Menuju konten utama

Syarifah Latifah: Pelopor Pendidikan Perempuan di Kesultanan Siak

Kiprah dan jalan hidup Syarifah Latifah di Riau hampir mirip dengan R.A. Kartini di Jawa. Ia membangun sekolah untuk para perempuan dan mendorong mereka untuk sejajar dengan laki-laki.

Syarifah Latifah: Pelopor Pendidikan Perempuan di Kesultanan Siak
Ilustrasi Syarifah Latifah. Tirto/Nadya

tirto.id - Jika di Jawa ada Kartini yang melegenda itu, masyarakat Riau juga punya Kartini-nya sendiri. Ia sosok perempuan yang peduli nasib kaumnya dan berjuang melalui pendidikan. Namanya yakni Syarifah Latifah, permaisuri Kesultanan Siak Sri Inderapura. Dalam banyak hal, apa yang diperjuangkan Syarifah Latifah mirip-mirip dengan Kartini.

Ada beberapa kesamaan antara Kartini dengan Syarifah Latifah. Keduanya sama-sama berasal dari keluarga bangsawan. Kartini berdarah biru lantaran ia adalah putri Bupati Jepara, yang kemudian dinikahkan dengan ningrat lainnya yang merupakan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Syarifah Latifah, atau yang dikenal pula dengan nama Tengku Agong (Tengku Agung), juga berasal dari kalangan terpandang. Syarifah Latifah adalah istri Sultan Syarif Kasim II, penguasa Kesultanan Siak Sri Inderapura yang bertakhta dari 1908 hingga 1946.

Kartini menikah pada 12 November 1903, kemudian membuka sekolah untuk anak-anak perempuan. Sang suami memberikan sokongan penuh dengan menyediakan bangunan yang berada di kompleks kantor kabupaten untuk keperluan Kartini tersebut.

Ini tak jauh beda dengan Syarifah Latifah yang disunting Sultan Syarif Kasim II pada 27 Oktober 1912. Sultan sangat mendukung cita-cita mulia sang permaisuri yang ingin membangun sekolah khusus perempuan di lingkungan Kesultanan Siak Sri Inderapura dan sekitarnya.

Jalan hidup Kartini dengan Syarifah Latifah pun hampir mirip. Kartini wafat tidak lama setelah mengelola sekolahnya itu, yakni pada 17 September 1904, usai melahirkan. Dengan kata lain, Kartini hanya sempat mendidik langsung anak-anak perempuan yang menjadi muridnya kurang dari setahun.

Adapun nasib Syarifah Latifah nyaris serupa. Ia mulai membuka sekolah keterampilan untuk anak-anak perempuan dan remaja putri di Siak antara tahun 1926 atau 1928. Namun, Syarifah Latifah terlalu cepat meninggal dunia karena sakit, yakni pada 3 Maret 1929.

Meskipun relatif singkat dalam melakoni kiprah sebagai pendidik anak-anak perempuan, Kartini dan Syarifah Latifah setidaknya telah memiliki gagasan yang melebihi zamannya. Gagasan yang seringkali dianggap masih tabu kala itu, yakni upaya untuk meningkatkan derajat kaum perempuan.

Menggugah Perempuan Riau

Suatu kali, Sultan Syarif Kasim II mendapat panggilan untuk menghadap Residen Sumatera Timur (sebagian wilayahnya kini termasuk dalam Provinsi Sumatera Utara). Penguasa Kesultanan Siak Sri Inderapura itu mengajak Syarifah Latifah turut serta melawat ke Medan.

Di Medan, pusat administrasi Karesidenan Sumatera Timur kala itu, Syarifah Latifah terbengong. Ia takjub melihat Kota Medan yang sudah begitu modern. Banyak wanita yang berprofesi selayaknya kaum lelaki, misalnya dengan bekerja di kantor pemerintahan. Tidak seperti perempuan di Siak yang hanya bertugas di dapur dan melayani suami sepenuhnya.

Seperti dikutip dari buku Sultan Syarif Kasim II: Raja Terakhir Kerajaan Siak Sri Indrapura (1992: 169) karya Ahmad Yusuf, para perempuan yang mengisi dunia kerja laki-laki juga Syarifah Latifah temui ketika turut mendampingi suaminya dalam kunjungan ke Langkat (kini termasuk wilayah Sumatera Utara) dan Tanjungpura (Kalimantan Barat).

Syarifah Latifah lantas berpikir. Wanita memang seharusnya sejajar dengan pria kendati tidak lantas melupakan kodratnya. Untuk mencapai tingkat itu, maka perempuan harus pintar. Supaya bisa pintar, maka perempuan harus mendapat pendidikan yang baik, jika perlu sejak usia dini. Dan agar tercipta suasana edukasi seperti yang diharapkan, maka sudah sewajibnya ada sekolah khusus untuk perempuan di Siak.

Logika seperti itu sebenarnya sudah terlebih dulu dijalankan suami Syarifah Latifah. Pada 1917, Sultan Syarif Kasim II mendirikan sekolah dasar bernama Madrasah Taufiqiyah al Hasyimiah. Selain mengajarkan ilmu agama, sekolah ini juga mempelajari ilmu-ilmu pengetahuan umum.

Tujuan Sultan Syarif Kasim II menggagas Madrasah Taufiqiyah al Hasyimiah sebenarnya untuk menyaingi pemerintah kolonial Hindia Belanda. Sekolah dasar kolonial di Riau, Hollandsche Inlandsche School (HIS), hanya diperuntukkan bagi anak-anak bangsa Eropa, anak-anak keturunan Tionghoa, atau anak-anak bangsawan pribumi.

Sultan Syarif Kasim II tentunya ingin seluruh anak-anak Siak juga memperoleh pendidikan yang layak demi terwujudnya sumber daya manusia yang lebih baik. Kelak, mereka juga akan berguna bagi kemajuan Siak. Hanya saja, sekolah rintisan Sultan Syarif Kasim II itu cuma menerima murid laki-laki.

Infografik HL Indepth Hari Kartini

Latifah School

Syarifah Latifah merasakan betul bahwa di wilayahnya perhatian terhadap kaum perempuan sangat kurang, bahkan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda sekalipun. Dalam buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Riau diungkapkan bahwa hingga sebelum tahun 1942, tidak ada satu pun sekolah gadis (Meisjes) di Riau (hlm. 43).

Kondisi ini sangat timpang jika dibandingkan dengan daerah-daerah lain di Sumatera. Bahkan, di Sumatera Barat kala itu sudah didirikan 43 sekolah gadis oleh pemerintah kolonial, di Sumatera Timur dan Tapanuli masing-masing ada 5 sekolah, di Palembang ada 3 sekolah, di Lampung ada 2 sekolah, dan di Jambi serta Bengkulu masing-masing punya 1 sekolah untuk perempuan.

Aturan adat yang ketat di Riau disinyalir sebagai salah satu alasan utama terabaikannya perhatian terhadap kaum perempuan. Di Riau bagian timur lebih miris lagi. Para wanitanya jarang sekali ke luar rumah, meskipun untuk membantu suami bekerja di ladang atau sawah (hlm. 42).

A.K. Pringgodigdo dalam Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia (1967) mengamini situasi tersebut. Dituliskan, “Pergerakan wanita (di Riau) dalam permulaan adalah gerak orang seorang, atau beberapa orang saja.” (hlm. 43). Bahkan, hingga era kolonial Belanda berakhir, hanya ada 3 orang guru wanita asal Riau.

Dari situlah Syarifah Latifah kemudian mewujudkan gagasannya mengenai sekolah untuk perempuan. Yang pertama adalah Latifah School, semacam sekolah kejuruan. Belum diketahui secara pasti kapan tepatnya sekolah ini berdiri, apakah tahun 1926 dan 1928, atau di antara rentang periode tersebut.

Suwardi Mohammad Samin dalam buku Sultan Syarif Kasim II: Pahlawan Nasional dari Riau (2002), menyebut tahun 1926 (hlm. 66). Sedangkan sumber lain, termasuk buku Sejarah Kebangkitan Nasional Daerah Riau (1982) terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, dituliskan tahun 1928 (hlm. 49).

Sementara Wilaela dalam "Sultanah Latifah School di Kerajaan Siak" yang dimuat di Jurnal Sosial Budaya (Vol. 11, No.1, Januari-Juni 2014) mengambil jalan tengah dengan menyebutkan antara tahun 1926 sampai dengan 1928 (hlm. 130), demikian juga buku berjudul Fenomena Budaya, Sosial-agama, dan Pendidikan (2007) yang ditulis oleh Husni Thamrin (hlm. 160).

Yang jelas, Latifah School merupakan sekolah khusus untuk kaum perempuan pertama di Riau, khususnya di Siak Sri Inderapura. Syarifah Latifah mendirikan sekolah ini untuk mendidik anak-anak perempuan dan remaja putri agar memiliki keterampilan yang lebih baik.

Madrasah An-Nisa dan Tengku Maharatu

Lembaga pendidikan kedua yang terealisasi atas andil Syarifah Latifah adalah Madrasatun Nisa atau Madrasah An-Nisa. Resmi dibuka pada awal 1929, Madrasah An-Nisa merupakan sekolah agama untuk perempuan yang pertama berdiri di Riau. Madrasah ini juga mengajarkan ilmu pengetahuan umum.

Kesultanan Siak Sri Inderapura mendukung penuh Madrasah An-Nisa. Bahkan, dikutip dari buku Perang Tuanku Tambusai Sang Harimau Rokan Melawan Penjajahan Belanda (2015) suntingan Juni Sjafrien Jahja, siswanya yang berprestasi akan mendapatkan beasiswa ke Madrasah Diniyah Putri di Padang Panjang, Sumatera Barat (hlm. 64).

Beberapa pekan setelah Madrasah An-Nisa diresmikan, Syarifah Latifah meninggal dunia, tepatnya 3 Maret 1929. Sultan Syarif Kasim II kemudian menikahi adik mendiang istrinya itu yang bernama Tengku Syarifah Fadlun pada 6 Juni 1930.

Tengku Syarifah Fadlun, bergelar Tengku Maharatu, melanjutkan kiprah sang kakak. Menurut Adila Suwarno dan kawan-kawan dalam Siak Sri Indrapura (2007), selain mengelola dua sekolah Syarifah Latifah, permaisuri kedua ini juga berinisiatif membangun asrama putri (Istana Limas) untuk anak-anak yatim piatu dan disekolahkan di Latifah School maupun Madrasah An-Nisa. Selain itu, Tengku Maharatu menggagas pula berdirinya taman kanak-kanak (hlm. 71).

Pamor Syarifah Latifah dan Tengku Maharatu memang tidak segemerlap Kartini yang hingga kini harum namanya. Namun, bagi orang Riau, terlebih masyarakat Siak, dua nama ini tak kalah wangi.

Syarifah Latifah atau Tengku Agung diabadikan sebagai nama jembatan serta taman kota nan cantik di Kota Siak. Demikian pula dengan Tengku Maharatu yang namanya dikekalkan untuk nama taman yang tak kalah menawan.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan lainnya dari Iswara N Raditya

tirto.id - Humaniora
Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan