STOP PRESS! Pejabat Pajak Handang Soekarno Divonis 10 Tahun Penjara

Di Balik Simpang Siur Bahaya Radiasi Ponsel

Di Balik Simpang Siur Bahaya Radiasi Ponsel
Ilustrasi menyimpan ponsel di saku celana. Getty Images/iStockphoto
13 Juli, 2017 dibaca normal 4 menit
Sejumlah lembaga kesehatan terkemuka sesungguhnya telah membantah bahwa tak ada hubungan langsung antara penggunaan ponsel dengan kanker, meski ada beberapa kasus unik
tirto.id - Kanal data Statista mengungkapkan kini ada sekurang-kurangnya 4,77 miliar pengguna telepon seluler di dunia atau hanya berselisih 2,8 miliar saja dari populasi manusia di bumi. Angka ini meningkat dari tahun 2016 yang tercatat sebanyak 4,61 miliar. Diperkirakan pada 2018 mendatang jumlahnya akan mencapai 4,93 miliar dan pada 2019 sudah di angka 5,07 miliar.

Sebagaimana konsumsi produk teknologi lain, penggunaan ponsel juga melahirkan desas-desus yang telah menggelisahkan manusia sejak satu dekade belakangan: benarkah paparan radiasi elektromagnetik ponsel bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti kelainan DNA, kanker dan tumor otak, autisme, hingga kemandulan?

Sejumlah ahli kesehatan mengafirmasinya sebagai sebuah kebenaran berdasarkan hasil penelitian mandiri, dan ada juga orang yang meyakininya hingga pada level paranoid. Contohnya adalah pernyataan Devra Lee Davis, Ph.D, pendiri Dewan Ilmu Lingkungan dan Toksologi di U.S. National Academy of Science.

Ia, berdasarkan penelitiannya di buku Disconnect: The Truth About Cell Phone Radiation, termasuk yang percaya bahwa paparan radiasi ponsel dalam jangka panjang bisa memicu kanker otak (penggunaan ponsel untuk telepon), tumor payudara (jika ponsel diletakkan di beha), merusak kualitas sperma (jika ponsel diletakkan di saku celana), dan bisa merusak DNA.

Faktanya, apa yang terjadi di lapangan sesungguhnya dipenuhi oleh debat dan pro-kontra. Beberapa lembaga penelitian kesehatan terkemuka telah membantahnya dengan tegas, baik berdasarkan penelitiannya maupun dengan menemukan kekurangan fatal atas penelitian pihak-pihak yang mengiyakannya.

Ponsel memancarkan energi RF atau radiasi non-pengion yang diserap oleh jaringan yang terdekat dengan posisi ponsel ditaruh atau dipegang. Radiasi ini serupa dengan yang terkandung di sinar x-ray dan telah terbukti secara ilmiah bisa meningkatkan resiko kanker bila terpapar.

Meski demikian, laporan National Cancer Institute (NCI) menyatakan, “Saat ini tidak ada bukti bahwa radiasi non-pengion langsung dari ponsel dapat meningkatkan resiko kanker.”

Menurut NCI, satu-satunya efek biologis dari paparan radiasi non-pengion adalah pemanasan yang berasal dari penggunaan ponsel yang lama lalu disimpang di saku celana atau baju. Ada rumor bahwa pemanasan ini bisa merusak DNA lalu menciptakan bibit kanker, tapi NCI juga menolaknya mentah-mentah.

Pada 2011, Badan Internasional untuk Penelitian Kanker (IARC) mengklasifikasi frekuensi radio yang dipancarkan ponsel kemungkinan “mengandung karsinogen [zat penyebab kanker] bagi manusia.” Namun American Cancer Society menegaskan bahwa “bukti dari klasifikasi itu tetap belum jelas,” perlu penelitian lebih lanjut. Namun demikian, lembaga ini merekomendasikan siapa pun yang mengkhawatirkan efek itu agar tak dilarang membatasi paparan radiasi ponsel.

Institut Nasional Ilmu Kesehatan Lingkungan AS (NIEHS) menyatakan bahwa bobot bukti ilmiah dalam sejumlah penelitian yang banyak dirujuk orang-oraang sebenarnya belum terlalu meyakinkan. Hubungan antara penggunaan ponsel dengan masalah kesehatan yang bersangkutan terkesan dipaksakan dan perlu penelitian lanjutan yang lebih kredibel dan akurat.

Kesimpulan yang sama juga pernah disampaikan Administrasi Makanan dan Obat-obatan AS (FDA), Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), dan Komisi Komunikasi Federal (FCC). Pada 2015 Komite Ilmiah Eropa untuk Resiko Kesehatan yang Berkembang dan yang Baru Teridentifikasi (SCENIHR). 

Penelitian yang Meragukan

NCI kemudian merangkum penyebab mengapa penelitian-penelitian yang mengkonfirmasi adanya kaitan antara penggunaan ponsel dan beragam penyakit sangat boleh diragukan keabsahannya.

Pertama, bias ingatan. Misalnya pengakuan seorang penderita tumor otak berasumsi bahwa penggunaan ponselnya lebih sering ketimbang orang lain yang tak menderita tumor otak. Banyak studi epidemiologi terkait penggunaan ponsel dan resiko kanker otak tidak memiliki angka pasti penggunaan ponsel oleh para responden.

Kedua, pelaporan yang tidak akurat. Hal ini bisa terjadi ketika responden penelitian mengatakan waktu penggunaan ponsel yang tak akurat: lebih lama atau lebih sedikit sedikit dari yang benar-benar ia alami. Di sisi lain, otak manusia memang kompleks, tapi untuk soal ingatan, ia bisa menjadi sangat subyektif. Apalagi jika diminta untuk mengingat-ingat secara akurat jangka waktu atas aktivitas di masa lampu.

Ketiga, morbiditas dan mortalitas di antara para partisipan riset yang menderita kanker otak. Penderita tumor glioma, misalnya, tak cocok dijadikan partisipan sebab mengalami gangguan yang dapat mempengaruhi jawaban penelitian. Orang terdekat partisipan juga belum tentu paham frekuensi penggunaan ponselnya.

Keempat, bias partisipasi. Ini mudah terjadi pada penderita tumor otak ketimbang pada orang sehat. Para penderita tumor yang menahun kerap memiliki frekuensi penggunaan ponsel yang berbeda dengan orang yang sehat, sehingga perbandingannya tidak apple to apple.

Kelima, perubahan teknologi dan metode penelitian. Penelitian jaman dahulu melibatkan ponsel analog, sementara di era kekinian ponsel yang beredar di kalangan pengguna menggunakan teknologi digital dengan frekuensi radiasi yang berbeda. Bagaimana, misalnya, memastikan efek dari kebiasaan mengirim pesan pendek, yang meski menggunakan ponsel tapi harus dekat sekali ke kepala? Sejak ada aplikasi WhatssApp misal, orang juga jadi lebih jarang menelepon lewat ponsel.

Di Balik Simpang Siur Bahaya Radiasi Ponsel

Kasus Unik

Meski dihadapkan pada lima kritik penting tersebut, bukan berarti sama sekali tak ada kasus yang menarik didedah. Dr. John West, direktur bedah di Klinik Medis Breastlink di Orange County, California, AS, telah melihat beberapa kasus kanker payudara yang meyakinkannya bahwa penggunaan ponsel adalah penyebab.

Salah satu pasiennya, Shea Hartman, didiagnosis kanker payudara invasif pada tahun 2012 di saat usianya masih 21 tahun. John menemukan hasil mamogram aneh dalam distribusi kanker yang sesuai dengan ukuran ponselnya. Di payudara kiri Shea ditemukan kalsifikasi tumor ganas berbentuk persegi panjang sepanjang 3,5 x 9,5 cm, mirip dengan ukuran ponsel Samsung kepunyaan Shea.

Kecurigaan muncul sebab sejak sekolah menengah pertama Shea punya kebiasaan memasukkan/meletakkan ponselnya di dalam beha kirinya. Ia melakukannya selama bertahun-tahun hingga di usia 21 tahun, baik di saat belajar di sekolah maupun ketika dirinya sudah bekerja. Shea mengaku melakukannya karena takut tak mengangkat telpon dengan segera, demikian sebagaimana dilaporkan CBS News.

Kasus yang sama juga menimpa pasien John yang lain, Tiffany Frantz, yang pada usia 21 tahun juga didiagnosis kanker invasif dan ia juga punya kebiasaan menyimpan ponsel di behanya (langsung terkena kulit) paling tidak setiap hari (12 jam per hari) selama lima tahun. Di bagian penyimpanan itu pula pola kanker terdeteksi oleh John.

Kasus kanker payudara pada perempuan seusia Tiffany dan Shea tergolong amat sangat jarang terjadi. Hanya ada kurang dari lima persen atas kasus kanker payudara yang didiagnosis pada perempuan di bawah usia 40 tahun, dan American Cancer Society memperkirakan jumlahnya hanya 1,5 dari setiap 100.000 perempuan yang didiagnosis di bawah usia 25 tahun.

Kecurigaan makin kuat sebab keluarga dari empat pasien lain dalam analisa John, termasuk Shea dan Tiffany, tak memiliki riwayat kanker payudara. Analisis ini memperkuat kemungkinan yang telah dikhawatirkan sebelumnya, meski John tak memberi bukti ilmiah yang rinci dan valid.

Para pakar lain juga mengingatkan untuk tak buru-buru menyimpulkan sebagaimana kekhawatiran John. Bahkan, jika ada hubungan (korelasi) antara penyimpanan ponsel dan kanker pun, belum tentu antara keduanya terkait hubungan sebab-akibat (kausalitas).

Meski demikian, tak ada salahnya melakukan tindakan pencegahan dan pengamanan secara maksimal. Devra Lee Davis menyarankan agar saat menelepon baiknya sambil headset atau menggunakan fitur pengeras suara (speakerphone). Sebab “tiap milimeter jarakmu dengan ponsel berarti mengurangi resiko paparan radiasi hingga 15 persen,” katanya seperti dikutip Men's Health.

Sempat ada penelitian yang menunjukkan bahwa radiasi ponsel yang terjadi dalam jangka waktu yang lama bisa menyebabkan penurunan kualitas sperma. Jika Anda menakutkan hal itu, lebih baik ponsel disimpan di tas, bukan di saku celana. Terakhir, jika ingin lebih lengkap, jauhkan dan/atau matikan ponsel saat tidur terutama yang jaringan internetnya selalu aktif.

Baca juga artikel terkait SMARTPHONE atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - awa/msh)

Keyword