Di Balik Terpilihnya Riza Patria Menjadi Cawagub DKI

Oleh: Reja Hidayat - 11 Februari 2020
Dibaca Normal 4 menit
Posisi cawagub DKI tak hanya diperebutkan dua partai pengusung, tapi internal Partai Gerindra
tirto.id - Pemilihan Ahmad Riza Patria sebagai calon Wakil Gubernur DKI Jakarta dari Partai Gerindra memakan waktu enam bulan. Rangkaian proses penjaringan nama-nama cawagub dari kader Gerindra maupun non kader dimulai sejak Juli-September 2019. Nama tersebut diantaranya Ahmad Riza Patria, Arnes Lukman, Ferry Juliantono dan Saefullah.

Masing-masing cawagub didukung oleh para petinggi DPP Gerindra dan DPD Gerindra DKI Jakarta. Misalnya Sufmi Dasco Ahmad menjagokan Ahmad Riza Patria, Sandiaga Uno menjagokan Arnes Lukman, dan Muhammad Taufik menjagokan Saefullah. Tentu saja nama-nama tersebut dipilih melalui tim seleksi yang dibentuk DPP Gerindra sebelum dikirim ke DPP PKS.

"Kalau itu (Riza) saudara DKI, hanya usulan (cawagub). Harapan kan (DPD Gerindra DKI) boleh. Kalau bang Dasco harapannya Ahmad Riza, tapi yang tentuin DPP Gerindra," kata Wakil Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta Syarif saat ditemui Tirto di ruangan fraksi Gerindra, Jakarta, Senin (13/1/2020).

Bila Dasco memilih Riza, Sandiaga Uno, Wakil Ketua Dewan Pembina Gerindra itu justru menilai Arnes Lukman berpotensi menjadi salah satu kandidat cawagub. Sandi dan Arnes sama-sama murid William Soerjadjaja, pendiri Astra.

Arnes Lukman adalah Dewan Penasihat DPP Gerindra sejak 2014-sekarang. Ia seorang pengusaha nasional asal Minang yang sukses bisnis di bidang retail.

Ia tercatat menjabat posisi penting seperti Presiden Direktur PT Plaza Lifestyle Prima (FX Mall), Komisaris PT Plaza Nusantara Realty (Mall Plaza Indonesia-Keraton at The Plaza), Komisaris Utama PT Jababeka Plaza Indonesia, Ketua Umum Yayasan Plaza Indonesia, dan Dewan Pembina Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Pusat sejak 2019.

"Pak Arnes lihat kiprahnya sebagai profesional memiliki tata kelola yang baik, dia punya komitmen. Jarang sekali pengusaha sukses diusia yang sangat muda. Mudah-mudahan karir beliau makin baik kedepan," kata Sandiaga kepada Tirto usai pelantikan pengurus BPP HIPMI di Raffles Hotel, Jakarta, Rabu (15/1/2020).

Sandi menambahkan ada empat calon yang mumpuni sebagai cawagub, tapi menurutnya, Arnes Lukman memiliki kesempatan besar untuk meyakinkan PKS.

"Beliau punya kesempatan untuk memberikan keyakinan kepada teman-teman PKS menjadi salah satu kandidat (cawagub DKI Jakarta)," kata Sandiaga.

Pada saat dua nama tersebut menjadi kandidat cawagub DKI Jakarta dari Gerindra, tiba-tiba nama Sekda Saefullah dibatalkan sebagai kandidat.

Hal itu diungkapkan Muhammad Taufik kepada awak media pada 19 Desember 2019. Ia menilai Sefullah lebih baik fokus pada posisinya sekarang sebagai Sekda DKI Jakarta. Sedangkan Ferry Julianto yang awalnya siap menjalankan tugas partai, kini enggan dikaitkan dengan Wagub DKI Jakarta.

Presiden Partai Keadilan Sejahtera Sohibul Imam sempat mempertanyakan empat kandidat yang diusulkan oleh Gerindra. Menurut orang nomor satu di PKS tersebut ada konflik internal Partai Gerindra untuk memperebutkan posisi cawagub.

Wakil Ketua Umum Gerindra Arief Poyuono membantah adanya perpecahan internal Gerindra terkait cawagub DKI Jakarta.

"Enggak ada pecah, kita tetap satu kok," kata Arief kepada Tirto, Jakarta, Rabu (29/1/2020).


Tanda Tangan Taufik

Di ujung penentuan cawagub dari Gerindra, nama Riza muncul, sedangkan Arnes yang sempat menguat justru hilang. Muhammad Taufik menepisnya bahwa Arnes adalah calon terkuat. Ia mengatakan semua kandidat punya potensi sebagai cawagub DKI menggantikan Sandiaga Uno.

"Yang tandatangan surat (persetujuan cawagub DKI) saya kok," kata Taufik, Jakarta, Senin (27/1/2020).

Tak selang lama, nama Riza diumumkan sebagai satu-satunya cawagub dari Gerindra. Munculnya Riza ini tidak lepas dari campur tangan Taufik, sebab seperti kata Taufik, ia adalah penentunya.

Serupa, Waketum Gerindra Arief Poyuono mengatakan penentuan nama cawagub DKI Jakarta berada di tangan DPD Gerindra DKI Jakarta. Sedangkan DPP Gerindra hanya memfasilitasi proses seleksi cawagub DKI Jakarta yang diusulkan kader lainnya. Proses seleksi melibatkan pejabat teras Gerindra, namun ia hanya menyebutkan beberapa nama diantaranya Sufmi Dasco Ahmad, Ahmad Muzani, Prabowo Subianto.

"Penentunya di DPRD DKI, Pak Taufik," kata Arif.

Sementara itu Riza menyebutkan Gerindra mengusulkan empat nama rekomendasi cawagub kepada PKS untuk dipilih salah satunya. Namun, Riza mengklaim Gerindra tidak memaksa harus memilih dirinya, Arnes, Ferry dan Saefullah.

"Gerindra tidak memaksa memilih saya atau yang lainnya," kata Riza dalam acara “Ngobrol Bareng Bersama Ahmad Riza Patria” di Penang Bistro. Taufik tampak hadir di sana.

Riza juga menegaskan untuk menjadi cawagub harus mendapat persetujuan Ketua DPD Gerindra DKI Jakarta. Ini merujuk pada Pasal 176 Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pemilihan Kepala Daerah.

"Direkomendasi partai, direkomendasi Bang Taufik. Kalau enggak diteken sama bang Taufik, enggak jadi (cawagub)," kata Riza lalu disambut senyum Taufik.

Di mata Taufik, sosok Riza punya pengalaman untuk menjadi cawagub DKI Jakarta. Sebab ia pernah menjadi Ketua KNPI, tokoh pemuda Jakarta, anggota DPR, pengalaman organisasi Jakarta dan paham kondisi Jakarta. Dan tak lupa, saat Taufik menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum DKI Jakarta, Riza adalah anggota KPU sejak 2003-2008.

Setelah nama Riza muncul, beredar isu bahwa nama Riza sebenarnya merupakan pilihan dari PKS. Namun itu segera dibantah Sekretaris Fraksi PKS DPRD DKI Jakarta, Achmad Yani. Menurutnya nama kandidat cawagub itu ditetapkan masing-masing partai.

"Itu urusan mereka, bukan kita," kata Yani kepada Tirto, Kamis (30/1/2020).

PKS pun punya pilihan sendiri. Mereka mengajukan kadernya Nurmansyah Lubis sebagai cawagub.

Setelah 15 bulan kursi cawagub DKI Jakarta kosong, akhirnya pimpinan PKS dan Gerindra pada (20/1/2020) bersepakat mengusung satu kandidat dari partai masing-masing untuk menggantikan Sandiaga Uno. Sufmi Dasco Ahmad mengatakan cawagub dari PKS Nurmansyah Lubis dan Gerindra Ahmad Riza Patria. Surat yang ditunjukan kepada Gubernur DKI Jakarta sudah ditandatangi kedua belah pihak.



Infografik HL Indepth Cawagub DKI
Cawagub DKI, Gerindra VS PKS. tirto.id/Lugas

Faktor Politik 2024

Presiden PKS Sohibul Iman mengakui alotnya pemilihan cawagub DKI Jakarta dikarenakan semua partai memperhitungkan pemilihan presiden dan pemilihan legislatif 2024. Posisi Gubernur DKI Jakarta tidak berpartai, sementara bila cawagub dari partai PKS orang akan membayangkan partai tersebut akan lebih besar. Alasan ini yang membuat kader tulen PKS sulit menduduki kursi nomor dua di DKI Jakarta.

"Semua berkalkulasi untuk 2024. Itu aja. Saya enggak mau menuduh macam-macam, termasuk PKS berkalkulasi untuk 2024. Kami ingin kader PKS, kami ingin berkalkulasi 2024," kata Sohibul.

Dalam proses pemilihan cawagub ke depan, peluang voting lebih besar ketimbang musyawarah. Apalagi kedua partai, baik PKS dan Gerindra sama-sama mengklaim berhak posisi tersebut. Di gedung Dewan, ada 106 kursi; PDI Perjuangan 25 kursi, Gerindra 19 kursi, PKS 16 kursi, Demokrat 10 kurs, PAN 9 kursi, PSI 8 kursi, Nasdem 7 kursi, Golkar 6 kursi, PKB 5 kursi dan PPP 1 kursi.

Syarif mengatakan bila Ahmad Riza Patria terpilih sebagai wagub DKI Jakarta, peluang Partai Gerindra berkoalisi dengan Partai PDIP dalam pemilihan Presiden 2024 terbuka lebar. Namun, dia menilai pembicaraan tersebut terlalu dini untuk saat ini.

Sementara itu, Ketua Faksi PDIP DPRD DKI Jakarta Gembong Warsono menilai partai berlambang kepala benteng itu sebagai penentu pemilihan cawagub yang diusung PKS dan Gerindra, bukan tanpa alasan, hampir seperempat total kursi DPRD dikuasai PDIP.

Untuk menentukan sikap dan pilihan, Gembong mengaku belum ada instruksi dari DPP PDIP. Ia menegaskan, untuk memutuskan pilihan finalnya, pihaknya akan berkordinasi dengan DPP. Pasalnya fraksi bagian dari perpanjangan tangan pusat.

"Fraksi pasti akan koordinasi dengan DPP. Kita kan perpanjang tangan, jadi akan mengkombinasikan antara (DPP) pusat dan daerah," kata Gembong kepada Tirto, Jakarta, Senin (3/2/2020).

Gembong tak menampik peluang untuk memilih cawagub dari Partai Gerindra, apalagi di tingkat nasional kedua partai tersebut sedang mesra-mesranya. Namun, ia menilai politik ke depan sangat cepat berubah dan yang diprediksi tidak mungkin bisa menjadi mungkin.

Tak hanya DPD PDIP DKI Jakarta yang harus koordinasi, melainkan DPD Nasdem DKI harus koordinasi untuk menentukan sikap dan pilihannya. Nasdem daerah memberikan masukan terkait kandidat cawagub, tapi DPP yang menggodok. Ia menegaskan sampai saat ini, belum ada arahan dari atas (DPP Nasdem) ke bawah (DPD Nasddem DKI Jakarta).

"Kalau ada arahan, untuk apa besok mengadakan pertemuan lagi (Gerindra)," kata Wakil Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Jakarta Nova Harivan Paloh, Senin (3/2/2020).

Saat ditanya soal pertemuan Presiden PKS Sohibul Iman di DPP Nasdem bersama Surya Paloh, apakah sinyal mendukung cawagub dari PKS, Nova beralasan tak tahu sebab tidak ada dilokasi pertemuan saat itu. Ia menambahkan jangan menginterpretasikan kedatangan ke DPP Nasdem, bukan berarti mengintrusikan kita (dukung cawagub PKS).

Baik PKS maupun Gerindra, posisi Wagub DKI Jakarta menentukan pemilihan presiden 2024. Bahkan Prabowo Subianto yang kini menjadi Menteri Pertahanan era Kabinet Indonesia Maju memiliki peluang lebar untuk menjadi calon presiden yang ketiga kalinya.

"Sebagai kader, saya tidak akan berhenti memperjuangkan Prabowo menjadi presiden. Sampai beliau katakan berhenti," kata Syarif.

Baca juga artikel terkait PKS atau tulisan menarik lainnya Reja Hidayat
(tirto.id - Politik)

Reporter: Reja Hidayat
Penulis: Reja Hidayat
Editor: Mawa Kresna
Artikel Lanjutan
DarkLight