Menuju konten utama

CNG Merah Putih Siap Gantikan LPG 3 Kg, Harga Tidak Berubah

Meski tetap disubsidi, Bahlil memperkirakan peralihan dari LPG ke CNG justru dapat menghemat belanja subsidi negara secara signifikan.

CNG Merah Putih Siap Gantikan LPG 3 Kg, Harga Tidak Berubah
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers usai rapat koordinasi (rakor) terkait kebijakan baru tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2026). Rakor tersebut untuk mengoordinasikan kebijakan baru tata kelola ekspor sumber daya alam (SDA) antara Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mematangkan uji coba tabung gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) berukuran 3 kilogram sebagai alternatif pengganti Liquefied Petroleum Gas (LPG) bersubsidi.

Program yang diberi nama Tabung Merah Putih ini direncanakan mulai diuji pada Juli 2026 dengan harga jual yang disamakan dengan LPG 3 kg.

Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, memastikan pemerintah tetap akan memberikan subsidi bagi CNG yang diperuntukkan bagi rumah tangga. Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang meminta agar kepentingan rakyat, terutama yang membutuhkan bantuan energi tetap menjadi prioritas.

Meski tetap disubsidi, Bahlil memperkirakan peralihan dari LPG ke CNG justru dapat menghemat belanja subsidi negara secara signifikan.

"CNG itu sudah dilakukan kajian, harganya jauh lebih murah. Kurang lebih sekitar 30 persen lah lebih murah. Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya ada di kita, dalam negeri,” kata Bahlil di Istana Kepresidenan, dikutip Rabu (6/5/2026).

Ia menjelaskan, penghematan tersebut berasal dari seluruh rantai pasok CNG yang dapat dipenuhi dari sumber gas domestik, berbeda dengan LPG yang 75 hingga 80 persen masih bergantung pada impor. Dengan konversi ini, Bahlil memperkirakan Indonesia bisa menghemat devisa sekitar Rp130 triliun hingga Rp137 triliun.

Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menjelaskan bahwa pemerintah saat ini sedang menyiapkan sekitar 15 unit prototipe tabung CNG Merah Putih yang akan menjalani serangkaian pengujian di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) mulai Juli 2026.

"Jadi Juli ini sedang dibuat prototipe untuk diuji. Jadi diuji itu belasan lah, mungkin sekitar 15. Ya, setara 3 kilogram LPG," kata Laode saat ditemui di Kompleks DPR RI, Jakarta, dikutip Rabu (1/7/2026).

Pengujian akan difokuskan pada aspek keamanan, meliputi uji tekanan tabung dan keandalan katup (valve) yang terintegrasi dengan tabung impor dari China.

Berbeda dengan tabung LPG berbahan logam, CNG Merah Putih menggunakan teknologi tabung tipe 4 berbahan material komposit. Teknologi ini membuat bobot tabung jauh lebih ringan sehingga dinilai lebih praktis digunakan masyarakat, terutama ibu rumah tangga.

"Tipe 1 semua logam, tipe 2 sudah mulai ada campuran yang meringankan sampai dengan tipe 3 tapi masih berat (bobotnya). Oleh karena itu kita harus membuat yang lebih ringan agar emak-emak nanti nggak merasa oh ini kok penggantinya berat," ujar Laode.

Indonesia bahkan disebut berpeluang menjadi negara pertama di dunia yang menggunakan tabung CNG tipe 4 ukuran 3 kilogram untuk kebutuhan rumah tangga.

Laode mengatakan bahwa penerapan CNG Merah Putih akan dilakukan secara bertahap, dimulai dari kota-kota besar di Pulau Jawa yang memiliki jaringan pipa gas yang lebih memadai.

"Kita prioritaskan dulu yang dari pipa. Biar harganya lebih ekonomis. Makanya uji cobanya Pak Menteri sudah sampaikan di kota-kota besar di Pulau Jawa dulu. Yang memang jalur gas dari pipanya lebih banyak," jelasnya.

Meskipun prototipe tabung diimpor dari Cina, pemerintah membuka peluang untuk memproduksi tabung CNG di dalam negeri apabila permintaan telah meningkat. Hal ini sekaligus membuka peluang investasi dari Cina untuk membangun pabrik di Indonesia.

“Ada peluang untuk itu (investasi), kalau jumlahnya masif kan kita punya bargaining untuk minta mereka bangun di sini,” katanya.

Baca juga artikel terkait GAS LPG atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Andrian Pratama Taher