Menuju konten utama

DBS Foundation Perkuat Bisnis Sosial untuk Dampak Nyata

DBS Foundation mendukung wirausaha sosial di sektor pertanian, kesehatan, dan disabilitas melalui hibah untuk memperluas dampak berkelanjutan.

DBS Foundation Perkuat Bisnis Sosial untuk Dampak Nyata
DBS Foundation menciptakan dampak sosial berkelanjutan melalui penguatan wirausaha sosial. (FOTO/dok. DBS Foundation)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan tidak selalu dilakukan melalui program bantuan. Bagi DBS Foundation, perubahan juga dapat didorong melalui penguatan wirausaha sosial yang menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat, mulai dari sektor pertanian, kesehatan, hingga ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas.

Komitmen tersebut merupakan bagian dari visi PT Bank DBS Indonesia untuk menjadi Best Bank for a Better World. Melalui DBS Foundation, perusahaan menyalurkan berbagai program hibah guna mendukung organisasi dan perusahaan sosial yang mampu menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.

Head of Group Strategic Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, mengatakan bahwa DBS menjalankan agenda keberlanjutan melalui tiga pilar utama, yakni responsible banking, responsible business practices, dan impact beyond banking. Pilar terakhir menjadi ruang bagi DBS Foundation untuk memperluas dampak sosial di luar layanan perbankan.

"Kami ingin menjadi best bank for a better world. Karena itu, melalui DBS Foundation kami berupaya menciptakan dampak positif yang melampaui layanan perbankan. Semakin banyak bisnis yang memberikan dampak sosial, semakin banyak pula solusi yang bisa ditawarkan untuk menjawab berbagai tantangan di masyarakat," kata Mona Monika, Selasa (23/6/22026).

Salah satu program unggulan DBS Foundation adalah Business for Impact, yakni program hibah bagi wirausaha sosial yang menawarkan solusi atas berbagai masalah sosial. Melalui program ini, pelaku usaha sosial dapat mengajukan pendanaan hingga 250 ribu dolar Singapura untuk mengembangkan inisiatif mereka.

Selain itu, DBS Foundation juga menjalankan program pemberdayaan masyarakat melalui kemitraan dengan organisasi nonpemerintah serta Impact Beyond Award yang memberikan pendanaan lebih besar kepada wirausaha sosial yang menghadirkan solusi bagi tantangan masyarakat menua.

Mona menambahkan, sejak 2024 DBS mengalokasikan tambahan dana sebesar 1 miliar dolar Singapura untuk DBS Foundation yang akan disalurkan selama 10 tahun ke depan di enam negara tempat DBS beroperasi, termasuk Indonesia.

Membuka Jalan Ekspor bagi Petani Kecil

Salah satu penerima dukungan DBS Foundation adalah Java Fresh, perusahaan sosial yang bergerak di bidang ekspor buah segar Indonesia.

Co-Founder dan CEO Java Fresh, Margareta Astaman, menjelaskan bahwa perusahaannya bekerja sama dengan sekitar 3.000 petani kecil di berbagai daerah di Sumatra, Jawa, dan Bali untuk mengekspor buah-buahan premium seperti manggis, salak, dan jeruk purut ke 25 negara.

Margareta mengatakan Indonesia sebenarnya termasuk produsen buah tropis terbesar di dunia. Namun, sebagian besar petani merupakan petani kecil dengan lahan terbatas sehingga kesulitan memenuhi standar kualitas pasar ekspor.

“Kami melihat persoalannya bukan pada produksi, melainkan kualitas. Karena itu kami masuk ke tingkat petani untuk melakukan pendampingan budidaya, sertifikasi, hingga memperbaiki sistem perdagangan agar petani memperoleh nilai yang lebih baik,” ujarnya.

Java Fresh juga memberdayakan perempuan di pedesaan melalui enam fasilitas pengemasan (packing house). Hampir seluruh pekerja di fasilitas tersebut merupakan perempuan yang sebelumnya memiliki akses terbatas terhadap pekerjaan formal.

Dukungan DBS Foundation dimanfaatkan untuk memperkuat riset dan pengembangan teknologi pascapanen, termasuk memperpanjang masa simpan buah segar sehingga dapat dikirim menggunakan kapal kontainer. Teknologi ini diharapkan dapat memperluas pasar ekspor sekaligus meningkatkan jumlah petani dan pekerja perempuan yang diberdayakan.

Memanfaatkan AI untuk Memperluas Layanan Kesehatan

Penerima hibah lainnya adalah DoctorTool, perusahaan teknologi kesehatan yang berfokus pada digitalisasi layanan kesehatan primer.

Co-Founder dan Chief Commercial Officer DoctorTool, Elsa, mengatakan perusahaan tersebut lahir dari keprihatinan terhadap kesenjangan akses layanan kesehatan di berbagai daerah Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa.

Saat ini DoctorTool telah melatih lebih dari 22.000 tenaga kesehatan di lebih dari 2.500 klinik dan fasilitas layanan kesehatan. Perusahaan tersebut membantu dokter dan tenaga medis melakukan transformasi digital melalui penggunaan rekam medis elektronik, sistem antrean, hingga integrasi layanan farmasi.

Menurut Elsa, teknologi memungkinkan dokter mengurangi waktu administratif sehingga dapat lebih fokus melayani pasien. Pasien juga memperoleh manfaat berupa waktu tunggu yang lebih singkat dan proses layanan yang lebih efisien.

Melalui dukungan DBS Foundation, DoctorTool kini mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu tenaga kesehatan dalam pengambilan keputusan klinis. Teknologi tersebut mampu merangkum riwayat kesehatan pasien, memberikan peringatan terkait risiko pengobatan, hingga membantu dokumentasi medis secara otomatis.

“AI bukan untuk menggantikan dokter, tetapi membantu dokter agar lebih produktif dan memiliki lebih banyak waktu untuk berinteraksi dengan pasien,” kata Elsa.

Perusahaan tersebut menargetkan sekitar 1,9 juta penerima manfaat dari pengembangan teknologi AI yang difokuskan pada layanan kesehatan tingkat pertama, terutama bagi peserta BPJS Kesehatan di berbagai daerah.

Mendorong Dunia Kerja yang Lebih Inklusif

Sementara itu, KONEKIN memanfaatkan dukungan DBS Foundation untuk memperluas akses kerja bagi penyandang disabilitas.

Founder dan CEO KONEKIN, Martella Siregar, mengatakan organisasinya sejak 2018 berupaya menjembatani kebutuhan perusahaan dengan talenta disabilitas. Selain memberikan pelatihan kepada pencari kerja, KONEKIN juga membantu perusahaan membangun lingkungan kerja yang lebih inklusif.

Menurut Martella, tantangan terbesar bukan hanya membuka peluang kerja, tetapi juga mengubah cara pandang terhadap penyandang disabilitas.

“Yang ingin kami bangun adalah pemahaman bahwa penyandang disabilitas diterima bekerja bukan karena belas kasihan, melainkan karena kompetensinya sesuai dengan kebutuhan pekerjaan,” ujarnya.

Melalui hibah DBS Foundation, KONEKIN mengembangkan platform berbasis AI yang membantu penyandang disabilitas menyusun CV yang ramah terhadap sistem rekrutmen digital, mengakses peluang kerja, serta terhubung langsung dengan perusahaan.

KONEKIN juga memperluas kapasitas pelatihan dari sekitar 150 peserta menjadi 500 peserta serta menjalin kerja sama dengan kawasan industri untuk meningkatkan penyerapan tenaga kerja disabilitas di sektor manufaktur.

Bagi DBS Foundation, kisah Java Fresh, DoctorTool, dan KONEKIN menunjukkan bahwa bisnis tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga dapat menjadi solusi atas berbagai persoalan sosial. Melalui pendanaan, pendampingan, dan penguatan kapasitas, DBS berharap semakin banyak wirausaha sosial yang tumbuh dan menghadirkan perubahan berkelanjutan bagi masyarakat Indonesia.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis