Menuju konten utama

Cerita Para Pemburu Uang Baru Jelang Lebaran

Penukaran uang baru secara resmi melalui Bank Indonesia dan sejumlah perbankan dinilai berbelit. Masyarakat pun lebih memilih pengecer di pinggir jalan.

Cerita Para Pemburu Uang Baru Jelang Lebaran
Warga menukarkan uang pecahan rupiah di mobil layanan Kas Keliling Bank Indonesia di Masjid At-Tin, Jakarta, Rabu (25/2/2026). Bank Indonesia menyiapkan Rp8,6 triliun untuk layanan penukaran uang dengan nominal sebesar Rp5,3 juta per paket yang tersedia di 2.883 lokasi di seluruh Indonesia dalam program Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (SERAMBI) 2026. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/tom.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kegiatan ngabuburit tak lagi sekadar diisi dengan berburu takjil atau mendaras Al-Qur’an. Bagi Tegar Jihad, pekerja swasta di Jakarta Pusat, waktu menjelang berbuka justru dimanfaatkan untuk mencari tempat penukaran uang pecahan kecil.

Aktivitas ini rutin ia lakukan setiap tahun menjelang Hari Raya Idulfitri. Tahun ini, perburuan itu ia lakukan di kawasan Kota Tua. Di wilayah tersebut, jasa penukaran uang mudah ditemukan—mulai dari trotoar, stasiun, halte, hingga selasar museum. Pelakunya beragam, dari anak muda hingga orang tua, begitu pula para pelanggannya.

Tegar mengaku memilih jasa penukaran uang di pinggir jalan karena enggan melalui prosedur yang dianggap berbelit. Ia sempat berniat menukar uang secara resmi melalui Bank Indonesia lewat aplikasi PINTAR. Namun, kesibukan membuatnya tak sempat mengikuti prosedur tersebut. Akibatnya, ia kehabisan kuota dan terpaksa beralih ke jasa tidak resmi.

"Tadinya mau ke BI, tapi sudah enggak ada duit lagi yang bisa ditukar [di BI]. Ya mau enggak mau jadinya yang di pinggir jalan, ini sekalian ke Kota Tua buat nunggu magrib," tuturnya kepada Tirto.

Menurut Tegar, ia menukarkan uang senilai Rp1 juta di kawasan Kota Tua, masing-masing Rp500 ribu dalam pecahan Rp5.000 dan Rp500 ribu dalam pecahan Rp50 ribu.

Awalnya, ia sempat mempertimbangkan biaya administrasi yang biasa dipatok oleh penyedia jasa penukaran uang di pinggir jalan. Namun, kebutuhan untuk segera menukar uang sebelum mudik pada Senin pekan depan membuatnya tak punya banyak pilihan.

"Sebenarnya mau enggak mau tukar dulu sebelum mudik kan. Jadi ya saya tukar uangnya sekarang. Kalau di pinggir jalan itu kan suka ada biaya admin, saya takutnya dimahalin karena sudah dekat lebaran. Tapi mau bagaimana lagi, yang di instansi-instansi itu sudah habis [stok penukaran uang mereka]," urai Tegar.

infografik tukar uang

infografik tukar uang

Saat menukarkan uang, Tegar dikenai biaya administrasi sebesar Rp60 ribu untuk penukaran Rp500 ribu dalam pecahan Rp5.000. Sementara itu, untuk penukaran Rp500 ribu dalam pecahan Rp50 ribu, ia dikenai biaya Rp40 ribu. Total, ia membayar biaya administrasi sebesar Rp100 ribu untuk penukaran Rp1 juta.

"Kalau dibilang worth it apa enggak, sebenernya tergantung kebutuhan juga. Karena saya butuhnya cepat, sebelum mudik sudah harus tukar [uang], ya saya enggak apa-apa [untuk membayarkan biaya administrasi]," sebutnya.

Tegar mengaku sempat mencoba berbagai cara untuk menukar uang tanpa biaya tambahan, termasuk mendatangi langsung kantor cabang bank. Namun, kantor cabang di dekat rumahnya juga menerapkan sistem pre-order.

Sementara itu, ia baru sempat mengurus penukaran uang pada pekan ini, atau sekitar sepekan sebelum Lebaran 2026. Karena itu, ia memaklumi jika harus mengeluarkan biaya lebih untuk mendapatkan uang pecahan kecil.

Uang yang ditukarkan tersebut rencananya akan dibagikan sebagai tunjangan hari raya (THR) kepada saudara-saudaranya di kampung halaman. Nominal yang diberikan pun bervariasi, mulai dari Rp50 ribu hingga Rp200 ribu.

"[Saudara] yang masih kecil-kecil itu ya dikasihnya kecil, kalau sudah ada yang besar tapi belum kerja, itu dikasihnya [uang] juga besar," tutur dia.

Hal senada turut disampaikan Bachtiar Yusuf (34), pekerja di Jakarta Pusat. Ia mengaku baru berkesempatan menukarkan uang pada satu pekan sebelum Lebaran 2026.

Tak ingin kerepotan mengikuti sistem preorder, Yusuf langsung menukarkan uang di pinggir jalan di kawasan Cakung, Jakarta Timur. Total uang yang hendak Yusuf tukar sebanyak Rp3 juta.

Namun, ia membagi dua skema penukaran uang tersebut bersama sang istri. Yusuf menukarkan uang secara langsung di pinggir jalan, sedangkan sang istri menukarkan uang di kantornya.

"Kantor istri kebetulan ada yang menyediakan penukaran uang gitu. Itu juga misal menukarkan Rp500 ribu, ya Rp500 ribu [yang ditukarkan], jadi enggak ada biayanya. Di kantor istri tukar Rp2 juta, emang itu maksimalnya segitu, saya kebagian tuker uang yang Rp1 juta," urai Yusuf.

Melalui jasa tukar uang pinggir jalan, ia mengubah Rp1 juta menjadi uang baru dengan nominal Rp10 ribu dan Rp50 ribu. Biaya administrasinya beragam, tergantung redenominasi yang diinginkan.

Biasanya, menurut Yusuf, semakin kecil nominal yang hendak ditukarkan, semakin tinggi biaya administrasi yang harus dibayarkan. Secara total, ongkos yang ia keluarkan untuk penukaran uang tersebut mencapai Rp100 ribu. Meski begitu, Yusuf mengaku tidak mempersoalkan biaya administrasi yang harus ia bayarkan.

"Ada biaya-biaya tambahan buat mereka [orang penukaran uang pinggir jalan] itu kan normal ya, uang yang kita dapat juga uang baru, buat saya enggak ada masalah," ucapnya.

Yusuf bercerita, tradisi tukar uang baru jelang Lebaran baru ia mulai setelah berkeluarga. Sebabnya sederhana: sebagai dewasa, ia merasa dituntut menyisihkan "jatah THR" kepada suadara-saudaranya. Sebelum menikah, tradisi itu tak ia lakukan lantaran uang tersebut ia titipkan kepada Ibunya untuk dibagikan.

Kini, bersama sang istri, ia memberikan THR tersebut secara langsung. Mereka meletakkan uang itu di dalam amplop. Sang istri turut memberikan tulisan tangan di setiap amplop yang mereka berikan.

"Sekarang kan sudah berkeluarga ya, jadi istri saya ngasi [THR] di amplop gitu, ada suratnya juga [di dalam amplop]," ungkap Yusuf.

Pelayanan penukaran uang di Pasar Palmerah

Warga menunjukan uang rupiah baru yang baru saja ditukarkan pada mobil kas keliling Bank Indonesia (BI) di Pasar Palmerah, Jakarta, Senin (18/3/2024). ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal

Dewianti adalah salah satu penyedia jasa penukaran uang di kawasan Kota Tua. Seperti tahun-tahun sebelumnya, ia hanya turun ke jalan pada momen musiman, yakni menjelang Lebaran.

Semakin dekat dengan Hari Raya Idulfitri, jumlah masyarakat yang menukarkan uang kepadanya pun kian meningkat. Hal ini seiring dengan semakin terbatasnya layanan penukaran uang dari berbagai instansi resmi.

"Kalau saya cuma musiman aja sih, kalau mau lebaran begini [baru menyediakan jasa penukaran uang]. Sehari bisa ada puluhan orang [yang menukar uang]. Apa lagi, dekat-dekat Lebaran, ya makin meningkat [jumlah orang yang menukarkan uang]," tutur Dewianti.

Seperti halnya penyedia jasa penukaran uang di pinggir jalan lainnya, Dewianti menerapkan biaya tambahan kepada masyarakat. Ia mematok “bunga” sebesar 12 persen dari nilai uang yang ditukarkan.

Dengan demikian, untuk penukaran Rp500 ribu, masyarakat dikenai biaya sekitar Rp60 ribu. Dewianti mengakui, belakangan semakin banyak warga yang mencoba menawar ongkos tersebut.

Namun, ia belum bersedia menurunkan tarif. Sebab, menurutnya, keuntungan dari jasa ini hanya berasal dari biaya tersebut.

Di balik peluang keuntungan itu, Dewianti menilai pekerjaan ini juga menyimpan risiko. Ia menyebut, praktik penipuan kerap terjadi dan menyasar para penyedia jasa penukaran uang.

Salah satu rekannya pernah menjadi korban. Dalam sebuah transaksi, pelanggan tidak turun dari sepeda motor saat melakukan penukaran. Setelah menerima uang, pelanggan tersebut langsung melarikan diri.

"Dulu teman saya pernah dibawa kabur Rp2 juta. Itu posisi motornya [masyarakat tak bertanggung jawab] masih nyala, terus sama teman saya uangnya sudah dikasih duluan," kata Dewianti.

Pengalaman itu membuat Dewianti lebih berhati-hati. Ia menerapkan sejumlah syarat bagi pelanggan, seperti wajib turun dari kendaraan serta menunjukkan bukti pembayaran atau transfer sebelum menerima uang.

"Pokoknya harus hati-hati kalau ada yang mau tukar uang. Bukannya apa-apa, saya enggak curiga sama sekali, tapi emang mengurangi resiko [pekerjaan]," ungkap Dewianti.

Tingginya aktivitas penukaran uang menjelang Lebaran juga tercermin dari data resmi Bank Indonesia (BI). Kepala Departemen Pengelolaan Uang BI, Muh. Anwar Bashori, menyebut animo masyarakat untuk menukarkan uang Rupiah tahun ini meningkat signifikan.

Hingga 13 Maret 2026, jumlah penukar melalui layanan resmi tercatat mencapai 1.076.282 orang, melonjak sekitar 85,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 580.496 orang.

Untuk mengakomodasi lonjakan tersebut, BI memperluas jangkauan layanan penukaran. Jumlah titik layanan ditingkatkan dari 5.202 pada tahun sebelumnya menjadi 9.294 layanan pada tahun ini, sehingga akses masyarakat semakin luas.

Menurut BI, tingginya permintaan ini tidak lepas dari kebutuhan uang pecahan kecil untuk tradisi berbagi, pemberian tunjangan hari raya (THR), hingga aktivitas ekonomi selama Ramadan dan Idulfitri.

BI juga menambah layanan penukaran melalui program “SERAMBI Peduli Mudik” pada 16-17 Maret 2026 di 55 titik strategis, seperti bandara, stasiun, terminal, pelabuhan, hingga rest area. Program ini menyediakan sekitar 11.900 paket penukaran bagi para pemudik.

Selain itu, BI memastikan ketersediaan uang Rupiah dalam jumlah cukup dan pecahan yang sesuai melalui berbagai kanal resmi, mulai dari kas keliling, layanan terpadu, hingga perbankan.

BI pun mengimbau masyarakat untuk menukarkan uang hanya melalui layanan resmi. "Penukaran melalui mekanisme jual beli di luar layanan resmi memiliki berbagai risiko, antara lain keaslian uang tidak terjamin, jumlah uang sulit dipastikan akurat, tidak memiliki perlindungan atau pertanggungjawaban, serta rawan penipuan yang dapat merugikan masyarakat secara finansial," jelasnya.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - News Plus
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana