Dilema Muslim Vegan Tiap Idul Adha

Panitia memotong daging hewan kurban sebelum dibagikan di Surau Bahrul Amin di Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (1/9/2017). ANTARA FOTO/Mohamad Hamzah.
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 22 Agustus 2018
Dibaca Normal 3 menit
Vegan garis lunak cenderung santai menghadapi Idul Adha. Vegan garis keras tidak demikian. Mereka juga rajin merisak orang-orang non-vegan.
tirto.id - Audia Saraswati memutuskan untuk menjalani gaya hidup vegan pada akhir 2017. Ada teman yang mengajak perempuan asal Jakarta itu untuk mencoba pola hidup tanpa mengonsumsi daging. Itu saja. Tanpa bumbu idealisme yang macam-macam.

Audia boleh dibilang menempuh jalur lunak. Ia berbeda dengan beberapa teman vegan yang mendedikasikan diri di jalur keras. “Vegan hardcore,” katanya, yang bisa ditandai dengan perilaku mengaramkan konsumsi daging secara total hingga merisak orang-orang non-vegan.

“Mereka memang cukup vokal dan sering sekali mengkritik para 'karnivor'. Seperti menghujat kelakuan mereka secara terbuka, atau mengklaim bahwa tidakan para pemakan daging itu amoral. Bagiku sih kita bisa kok jadi vegan tanpa harus merasa unik sendiri, tanpa jadi hardcore.” katanya kepada Tirto, Selasa (21/8/2018).


Cara Audia dan barisan vegan hardcore dalam menyikapi Idul Adha pun cukup unik. Audia tidak sampai merasa jijik, ngilu, dan sebagainya saat menghadapi praktik penyembelihan hewan secara massal. Sebagai seorang muslim, ia juga tidak secara ekstrem ingin tradisi tahunan itu hilang.

“Mereka (vegan garis keras) cenderung lebih vokal, tapi juga tidak mengungkapkan secara terbuka. Mereka tetap berusaha menghormati ritus agama (Islam). Atau mungkin juga karena mereka takut jadi sasaran banyak orang.”

Audia kini sudah bukan seorang vegan. Namun dari pengalamannya ia tidak merasakan ada benturan yang keras jika seorang Muslim yang ingin menjalani gaya hidup vegan. Sekali lagi, katanya, asal tidak terlalu fanatik. Agar tidak menutup mata, kemudian bersikap ofensif ke para pemakan daging atau produk hewani.


Delaros Demansha adalah perempuan muslim asal Banjarnegara yang sedang mengadu nasib di ibukota. Kepada Tirto ia mengungkap tengah berusaha jadi vegan dengan cara mengurangi konsumsi daging merah. Dua di antaranya adalah daging sapi dan kambing—dua komoditas utama yang diperjualbelikan jelang Idul Adha.

Alasannya sederhana: simpati serta rasa kasihan pada binatang yang dikorbankan untuk kenikmatan di meja makan. Mereka, katanya, juga layak disayang. Dengan demikian, Idul Adha jadi masa-masa yang kurang menyenangkan bagi Della. Ia mengaku sakit hati bahkan sebelum hewan-hewan ke ruang penjagalan.


“Mungkin kok jadi muslim vegan. Aku tetap ikut salat Ied. Tapi sejak tahun kemarin enggak makan daging sembelihan. Tahun ini juga. I'm fine.”

Jadi vegan di rantauan ia rasakan lebih mudah ketimbang di rumah. Kata kuncinya adalah kompromi. Serupa pendapat Audia, tidak perlu jadi fanatik, atau sampai seakan-akan harus memilih antara menjadi vegan atau menjadi muslim. Keduanya bukan hal yang berbenturan atau bertentangan.

Beda Negara Beda Situasi

Tiap negara, baik mayoritas muslim maupun bukan, menyediakan situasi yang berbeda-beda bagi para muslim vegan. Sikap mereka terhadap tradisi penyembelihan massal di tempat tinggalnya juga beragam. Mulai dari yang biasa saja, hingga yang menilainya terlalu ekstrem dan perlu pergi ke luar kota untuk sementara.

Empat tahun silam Patrick Kingsley pernah menulis laporan untuk Guardian perihal sikap muslim vegan di Mesir selama Idul Adha. Alaa Sharshar adalah narasumber Kingsley yang merasa perlu pergi sejenak ke luar Kairo tiap Idul Adha tiba.

Pemilik restoran bernama Vegan Kitchen itu sejak kecil telah menyaksikan darah sapi sembelihan yang mengalir di belakang gedung yang dihuninya. Tiap tahun ia mengingat detail kejadian, termasuk saat sapi sekarat, bau darah, dan lain sebagainya.

“Aku merasa sangat tidak nyaman,” katanya.


Persoalannya, konsep vegetarian belum dikenal luas di Mesir. Banyak orang yang tidak memakan daging bukan karena gaya hidup modern, tapi karena tidak mampu membelinya. Masyarakat Mesir krisis daging sejak dihantam revolusi tahun 2011. Kelangkaan pasokan daging membuat harganya meroket.

Kecuali buat orang kaya, yang sehari-hari tetap memamah daging dan produk hewani lain. Orang miskin hanya makan daging di momen-momen spesial seperti perayaan Idul Fitri. Saat Idul Adha, mereka kebagian daging kurban dari orang-orang kelas menengah atau atas.

Di beberapa keluarga dan lingkungan sosial, lanjut Kingsley, memakan daging diasosiasikan dengan kejantanan. Lelaki yang tak makan daging akan diragukan maskulinitasnya. Oleh sebab itu, menjadi vegan lebih mudah dilakukan oleh perempuan Mesir.


Kadang kendalanya bukan dari masyarakat, tapi dari anggota keluarga sendiri. Contohnya ada pada kisah Sehrish Khan-Williamson yang diangkat Aysha Khan dalam laporan untuk USA Today dua tahun yang lalu.

Khan-Williamson kecil trauma saat menyaksikan hewan saat disembelih dan dikuliti. Di usia 15 tahun ia menyatakan diri sebagai vegan di hadapan orang tuanya. Ayah dan ibunya terkejut. Bagi keluarga Pakistan yang tinggal di Amerika Serikat, ayam dan sapi hampir jadi hidangan wajib. Tapi reaksi ini masih dirasa ringan oleh Khan-Williamson.

Kecaman justru datang dari sepupunya yang seorang pemuka agama. Khan-Williamson dituduh menafsirkan Nabi Muhammad keliru sebab dulu sang nabi memakan daging. Khan-Williamson mengakui kesulitan menjelaskan posisinya sebagai muslim sekaligus vegan.


“Menjadi vegetarian dan berada di masyarakat muslim hampir seperti kontradiksi. Dan saya masih belum tahu pasti apa sebabnya,” katanya.

Benturan yang lebih nyata dan keras dalam isu Islam dan veganisme pernah terjadi Negara Bagian Bhopal, India, pada Idul Adha 2014. Sebagaimana dilaporkan Times of India, penyulutnya adalah para aktivis dari Orang-orang untuk Perlakuan Etis terhadap Hewan atau PETA.



Para aktivis menjalankan aksinya di Taj-ul-Masajid, salah satu masjid terbesar di Asia. Seorang aktivis perempuan di antaranya mengenakan kerudung hijau, berjalan ke gerbang masjid bersama aktivis PETA lain, sambil membawa plakat bertuliskan “Selamat Idul Adha untuk Semua. Cobalah Vegan.”


Polisi di lokasi kejadian hanya sedikit dibandingkan massa yang meminta aktivis PETA untuk mundur. Massa makin beringas, sehingga aktivis PETA benar-benar harus mencari perlindungan di sebuah pasar dekat masjid. Situasinya kian berbahaya sebab jumlah massa makin banyak, aktivis PETA pergi, tapi aktivis berkerudung hijau tinggal di lokasi.

Pada akhirnya si aktivis tersebut selamat, namun meninggalkan reputasi yang buruk bagi warga muslim di sekitar Taj-ul-Masajid. PETA menolak memberikan komentar pada Times of India. Salah satu warga yang mengusir PETA mengatakan bahwa dirinya dan warga lain tersinggung oleh aksi PETA.

“Itu tindakan tanpa dasar yang jelas dan seharusnya dihentikan oleh pejabat lokal sebelum terjadi. Itu bentuk serangan langsung terhadap kepercayaan agama kami,” katanya.

Baca juga artikel terkait IDUL ADHA 2018 atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight