Menuju konten utama
Byte

Benarkah HP Sekarang Lebih Ringkih dan Gampang Rusak?

Dengan dibekali teknologi canggih yang kian kompleks, ponsel zaman sekarang dianggap lebih rentan terhadap kerusakan dibanding HP jadul macam Nokia 3310.

Benarkah HP Sekarang Lebih Ringkih dan Gampang Rusak?
Ilustrasi layar retak hp. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Ada alasan mengapa Nokia 3310 menjadi ponsel legendaris. Ketika meme ala 9Gag masih menguasai jagat maya, ponsel keluaran tahun 2000 itu bahkan disebut sebagai material terkuat di alam semesta. Ya, Nokia 3310 memang dikenal tahan banting. Bukan cuma baterainya yang luar biasa awet, sistem operasi ponsel itu pun seakan-akan tidak bisa rusak meski berulang kali jatuh.

Melompat ke 2025, situasinya sudah jauh berbeda. Ponsel-ponsel kiwari memang telah dibekali komputer canggih. Fitur-fiturnya bakal membuat orang di tahun 2000 mengira itu adalah produk fiksi ilmiah. Bayangkan saja, dulu kala, untuk setiap kebutuhan, seperti memotret, mendengarkan lagu, menonton film, bahkan mengirim surel, kita membutuhkan perangkat yang berbeda-beda. Kini, semua ada dalam genggaman kita.

Sayangnya, kecanggihan tersebut tidaklah dibarengi dengan daya tahan mumpuni. Seiring dengan makin banyaknya teknologi mutakhir yang tersemat, ponsel justru terasa kian ringkih. Pertanyaannya, apakah memang ponsel kiwari lebih cepat rusak atau itu hanyalah perasaan para pengguna saja?

Material dan Desain yang Lebih Ringkih?

Salah satu alasan utama orang merasa ponsel zaman sekarang lebih mudah rusak adalah perubahan desain dan material yang digunakan. Ponsel lama, terutama yang menggunakan casing plastik atau polikarbonat, sering kali lebih tahan terhadap benturan. Sementara itu, ponsel modern menggunakan material seperti kaca dan aluminium untuk memberikan tampilan premium. Namun, kaca berisiko lebih besar mengalami retak atau pecah saat terjatuh.

Selain itu, ponsel lama sering kali memiliki desain lebih kompak dengan komponen internal yang lebih terlindungi. Ini berbeda dengan ponsel modern yang makin tipis, dengan bingkai layar minimalis, yang sering kali mengorbankan aspek ketahanan fisik demi estetika. Desain unibody tanpa baterai yang dapat dilepas juga membuat ponsel lebih sulit diperbaiki jika rusak.

Tidak hanya material luar, ketahanan perangkat keras lainnya juga patut dipertanyakan. Jack audio 3.5 mm, yang kini dihilangkan oleh produsen ponsel keluaran terbaru, seraya memaksa pengguna memakai perangkat nirkabel yang lebih rentan rusak. Begitu pula dengan sensor sidik jari. Jika dulu memiliki tombol fisik, kini ia ditempatkan dalam layar yang lebih rentan mengalami eror atau kegagalan deteksi.

Teknologi yang Lebih Canggih, tapi Lebih Sensitif

Ponsel saat ini memiliki lebih banyak teknologi canggih, termasuk layar beresolusi tinggi, prosesor lebih kuat, dan berbagai sensor tambahan. Namun, makin kompleks teknologi yang digunakan, makin tinggi pula risiko kegagalan komponen. Misalnya, layar AMOLED yang banyak digunakan pada ponsel flagship menawarkan kualitas gambar lebih tajam dan warna lebih kaya. Namun, layar jenis ini lebih rentan mengalami burn-in (kerusakan permanen pada layar ponsel yang ditandai dengan bayangan atau gambar "hantu" yang tertinggal di layar) dibandingkan layar LCD pada ponsel lama.

Selain itu, teknologi fast charging yang kini banyak diadopsi ponsel modern menimbulkan dilema tersendiri. Meskipun mampu mengisi daya dengan sangat cepat dan praktis, panas yang dihasilkan saat pengisian dapat mempercepat kerusakan baterai—meskipun beberapa produk terbaru telah dilengkapi dengan teknologi yang mampu mengontrol pengisian daya. Sebaliknya, ponsel lama yang diisi dengan daya lebih rendah cenderung memiliki umur pemakaian lebih panjang.

Baterai lithium-ion yang digunakan dalam ponsel modern juga memiliki umur pakai terbatas serta risiko degradasi lebih cepat dibandingkan baterai lama yang dapat dilepas. Selain itu, sistem pendinginan yang kurang optimal pada ponsel tipis dapat menyebabkan overheating, yang berdampak pada performa dan umur komponen internal.

Terakhir, komponen internal seperti motherboard dan IC (integrated circuit) kini lebih kompleks dan kecil sehingga lebih sulit diperbaiki jika terjadi kerusakan. Jika pada ponsel lama motherboard bisa diganti sebagian, kini kerusakan satu bagian kecil bisa menyebabkan keseluruhan perangkat mati total.

Software dan Update yang Memengaruhi Kinerja

Ponsel yang makin lama terasa makin lemot juga jadi persoalan tersendiri. Salah satu penyebab utamanya adalah beban update software yang kian berat untuk perangkat lama. Sistem operasi yang terus diperbarui dengan fitur-fitur baru sering kali tidak dioptimalkan untuk perangkat lama dan, akibatnya, terjadilah lag atau penurunan performa.

Selain itu, pabrikan-pabrikan ponsel juga menerapkan kebijakan planned obsolescence, yaitu pembatasan dukungan software pada perangkat lama agar pengguna beralih ke model terbaru. Beberapa produsen bahkan menghentikan dukungan pembaruan keamanan setelah beberapa tahun. Hal itu membuat ponsel keluaran lama tak lagi bisa mengakses aplikasi-aplikasi tertentu. Ditambah lagi adanya kerentanan terhadap ancaman keamanan digital.

Yang membuat ponsel makin lemot bukan cuma update software sistem operasi. Aplikasi-aplikasi yang ada juga makin lama makin berat. Hasilnya, aplikasi yang dulunya ringan kini lebih banyak memakan Random Access Memory (RAM) dan Central Processing Unit (CPU). Hal itu, lagi-lagi, menyebabkan ponsel lebih cepat mengalami overheating dan lag. Kombinasi faktor-faktor tersebut membuat ponsel terasa "cepat rusak". Padahal, yang terjadi adalah penurunan performa akibat ekosistem perangkat lunak yang terus berkembang.

Ilustrasi layar retak hp

Ilustrasi layar retak hp. FOTO/iStockphoto

Faktor Penggunaan dan Perawatan

Pabrikan ponsel memang punya andil besar dalam membuat ponsel kiwari jadi terasa makin cepat rusak. Akan tetapi, yang sering kali terjadi pula adalah para pengguna ponsel sendiri tidak merawat perangkatnya dengan baik. Banyak pengguna tidak sadar bahwa kebiasaan tertentu dapat memperpendek umur ponselnya. Misalnya, penggunaan casing yang terlalu tebal dapat menyebabkan ponsel lebih mudah panas. Begitu juga dengan kebiasaan mengisi daya semalaman yang bisa mempercepat degradasi baterai.

Penggunaan pengisi daya (charger) tidak resmi serta daya listrik yang tidak stabil juga menjadi penyebab krusial kerusakan ponsel modern. Banyak pengguna memilih charger murah dengan daya tidak sesuai, yang akhirnya merusak sirkuit pengisian daya. Di sisi lain, beberapa ponsel dengan sertifikasi tahan air, misalnya Ingress Protection 68 atau IP68, tetap bisa mengalami kerusakan jika terpapar air dalam jangka waktu lama, karena segel kedap airnya bisa melemah seiring waktu.

Selain itu, tingginya frekuensi jatuh dan benturan berkontribusi besar pada kerusakan ponsel modern. Dengan makin tipisnya desain, komponen internal ponsel menjadi lebih rapuh. Jika dulu ponsel dengan bodi plastik bisa tetap berfungsi meskipun terjatuh, kini layar kaca besar lebih mudah retak meskipun hanya terjatuh dari ketinggian rendah.

Apakah Semua Ponsel Modern Lebih Mudah Rusak?

Tidak semua ponsel baru lebih ringkih dibandingkan ponsel lama. Banyak produsen yang kini mulai mengembangkan teknologi perlindungan lebih baik, seperti Gorilla Glass yang lebih tahan goresan, sertifikasi tahan air dan debu (IP rating), serta peningkatan daya tahan baterai. Namun, karena makin banyak fitur canggih yang disematkan, perawatan ponsel juga menjadi lebih kompleks.

Beberapa ponsel flagship, seperti produk iPhone dan seri premium Samsung, masih mempertahankan standar kualitas yang tinggi. Mereka menggunakan material yang lebih tahan lama dan sistem optimasi software lebih baik. Namun, dengan harga yang makin mahal, banyak pengguna merasa ponsel flagship seharusnya memiliki daya tahan lebih baik daripada kenyataan yang mereka alami.

Anggapan bahwa ponsel zaman sekarang lebih gampang rusak tidak sepenuhnya salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar. Ya, perubahan desain dan material memang membuat perangkat lebih rentan terhadap kerusakan fisik. Akan tetapi, di sisi lain, teknologi perlindungan juga terus berkembang. Kompleksitas teknologi yang lebih tinggi membuat ponsel modern lebih sensitif terhadap berbagai faktor, terutama jika tidak dirawat dengan baik.

Selain faktor produksi, cara pengguna memperlakukan ponselnya juga berpengaruh besar. Dengan pemakaian lebih bijak, perawatan tepat, serta pemilihan perangkat sesuai kebutuhan, daya tahan ponsel bisa lebih lama dari yang diperkirakan. Oleh karena itu, apakah ponsel sekarang benar-benar lebih mudah rusak? Jawabannya bergantung pada perspektif dan kebiasaan penggunaan masing-masing orang.

Baca juga artikel terkait TEKNOLOGI atau tulisan lainnya dari Yoga Cholandha

tirto.id - Teknologi
Kontributor: Yoga Cholandha
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin