Dua Ruang Juang Teungku Fakinah di Serambi Mekkah

Oleh: Iswara N Raditya - 20 April 2018
Dibaca Normal 3 menit
Teungku Fakinah adalah panglima perang sekaligus pejuang bagi kaum perempuan di Aceh dalam lapangan sosial dan pendidikan.
tirto.id - Sekalipun beranjak tua, spirit Teungku Fakinah masih setia di medan gerilya. Berkali-kali ia memimpin perang gerilya melawan tentara 'kaphe' Belanda. Hal ini membuat hati Panglima Polem tersentuh. Terlalu berbahaya bagi Teungku Fakinah bila terus ikut bergerilya, saran Polem, dan memintanya kembali ke kampung halaman di Lamkrak.

Fakinah menuruti saran Panglima Polem, yang juga telah pensiun dari medan perang usai pasukan JB van Heutsz menaklukkan seluruh Aceh dalam sebuah peperangan paling lama dalam sejarah kolonialisme di Hindia Belanda. Perang Aceh itu, antara 1873-1904, telah menewaskan sedikitnya 75.000 orang Aceh.

Pada 1910, Fakinah pulang ke Lamkrak, membuka kembali perguruan agama milik ayahnya yang lama mangkrak. Fakinah tahu perjuangan lewat ruang baru itu: mendidik sekaligus meninggikan derajat kaum perempuan di Serambi Mekkah.


Membantu Persiapan Gerilya

Teungku Fakinah lahir di Mukim Lamkrak di Desa Lamdiran, Kampung Lambeunot, Aceh Besar, pada 1856. Menurut Nasaruddin Umar dalam Rethinking Pesantren (2014), ayah Teungku Fakinah, Datuk Mahmud, adalah petinggi Kesultanan Aceh Darussalam (hlm. 88). Datuk Mahmud juga membuka pesantren sekaligus perguruan atau sekolah di Lamdiran.

Sementara sang ibunda, Cut Fathimah, merupakan putri dari ulama sekaligus tokoh pendidikan di Aceh bernama Teungku Muhammad Sa’at atau Teungku Chik Lampucok. Kakek Teungku Fakinah adalah pendiri perguruan agama bernama Dayah Lampucok. Teungku Chik di Tiro pernah belajar di sekolah ini.

Dengan demikian, dalam diri Teungku Fakinah mengalir darah umara dari ayahnya berpadu dengan darah ulama dari garis ibunya.


Fakinah menikah pada 1872 dengan Teungku Ahmad atau Teungku Aneuk Glee, seorang pejuang yang membuka perguruan agama di Lamkrak. Namun, baru setahun menjalani bahtera rumah tangga, Fakinah sudah harus menjadi janda pada usia 17 tahun. Suaminya gugur dalam suatu peperangan melawan Belanda pada 1873 (Michael Feener, et.al., Islam and the Limits of the State, 2015:147).

Teungku Fakinah tergerak melanjutkan perjuangan mendiang suami. Maka, Fakinah berinisiatif menggerakkan kaum perempuan untuk membentuk suatu badan amal.

Badan amal ini mengumpulkan sumbangan dari masyarakat berupa uang, padi, atau bahan makanan lain untuk disumbangkan kepada mereka yang membutuhkan. Keanggotaannya pun berkembang cepat. Banyak perempuan dari pelbagai wilayah di Aceh yang turut bergabung.

Ketika para pejuang dari daerah lain datang ke Lamkrak, badan amal inilah yang menyediakan hidangan. Selain itu mempersiapkan perbekalan gerilya untuk pejuang Aceh. Fakinah acapkali berkeliling menyambangi kediaman orang-orang kaya dan terpandang, meminta dukungan finansial untuk biaya perang demi mengusir kaum kaphe alias kafir dari Tanah Rencong.

Srikandi Aceh Karib Tjut Nyak Dhien

Namun, Teungku Fakinah tak puas selamanya di belakang layar. Ia ingin ikut mengangkat senjata dan bergerilya menghadapi kompeni. Maka, Fakinah memberanikan diri menghadap Sultan Aceh, Sultan Daud Syah (1874-1903), untuk membentuk pasukan. Sultan terkesan atas semangat Fakinah dan memberikan izin.

Rusdi Sufi dkk dalam Aceh Tanah Rencong (2008) menyebut Teungku Fakinah lantas membentuk pasukan, terdiri empat regu (batalion), salah satunya terdiri kaum perempuan (hlm. 104).

Aceh memang kerap melahirkan perempuan tangguh. Selain Teungku Fakinah, dikenal pula beberapa Srikandi Aceh macam Tjut Nyak Dhien, Laksamana Malahayati, Tjut Meutia, dan Pocut Baren. M. Dien Madjid dalam Catatan Pinggir Sejarah Aceh (2014: 249) menulis bahwa Teungku Fakinah bersahabat dengan Tjut Nyak Dhien. Keduanya berasal dari Aceh Besar.


Setiap kali ke Lamkrak, Tjut Nyak Dhien tak pernah absen singgah di kediaman Teungku Fakinah. Begitupun sebaliknya, Tjut Nyak Dhien, yang kerap berpindah tempat lantaran harus bergerilya, menanti kehadiran Fakinah.

Saat tersiar kabar bahwa Teuku Umar, suami Tjut Nyak Dhien, membelot ke pihak Belanda, Fakinah bertanya-tanya. Apakah ini benar-benar terjadi? Jika benar, mengapa Tjut Nyak Dhien tidak menghalangi maksud suaminya? Apakah justru Tjut Nyak Dhien ikut menyeberang ke kubu lawan?

Hampir seluruh pejuang Aceh juga heran dengan manuver Teuku Umar itu, bahkan Tjut Nyak Dhien sendiri. Lantaran tak tahu apa yang sebenarnya terjadi, seperti yang ditulis Pocut Haslinda dalam Perempuan-perempuan Bercahaya dalam Lintasan Sejarah Aceh (2011), Fakinah tanpa henti menguatkan hati sahabatnya itu untuk selalu istikamah dan berjuang (hlm. 188).

Pada akhirnya terungkaplah apa yang dilakukan Teuku Umar adalah taktik semata, dan nantinya menguntungkan pejuang Aceh karena memperoleh tambahan amunisi dan uang yang dibawa kabur Teuku Umar dari Belanda.


Selama beberapa tahun, Fakinah menjalani masa gerilya dan, sama seperti Tjut Nyak Dhien, kerap berpindah-pindah lokasi.

Suatu kali ia memimpin pasukan yang harus melindungi banyak perempuan dalam rombongan, termasuk permaisuri Sultan Aceh dan Pocut Awan (ibunda Panglima Polem) yang sudah lanjut usia.

Dalam perjalanan ini, seperti diungkap Analiansyah dalam Ensiklopedi Pemikiran Ulama Aceh Volume 1 (2004), Teungku Fakinah sebisa mungkin menyempatkan diri mengajar para remaja putri yang ikut bergerilya (hlm. 34).


Infografik HL Indepth Hari Kartini

Pindah Medan Juang: Pendidikan

Dari sanalah Panglima Polem menyadari bahwa Teungku Fakinah lebih dibutuhkan untuk mendidik generasi penerus ketimbang bertaruh nyawa di medan gerilya.

Fakinah menuruti permintaan itu. Lagi pula, umurnya sudah 54 tahun. Ia pulang ke Lamkrak pada 21 Mei 1910. Fakinah lantas membuka kembali perguruan agama (dalam istilah Aceh disebut Dayah) milik ayahnya dulu (Muhammad Ibrahim, dkk., Sejarah Daerah Propinsi Daerah Istimewa Aceh, 1991:131).

Kepulangan Teungku Fakinah ke Lamdiran disambut gembira oleh seluruh warga desa. Bantuan berupa tenaga dan sumbangan uang mengalir. Pada 1911, berdirilah perguruan agama untuk perempuan.


Saat itu sekolah binaan Fakinah adalah satu-satunya pusat pendidikan Islam yang dipimpin perempuan, sebagaimana ditulis Dwi Purwoko & T.H.M. Sulaiman Shah dalam Dr. Mr. T. Moehammad Hasan (1995: 8). Peserta didiknya pun tak cuma remaja putri, tapi juga kaum wanita separuh baya, terutama para janda yang telah ditinggal mati suaminya dalam perang.

Setelah resmi berdiri, banyak perempuan datang ke Lamkrak untuk belajar di dayah milik Teungku Fakinah, seperti dari Meulaboh, Calang, Aceh Timur, Pidie, dan Samalanga.

Pada Juli 1915, Fakinah pergi haji ke Mekkah. Ia diiringi oleh masyarakat dan murid-murid Teungku Fakinah, yang berbondong-bondong ke pelabuhan untuk melepas kepergiannya ke Tanah Suci (Srikandi Atjeh, hlm. 83).

Usai menunaikan ibadah haji, Teungku Fakinah menetap lebih dulu di Mekkah untuk memperdalam ilmu agama selama sekitar tiga tahun. Pada 1918, Fakinah tiba di Aceh dan disambut meriah.

Hingga wafat pada 1938 dalam usia 82 tahun, Teungku Fakinah mengabdikan sisa hidupnya membesarkan perguruan agama tersebut. Sekolah ini kelak dikenal dengan nama Yayasan Pendidikan Agama Islam Hadjah Fakinah.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight