tirto.id - "Aku akan memerdekakanmu, tetapi dengan syarat engkau melayani Rasulullah seumur hidup," ujar Ummu Salamah kepada budaknya.
Sang budak menjawab dengan tenang, "Bahkan tanpa syarat itu pun, aku tidak akan meninggalkan Rasulullah sepanjang hidupku."
Peristiwa yang termaktub dalam hadis riwayat Abu Dawud Nomor 3932 itu bukan sekadar pembebasan seorang hamba, melainkan awal dari perjalanan hidup seorang lelaki yang kelak dikenal dengan nama Safinah.
Safinah, yang sebelumnya berkhidmat di keluarga Abu Salamah, adalah seorang budak asal Persia. Namun, saat kebebasan diberikan, ia tidak melangkah pergi. Safinah justru memilih tinggal seolah menemukan tempat pulang yang selama ini ia cari.
Memang, pengabdian kepada Rasulullah menjadi syarat dari Ummu Salamah. Namun, pilihan itu sejatinya telah lebih dahulu tumbuh dalam hati Safinah. Ia menyerahkan hidupnya untuk melayani Sang Rasul, dan dengan setia menyertai beliau dalam setiap langkah hingga akhir hayat Nabi.
Asal-usul Sang Kapal
Safinah hanya nama panggilan. Nama aslinya tak ada yang dapat memastikan. Dalam Siyar A'lam an-Nubala karya Adz-Dzahabi, lelaki asal Persia ini disebut memiliki beberapa kemungkinan nama, seperti Mihran, Ruman, atau Qais. Riwayat lain, Subulul Huda wal Rasyad karya Muhammad bin Yusuf As-Shalihi al-Shami, juga menyebut nama-nama berbeda, seperti Bahran, Syunbah, hingga Umair.
Julukan Safinah lahir dari sebuah peristiwa di tengah terik matahari dan hamburan debu. Dalam perjalanan militer, para sahabat Nabi tengah kepayahan, sementara barang yang mereka bawa lama-lama jadi beban. Melihat Safinah, seorang sahabat melemparkan jubah untuk dibawanya. Sahabat berikutnya menitipkan perisai, sedangkan yang lain menyerahkan pedang. Lambat laun, beban yang ditanggung Safinah makin banyak. Di tengah barisan pasukan yang mulai lunglai, Safinah bergerak sebagai tumpuan terakhir. Ketika itulah Rasulullah berpaling padanya, sembari berkata, "Pikullah, karena sesungguhnya engkau adalah Safinah (kapal)."
Dalam sekejap, Safinah tak lagi merasakan beban yang mendera. Bukan karena barang-barang yang dibawanya lenyap, tetapi karena sabda Rasulullah sang manusia paling mulia, telah meringankan hatinya. Bahkan, Safinah kemudian menuturkan, "Seandainya pada hari itu aku memikul beban seberat tujuh unta sekalipun, niscaya tidak akan terasa berat."
Saksi Keseharian Nabi
Safinah menjadi salah satu orang yang memegang peranan dalam meriwayatkan keseharian keluarga Nabi.
Dalam riwayat Tirmidzi Nomor 56, Safinah menuturkan bahwa "Nabi saw. berwudu dengan air sebanyak satu mud dan beliau mandi dengan satu sha'." Satu mud, atau cakupan penuh dua telapak tangan orang dewasa yang digabungkan, adalah sekitar satu botol minum sedang ukuran 750 ml. Sementara itu, satu sha’ yang setara 4 mud, adalah sekitar 3 botol air mineral ukuran besar.
Safinah juga merekam ketegasan Nabi dalam menjaga adab hunian. Dalam hadis riwayat Abu Dawud Nomor 3755, dikisahkan suatu hari Ali bin Abi Thalib sedang menjamu seorang tamu dan menyiapkan hidangan. Di tengah suasana itu, terlintas keinginan sederhana dari Fatimah, alangkah baiknya jika Rasulullah turut hadir dan makan bersama. Undangan pun disampaikan.
Nabi datang, melangkah hingga ke ambang pintu. Namun, langkahnya terhenti saat melihat tirai bergambar di dalam rumah. Beliau tidak bergerak lebih jauh. Tanpa sepatah pun teguran, tanpa nada menghakimi, Nabi berbalik arah dan pergi.
Keheningan janggal tadi menimbulkan tanya. Safinah menuturkan, ketika itu Ali bergegas menyusul, bertanya tentang apa yang membuat beliau berpaling. Nabi menjawab singkat, "Tidak pantas seorang nabi memasuki rumah yang dihiasi."
Kedua kisah tersebut adalah bagian dari belasan hadis yang dituturkan Safinah tentang Rasulullah. Ia memang tidak meninggalkan ribuan catatan dalam lembaran sejarah. Jumlahnya terbatas, itu pun sudah termasuk beberapa pengulangan untuk peristiwa yang sama. Namun, dari kumpulan narasi yang sedikit itu, ia memberikan gambaran tentang bagaimana Nabi merawat prinsip di balik pintu rumah beliau.
Pada akhirnya, Safinah tak selamanya bersandar di dekat Nabi. Ketika Rasulullah berpulang, Safinah membawa muatan ingatannya berlayar jauh. Ia melintasi batas negeri hingga menjadi legenda di tanah asing.
Pelabuhan Terakhir
Bertahun-tahun setelah Nabi wafat, nama Safinah melegenda lewat sebuah peristiwa ajaib di belantara Romawi. Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa setelah kapal yang ia tumpangi karam, Safinah terdampar dan tersesat.
Seekor singa lapar muncul di hadapannya. Dalam posisi yang mustahil untuk melawan, Safinah tidak menghunus senjata. Ia justru melakukan hal yang tak terduga, memperkenalkan diri dengan julukan yang diberikan Nabi.
"Wahai Singa, aku adalah Safinah, maula Rasulullah," ucapnya dengan tenang.
Singa itu tidak menerkamnya. Sang raja hutan justru menundukkan kepala, menggosokkan bahunya ke tubuh Safinah, dan berjalan di sampingnya. Julukan "sang perahu" yang diberikan Nabi untuknya, seolah menjadi tanda kemuliaan sehingga bahkan makhluk liar pun tunduk kepadanya.
Perjalanan Safinah tidak berhenti pada kisah-kisah pengabdian dan keajaiban. Pada masa senjanya, ia memikul beban yang jauh lebih berat daripada logistik perang. Beban itu tak lain adalah menyaksikan takdir berjalan sepeninggal Nabi dan para sahabat. Berusia hingga sekitar 70 tahun, menjelang akhir hayatnya di Irak, Safinah berdiri sebagai jangkar memori atas masa depan politik umat yang kian bergejolak.
Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi (Nomor 2226), Safinah menyampaikan pesan Rasulullah, "Kekhalifahan pada umatku adalah tiga puluh tahun, kemudian setelah itu adalah kerajaan (mulkan)."
Safinah meminta Sa’id bin Jumhan menghitung masa kekhalifahan Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Setelah itu, ia berkata, "Hitung pula kekhalifahan Ali bin Abi Thalib." Hasilnya, Sa’id mendapati angka yang presisi: memang tepat 30 tahun.
Sa’id bin Jumhan menyebut bahwa Bani Umayyah mengklaim kekhalifahan ada pada mereka. Namun, Safinah menjawab, "Mereka berbohong. Mereka adalah kerajaan, bahkan termasuk seburuk-buruknya kerajaan."
Safinah wafat pada masa kekuasaan Al-Hajjaj bin Yusuf di Irak. Ia berpulang ketika jangkar kebenaran sejarah telah tertambat kuat di benak para penerus. Bakti Safinah kepada Rasulullah dijalankan sepanjang hayat; ia tidak hanya menyaksikan kala Islam tumbuh dan berjaya, tetapi juga tegar menjadi saksi ketika badai politik mulai mengombang-ambingkan arah umat.
Dahulu, punggung Safinah kuat memikul beban demi meringankan langkah para sahabat. Pada masa senja, ingatannya memikul beban sejarah agar tak karam oleh klaim penguasa. Raga seorang hamba mungkin bisa dibeli, dan kemudian dibebaskan. Namun, kesetiaan adalah pilihan yang tidak bisa dipaksakan. Safinah membuktikan bahwa kesetiaan sebagai pelayan Nabi, membuatnya jadi perahu di samudra riwayat nan abadi, membawa pesan Rasulullah melintasi zaman hingga hari ini.
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id


































