Menuju konten utama

Ekskul Roblox untuk Pelajar di Solo, Bagaimana Dampaknya?

Dampak nyata dari kegiatan Edublox masih harus ditelaah lebih lanjut, sebelum direplikasi di daerah lainnya di Indonesia.

Ekskul Roblox untuk Pelajar di Solo, Bagaimana Dampaknya?
Ekstrakurikuler Roblox bagi murid SMP se-Surakarta yang ingin belajar lewat permainan Roblox. (FOTO/Adisti Daniella)

tirto.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta baru-baru ini meluncurkan program ekstrakurikuler Roblox bagi pelajar, yang dinamakan Edublox atau Edukasi Roblox. Program ini tersedia bagi murid SMP se-Surakarta yang ingin belajar lewat permainan Roblox.

Program ekstrakurikuler Roblox ini diadakan di Solo Technopark, dan dimulai sejak Rabu (10/9/2025). Kegiatannya diadakan pada pukul 14.30-16.30, dengan kuota pertama sebanyak 20 orang.

Terdapat tiga sesi dalam kegiatan ekstrakurikuler ini, dengan masing-masing sesi berisi materi berupa etika bermain game.

“Jadi, misalkan tidak menggunakan kata-kata yang negatif, dan tidak mengandung unsur suku, agama, ras, dan antar golongan atau SARA,” kata Yudit Cahyantoro, Pemimpin BLUD Kawasan Sains dan Teknologi Solo Technopark.

Pada hari pertama pelaksanaan kegiatan Edublox, puluhan siswa dari berbagai sekolah sangat antusias untuk ambil bagian. Ruangan yang dijadikan tempat kegiatan penuh disesaki para peserta yang membludak.

“Iya, [para siswa sangat] antusias. Pertemuan pertama itu sampai overload,” ujar Tim Teknis Edublox Solo Technopark, Agus Jatmiko, dalam panggilan telepon kepada Tirto, Selasa (16/9/2025).

Pada sesi pertama kegiatan Edublox, Agus menjelaskan, para siswa terlebih dahulu diajak bersenang-senang dengan bermain di salah satu mode permainan pada gim Roblox yang cukup populer, yakni mendaki gunung.

Game Roblox

Game Roblox. (Instagram/roblox)

Di sesi kedua dan ketiga, para siswa kemudian mulai dikenalkan pentingnya kerja sama tim dalam mode-mode gim lainnya yang menuntut kebersamaan. Tak hanya itu, mereka juga diharapkan dapat berjejaring dengan sesama siswa dari sekolah-sekolah lain.

“Nanti [para siswa] ngelatih kerja sama, jadi dapat relasi baru, teman baru, kayak gitu,” tutur Agus.

Khusus Siswa SMP

Walikota Surakarta, Respati Ardi, mengungkap alasan meluncurkan kegiatan ini khusus untuk siswa SMP. Menurutnya, gim Roblox belum tepat jika harus diterapkan pada anak-anak usia sekolah dasar.

“Dan memang kalau harapan saya jangan di usia dini, Roblox ini memang seharusnya di usia SMP yang menuju remaja. Saya menyarankan, jangan anak-anak. Kami fokus untuk siswa SMP,” katanya Selasa (9/9/10) kepada wartawan.

Respati Ardi

Wali Kota Surakarta, Respati Ardi berencana terapkan kebijakan pengiriman warga bermasalah hukum ke barak militer seperti yang dilakukan Gubernur Jabar Dedi Mulyadi. tirto.id/Febri

Ia juga menambahkan, bahwa ketika Roblox digunakan atau diajarkan dengan tepat, gim ini dinilai bisa jadi sarana edukasi bagi siswa SMP.

“Jadi Roblox tak hanya negatifnya saja, tetapi jika diajarkan dengan tepat, bisa menjadi edukasi. Kita tidak bisa menghindari gim digital,” jelasnya.

SMP Negeri 9 Surakarta menjadi salah satu SMP di Solo yang juga mendukung adanya kegiatan ekstrakurikuler Edublox ini. Sri Hastuti, selaku humas SMPN 9, menyambut baik kegiatan yang diluncurkan walikota Surakarta tersebut. Menurutnya, kegiatan bisa jadi ajang untuk meningkatkan kreativitas siswa.

SMPN 9 Surakarta belum mengetahui jumlah pasti siswa yang mengikuti ekstrakurikuler Edublox di sekolah tersebut. Sri Hastuti menyebut timing informasi diluncurkannya kegiatan Edublox berbarengan dengan agenda Penilaian Tengah Semester (PTS) di sekolah.

“Sosialisasi masih minim, karena anak-anak baru fokus (melaksanakan) PTS. Kemungkinan banyak (yang ikut) tapi nanti kita lihat. Nanti kami sosialisasikan lagi,” terangnya, Senin (15/9/25) pada Tirto.

Game Roblox

Game Roblox. (FOTO/roblox)

Sejauh ini baru ada dua siswa yang melapor ke pihak sekolah, yakni Alif dan Kaka. Keduanya merupakan siswa kelas 8. Alif dan Kaka bercerita, mereka telah mendaftar dan sedang menunggu giliran sesi mereka. Alasan mereka tertarik mengikuti Edublox karena kecintaan mereka pada gim online.

“Awalnya penasaran, ini kok ada ekskul Roblox, kemudian coba ikut. Ijin orang tua, boleh,” cerita Alif.

“Disuruh teman (ikut Edublox) dan dibolehin orang tua. Saya suka hampir semua game. Suka main game-nya,” sahut Kaka.

Terkhusus Alif, kecintaannya pada gim online juga seiring dengan keinginannya untuk menjadi content creator. Ia mengaku telah memiliki impian itu sejak duduk di sekolah dasar.

“Dari SD suka kepikiran pengin jadi content creator. Tiap Sabtu, stream di TikTok,” ceritanya saat ditemui Tirto, Senin (15/9/25).

Mereka mengungkap telah memainkan permainan Roblox sejak lama; Alif sejak 2016, sedangkan Kaka sejak 2019. Alif mengaku tertarik dengan Roblox karena ia dapat dengan mudah mencari teman tanpa harus bertemu secara langsung.

Potensi yang Harus Dioptimalkan

Sujoko, akademisi psikologi pendidikan Universitas Setia Budi Surakarta menegaskan bahwa kegiatan ekstrakurikuler sejatinya adalah untuk mengembangkan bakat dan minat siswa. Untuk itu, pemerintah maupun sekolah sudah seharusnya melakukan screening terhadap potensi siswa sehingga mereka dapat terfasilitasi dengan baik dan optimal.

"Biasanya kegiatan ekstrakurikuler bersifat top down. Terkadang tidak semua potensi siswa terfasilitasi dengan jenis kegiatan ekstrakurikuler di sekolah," ujarnya saat ditemui Tirto, Selasa.

Menanggapi program ekstrakurikuler Edublox, Sujoko menyebut tidak ada persoalan yang berarti jika memang kegiatan ini diperuntukkan bagi siswa yang sungguh-sungguh berminat mempelajari permainan Roblox.

Yang jadi masalah adalah ketika kebijakan ini diterapkan di seluruh SMP di Solo dan wajib diikuti oleh semua siswa. Sebab, menurutnya, akan sangat mungkin siswa yang tidak berminat terpaksa harus mengikuti kegiatan tersebut. Selain itu, akan ada anggaran lain yang harus disiapkan orang tua, mulai dari gawai baru, perangkat lunak dan biaya lain.

"Itu (ekstrakurikuler Edublox) bisa dijadikan sarana untuk memfasilitasi anak siswa SMP di Solo yang memang passion-nya di situ. Menurut saya oke karena itu tidak dipaksakan," tambahnya.

Ilustrasi Anak Bermain Game

Ilustrasi anak bermain game online. FOTO/iStockphoto

Menurut Sujoko, permainan Roblox juga dapat menstimulasi kecerdasan logika matematika dan spasial yang dimiliki anak. Meskipun demikian, Sujoko memiliki catatan, terutama bagi para orang tua, untuk tetap bijak dalam mengawasi anak bermain gim.

Tak bisa dipungkiri, di era kini, menjamurnya gim online tidak bisa dihindari. Namun, orang tua juga tidak boleh lengah dalam mengawasi dan mendampingi anak agar bisa meminimalisir dampak negatif dari gim online.

Perlu diketahui, sebelumnya, pada bulan Agustus, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak agar Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) memblokir gim Roblox. Bahkan, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, menyampaikan bahwa Roblox dinilai berpotensi menyebarkan konten kekerasan yang tidak pantas untuk anak.

Ilustrasi Bermain Game di Ponsel

Ilustrasi bermain game di ponsel. FOTO/iStockphoto

Sujoko percaya bahwa akan ada anak yang memiliki potensi di bidang teknologi informatika atau programming yang memang harus difasilitasi untuk mengoptimalkan potensi mereka. Yang sering jadi tantangan, anak-anak di rentang usia SMP belum bisa mengidentifikasi potensi yang ada pada diri mereka. Di sinilah peran sekolah diharapkan untuk bisa melakukan tes psikologi bakat dan minat bagi siswa.

Dalam konteks Edublox, penyelenggara dapat menambah syarat berupa melampirkan hasil tes bakat dan minat tersebut sehingga siswa yang berpotensi benar-benar dapat terfasilitasi dengan baik.

"Karena akan berbeda antara berpotensi dengan yang hanya sekedar suka atau pengen aja. Apakah bisa (bermain gim) sama dengan potensi? Karena terkadang potensi performanya tidak menonjol karena tidak kelihatan, sehingga butuh sentuhan ahli atau praktisi psikologi untuk tes potensi minat bakat untuk bantu mengarahkan," tandasnya.

Ekskul Roblox Dinilai Langkah yang Keliru

Di sisi lain, Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri, menilai bahwa kebijakan Pemkot Solo untuk menggelar ekstrakurikuler Edublox sebagai langkah yang keliru. Menurut Iman, tidak ada dasar pedagogis tertentu yang dijadikan dasar dari kegiatan itu.

Iman khawatir, kegiatan itu hanya bersifat reaktif terhadap gim Roblox yang tengah ramai diperbincangkan di tengah masyarakat. Baginya, kegiatan yang berada di lingkup pendidikan semestinya mengedepankan perspektif keilmuan sebagai dasar.

“Jadi lebih banyak negatifnya, makanya kami bingung kenapa Pemerintah Kota [Solo] ini malah mendukung hal semacam ini,” ungkapnya kepada Tirto, Selasa.

Pemerintah, menurut Iman, seharusnya lebih berfokus pada kegiatan-kegiatan yang memantik daya inovasi anak, terutama di tengah perubahan ekosistem digital yang begitu masif saat ini. Kegiatan-kegiatan itu bisa berupa cara pemanfaatan teknologi akal imitasi/artificial intelligence (AI) hingga teknologi robotik dengan baik.

Sedangkan dengan adanya kegiatan yang mendorong anak untuk bermain gim seperti Roblox, bagi Iman, hal itu justru tidak selaras dengan penanaman semangat inovasi. Ia menyebut, gim Roblox berpotensi mengganggu tumbuh kembang anak, karena berbagai hal negatif yang terkandung di dalamnya.

“Jadi menurut kami sangat tidak bijak ya, memberikan celah permainan Roblox yang sangat luas kepada anak-anak terutama anak SMP. Jadi saya kira ini harus dikhawatirkan sekali,” tegasnya.

Iman menguraikan sejumlah bahaya yang dihadapi anak dalam gim Roblox. Pertama, ia mengatakan anak rentan terpapar konten dan interaksi dengan para pengguna lain yang tidak terkontrol. Kedua, privasi data pribadi anak juga terancam, mengingat mereka harus menyerahkan berbagai data pribadi kepada pihak aplikasi saat mendaftarkan diri sebelum bermain gim.

Ketiga, bahaya yang dihadapi adalah monetisasi di dalam gim yang berisiko mendorong anak menjadi sangat konsumtif dan terorientasi oleh uang. Pasalnya, beberapa akses dan aksesoris tertentu di dalam gim baru bisa didapatkan setelah pengguna merogoh koceknya.

“Sangat bernafsu untuk mendapatkan ataupun membeli akses ke gim tertentu, membeli aksesorisnya, dan lain sebagainya. Ini sangat tidak mendidik sekali menurut kami. Dan itu juga ya, akan adanya FOMO ya, merasa dikucilkan oleh teman-temannya karena sudah memiliki item-item terbaru gitu kan,” paparnya.

Dampak negatif terakhir yang bisa dihadapi oleh anak adalah menurunnya kesehatan fisik akibat terlalu lama bermain gim dan menatap layar gawai. Tak hanya kesehatan fisik, kesehatan mental juga bisa terdampak akibat tidak terpenuhinya rasa kepuasan anak saat bermain gim.

Iman menerangkan, kebijakan penyelenggaraan kegiatan Edublox juga bertentangan dengan semangat menjauhkan anak dari paparan gawai secara berlebih. Dengan kegiatan itu, anak justru akan semakin lekat dengan gawainya, dan bisa saja memiliki waktu layar yang tinggi akibat kecanduan bermain gim.

“Kalau kita berpikir bahwa menyibukkan anak-anak kita dengan perangkat digital untuk menghindari ketergantungan mereka bermain gadget, itu sebetulnya seperti jeruk makan jeruk ya. Itu tidak akan menghentikan mereka ketergantungan dengan bermain gadget,” ucapnya.

Untuk mengurangi kecanduan bermain gawai, Iman menyarankan anak dapat didorong untuk melakukan aktivitas fisik secara luring. Dengan begitu, anak akan terpapar oleh sinar matahari dan motoriknya dapat lebih terlatih.

“Yang sebetulnya dibutuhkan oleh anak-anak kita, apalagi usia SMP ya, yang secara motorik mereka masih harus terus berkembang, meloncat, berlari, berkeringat, di bawah sinar matahari,” tukasnya.

Mengurangi Sisi Negatif Roblox lewat Ekskul

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Diyah Puspitarini, menegaskan bahwa sejak awal, KPAI selalu meminta pemerintah untuk melarang gim Roblox beredar di jagat maya Indonesia. Pasalnya, banyak dampak negatif yang bisa dialami oleh anak melalui gim yang dibuat oleh David Baszucki pada 2004 silam itu.

Diyah Puspitarini

Komisioner KPAI Diyah Puspitarini di Polres Tangsel, Selasa (20/2/2024). tirto.id/Ayu Mumpuni

Pelarangan gim Roblox memang sudah diterapkan di sejumlah negara, seperti Cina, Iran, Turki, Jordan, Guatemala, Oman, dan Korea Utara. Pemerintah negara-negara tersebut khawatir akan dampak gim Roblox terhadap keselamatan dan paparan konten bagi anak-anak di ruang maya.

Meski begitu, setelah diluncurkannya kegiatan Edublox oleh Pemkot Solo, Diyah mulai menyoroti sisi positif yang bisa tercipta dari gim Roblox. Menurutnya, melalui kegiatan yang menekankan pada sisi literasi dan etika dalam gim itu, sisi negatif di dalamnya bisa lebih diminimalisir.

“Jika memformat Roblox dengan fitur yang lebih edukatif tentu menjadi hal yang positif. Yang menjadi negatif kan karena selama ini fitur yang ada konten kekerasan masih ada. Tentu bagus saja jika dimanfaatkan dengan lebih bagus, terutama jika kaitannya dengan edukasi,” sebut Diyah saat dihubungi Tirto, Selasa.

Diyah mendorong penerapan aspek literasi dan etika dalam pengoperasian gim itu oleh anak. Harapannya, melalui kegiatan tersebut anak akan menjadi lebih menyadari pentingnya penerapan etika sebelum bermain Roblox.

Tidak hanya spesifik pada pengoperasian gim Roblox, Diyah juga berharap materi yang diajarkan pada kegiatan Edublox dapat diterapkan oleh anak dalam penggunaan gawai secara keseluruhan. Sehingga, anak akan lebih mengerti bagaimana cara memanfaatkan gawai dengan baik dan benar.

“Mengingat Roblox kan juga ada di gadget tersebut. Semoga dengan materi dan pembimbingan dari guru, anak bisa lebih paham penggunaan gadget yang baik juga,” katanya.

Namun, Diyah tak mau terburu-buru mengambil kesimpulan bahwa kegiatan itu secara pasti akan berdampak positif bagi anak. Ia menyebut, dampak nyata dari kegiatan Edublox masih harus ditelaah lebih lanjut, sebelum nantinya direplikasi dan diterapkan secara massal di berbagai daerah lainnya di Indonesia.

“Kita lihat dulu ya bagaimana prosesnya nanti, jangan terburu-buru [menerapkan kegiatan serupa di daerah lainnya]. Dan kita tetap mengedepankan prinsip perlindungan anak,” pungkasnya.

Baca juga artikel terkait GIM ROBLOX atau tulisan lainnya dari Adisti Daniella Maheswari & Naufal Majid

tirto.id - News Plus
Reporter: Naufal Majid
Kontributor: Adisti Daniella Maheswari
Penulis: Adisti Daniella Maheswari & Naufal Majid
Editor: Farida Susanty