakin mengandalkan data. Namun di sisi lain, pengaruh lingkungan sosial justru tetap menjadi faktor yang sangat kuat dalam menentukan keputusan akhir.

“Perilaku konsumen bergeser ke dua cabang. Yang pertama karena mereka menjadi lebih rasional. Mereka semakin science-based. Apalagi sekarang AI. Dengan kita tanya ChatGPT komposisi atau karakteristik satu produk, dengan satu prompt saja sudah terjawab banyak sekali,” kata Yuswohady kepada Tirto, Rabu (17/6/2026).

Kemunculan kecerdasan buatan, menurutnya, membuat akses terhadap informasi ilmiah menjadi jauh lebih mudah dibanding sebelumnya. Konsumen kini dapat membandingkan kandungan produk, mencari referensi penelitian, hingga mengecek klaim pemasaran hanya dalam hitungan detik.

Namun, kemudahan tersebut tidak serta-merta membuat keputusan belanja menjadi lebih sederhana. Alih-alih menghasilkan konsumen yang sepenuhnya rasional, banjir informasi justru memunculkan fenomena baru berupa information overload. Ketika terlalu banyak informasi tersedia, konsumen sering kali mengalami kelelahan dalam mengambil keputusan.

“Ketika banyak informasi, mereka malah jadi fatigue, malah nggak bisa mengambil keputusan. Nah, karena nggak bisa mengambil keputusan, maka yang dia lakukan adalah yang namanya social proof. Kalau orang banyak beli A, maka aku ikutan beli A,” ujar Yuswohady.

Dalam situasi seperti itu, rekomendasi dari orang lain sering kali menjadi jalan pintas yang dianggap paling praktis. Konsumen tidak lagi hanya mengandalkan hasil pencarian informasi mereka sendiri, tetapi juga melihat apa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya.

Fenomena ini dikenal sebagai social proof, yakni kecenderungan seseorang menganggap sebuah pilihan lebih benar atau lebih baik ketika pilihan tersebut juga diambil oleh banyak orang lain. Menurut Yuswohady, pengaruh faktor sosial bahkan sangat kuat dalam konteks Indonesia yang memiliki budaya kolektif dan tingkat interaksi sosial yang tinggi.

“Malah saya kalau melihat di Indonesia itu orang mengambil keputusan pembelian lebih banyak di-drive faktor sosial. Karena orang kita suka bersosialisasi, suka berkumpul, suka desas-desus. Makanya Twitter, Instagram, atau TikTok di Indonesia termasuk yang teraktif di dunia,” katanya.

Akibatnya, keputusan membeli tidak pernah sepenuhnya ditentukan oleh satu faktor saja. Seseorang bisa saja telah melakukan riset mendalam dan menyimpulkan bahwa suatu produk lebih unggul secara ilmiah. Namun keputusan itu dapat berubah ketika ia mendengar pengalaman negatif dari teman, keluarga, atau komunitas yang ia percayai.

“Misalnya dari analisis dia brand B lebih bagus. Tapi ketika dia lihat di WA Group atau Instagram ada teman ngomong pengalaman dia terhadap brand B jelek, dia bisa dengan mudah shifting ke brand A,” ujar Yuswohady.

Baca juga artikel terkait PRODUK atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Decode
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Alfitra Akbar