tirto.id - Ratusan mahasiswa dengan dominasi massa dari Universitas Diponegoro (Undip) menggelar demonstrasi di depan Kantor Gubernur Jawa Tengah, Jumat (12/6/2026) sore hingga petang.
Mereka membawa poster, spanduk, dan pengeras suara mengkritik kondisi negara yang dinilai sedang terpuruk. Massa aksi berkerumun di depan gerbang Gubernuran dan berorasi secara bergantian.
Beberapa orator membakar semangat dengan meneriakkan kata "revolusi" berulang kali. Suara iti menggema dari kerumunan massa.
"Revolusi... revolusi... revolusi!," teriak massa.
Seruan itu disambut tepuk tangan dan kepalan tangan. Para demonstran juga kompak memekikkan kata serupa dengan nada penuh emosi. Sebagian dari mereka sambil mengangkat poster berisi kritik terhadap pemerintah.
Aksi tersebut merupakan bagian dari konsolidasi gerakan mahasiswa Jawa Tengah yang membawa sembilan tuntutan kepada pemerintah.
Mereka mendesak penguatan nilai tukar rupiah, penurunan harga BBM bersubsidi, hingga realisasi janji penciptaan 19 juta lapangan pekerjaan.
Beberapa orator juga secara spesifik mengkritik program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program unggulan pemerintahan Prabowo-Gibran itu dinilai perlu dievaluasi secara menyeluruh.
Ketua BEM Undip, Nur Maajid Taufiqurrahman, mengatakan keresahan mahasiswa berangkat dari kondisi ekonomi yang menurut mereka semakin membebani masyarakat.
"Hari ini krisis ekonomi sudah di depan mata. Harga BBM naik, nilai tukar rupiah melemah, sementara masyarakat terus menghadapi kenaikan biaya hidup. Pemerintah harus mendengar keresahan ini sebelum situasinya semakin buruk," kata Maajid.
Ia menilai pemerintah perlu mengevaluasi berbagai kebijakan yang dianggap tidak memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat.
Menurutnya, anggaran negara seharusnya lebih banyak diarahkan untuk memperkuat jaminan sosial, subsidi pupuk, layanan kesehatan, serta akses pendidikan daripada membiayai program yang dinilai belum memberikan efek pengganda bagi perekonomian.
"Kalau ada efisiensi anggaran, mestinya dialihkan ke kebijakan yang lebih produktif untuk masyarakat. Bukan justru dipakai untuk program yang belum terbukti mampu menggerakkan ekonomi di bawah," ujarnya.
Maajid mengaku pesimistis terhadap kondisi ekonomi nasional. Ia menilai tingginya utang negara, pelemahan rupiah, hingga arus keluar investasi asing menjadi sinyal yang tidak bisa diabaikan.
"Kalau ditanya seberapa parah, saya bilang sudah sangat parah," katanya.
Di tingkat daerah, ia juga mengkritik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dinilai belum mampu menyelesaikan persoalan mendasar seperti banjir Semarang, konflik agraria, hingga berbagai proyek strategis nasional yang menuai penolakan masyarakat pesisir dan petani.
Meski begitu, Maajid mengatakan gerakan mahasiswa tidak akan berhenti pada aksi hari ini. Ia menyebut konsolidasi lanjutan sedang disiapkan bersama berbagai elemen mahasiswa di Jawa Tengah.
Penulis: Baihaqi Annizar
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id





























