Menuju konten utama

BNPB soal Penanganan Karhutla: Kualitas Udara Kalbar Berbahaya

Saat ini, Kalbar masih memiliki 61 titik api dengan luas terbakar sebesar 802 hektar lebih. Luas lahan yang berhasil dipadamkan sebesar 432 hektar lebih.

BNPB soal Penanganan Karhutla: Kualitas Udara Kalbar Berbahaya
Personel BPBD Provinsi Kalimantan Barat berjalan di lokasi lahan gambut yang terbakar di Dusun Sidomulyo, Desa Limbung, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Minggu (2/8/2026). BMKG Kalimantan Barat mencatat hasil pantauan sensor VIIRS dan MODIS pada satelit polar per 1 Agustus 2026 menunjukkan terdapat 762 titik panas kebakaran hutan dan lahan yang tersebar di 12 kabupaten di provinsi setempat yaitu antara lain Ketapang, Sanggau, Sekadau, Melawi, dan Kubu Raya. ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/sgd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengungkapkan perkembangan atau situasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di beberapa provinsi.

Berdasarkan data terbaru BNPB, sejak kemarin Kalimantan Barat (Kalbar) masih memiliki 61 titik api dengan luas terbakar sebesar 802 hektar lebih. Luas lahan yang berhasil dipadamkan sebesar 432 hektar lebih.

"Kualitas udara dapat kami sampaikan kategori berbahaya dengan jarak pandang adalah di bawah 1 kilometer," ucap Berton saat konferensi pers di BNPB, Jakarta Timur, Jumat (4/9/2026).

Ia menjelaskan, Satgas Darat sebanyak 14.563 personel dikerahkan dan berhasil memadamkan 429,9 hektar. Lalu Satgas Udara masih terus berpatroli mengawasi, memantau, dan melihat situasi secara umum melalui angkasa.

"Kami deploy 1 armada [Satgas Udara] dengan operasi 3 jam sampai 16 menit. Adapun operasi Satgas Udara ini dibarengi juga dengan water bombing atau penyebaran air melalui helikopter di udara," jelasnya.

Menurutnya, perhatian BNPB terhadap wilayah Kalimantan Barat sangat besar, akibat lahan gambut yang tebal terbakar sehingga membutuhkan penanganan dan pengawasan yang lebih lama.

"Termasuk pendinginan untuk memastikan api tidak muncul kembali. Membutuhkan air yang banyak karena untuk pendinginan ini jauh lebih banyak dibutuhkan daripada saat mematikan atau memadamkan," tutur Berton.

Lalu, wilayah Kalimantan Tengah, pihaknya menemukan 70 titik api dengan luas lahan terbakar sebesar 225 hektar. Lahan dapat dipadamkan sekira 197 hektar, kualitas udara tidak sehat dengan jarak pandang hanya 2,5 kilometer.

"Operasi pemadaman ini dilaksanakan melalui Satgas Darat sebesar 4.686 orang dikerahkan untuk memadamkan 197 hektar," imbuhnya.

Pihaknya juga melakukan operasi Satgas Udara untuk melakukan pemantauan maupun water bombing. Namun khusus Kalimantan Tengah, terkendala melakukan hal tersebut karena situasi dan kondisi di lapangan yang kurang memungkinkan.

"Namun, operasi modifikasi cuaca dilakukan hanya 1 kali dan ini menyemaikan 800 kilogram garam. Pemadaman tentu tetap dilaksanakan, ini utamanya melalui Satgas Darat memprioritaskan titik api yang masih aktif untuk selanjutnya dilakukan pendinginan," kata Berton.

Menurutnya jarak pandang yang rendah membuat operasi udara terbatas dilaksanakan Proses aktivitas masih seperti biasa, namun tetap masyarakat untuk menggunakan masker.

Selanjutnya, Kalimantan Selatan tercatat masih ditemukan sebanyak 56 titik api dengan luas lahan yang terbakar sebesar 305 hektar lebih. Lahan berhasil dipadamkan 112 hektar lebih.

"Kualitas udara dari sedang sampai tidak sehat, sedangkan jarak pandang hanya di bawah 5 kilometer. Satgas Darat yang dikerahkan sebesar 1.408 orang. Luas lahan yang berhasil dipadamkan oleh Satgas Darat adalah 28 hektar lebih," jelasnya.

Sedangkan Satgas Udara tetap melakukan berbagai upaya seperti patroli dengan 2 unit, water bombing 5 unit dengan menjatuhkan air sebesar 1.323.000 liter air dengan lahan yang bisa dipadamkan sebesar 84 hektar.

"Operasi modifikasi tidak bisa dilakukan karena tidak berpotensi menimbulkan hujan ataupun tidak ada titik-titik awan yang ditemukan di atmosfer," ucapnya.

Kemudian, Provinsi Riau, pihaknya menemukan titik api sebanyak 30 dengan lahan yang terbakar ada sekitar 172 hektar lebih, dengan lahan yang berhasil dipadamkan sebanyak 42 hektar lebih. Kualitas udara sedang sampai tidak sehat dengan jarak pandang hanya 3 kilometer.

"Sudah dikerahkan sebanyak 17.764 orang untuk memadamkan api ini, namun luas yang berhasil dipadamkan adalah 30 hektar lebih," katanya.

"Satgas Udara juga dikerahkan untuk melakukan pengawasan, pemantauan, patroli dilakukan dengan 2 armada dengan waktu operasi sebanyak 6 jam 59 menit," sambung Berton.

Ia menjelaskan, water bombing tersebut menggunakan 4 unit dengan jumlah air yang berhasil dijatuhkan sebesar 760.000 liter air dengan luas lahan yang berhasil dipadamkan 12 hektar.

Kemudian wilayah Jambi, titik api yang ditemukan hanya 20 lokasi. Luas lahan terbakar itu 47 hektar lebih dan yang berhasil dipadamkan sebesar 37 hektar. Kualitas udara tidak sehat dan jarak pandang 6 kilometer.

Pihaknya mengerahkan 5.984 personel untuk Satgas Darat, mereka berhasil memadamkan api sebesar 31 hektar untuk lahan yang dipadamkan. Lalu Satgas Udara, dua armada untuk patroli dengan waktu lebih dari 7 jam.

"Namun operasi modifikasi cuaca tidak ada dilakukan karena memang tidak ada indikasi adanya bibit-bibit awan ada di atmosfer," sebutnya.

Sementara Sumatra Selatan, titik api ditemukan di 26 titik dengan luas lahan terbakar sebesar 171 hektar lebih, luas lahan yang berhasil dipadamkan 56,8 hektar. Ia bilang, kualitas udara kategori sedang sampai tidak sehat, dan jarak pandang di bawah 7 kilometer.

Pihaknya mengerahkan untuk Satgas Darat sebesar 11.026 personel dan mereka berhasil memadamkan 45 hektar lebih. Satgas Udara melakukan patroli 2 unit dengan jam operasi 8 jam, dan ini tentu mereka memantau dari udara ada titik-titik baru atau tidak.

"Modifikasi cuaca hanya 1 kali memungkinkan dilakukan dengan menyemaikan 1.000 kilogram garam," sebutnya.

Sementara itu wilayah Papua Barat ditemukan 18 titik dan lahan yang terbakar itu sebesar 223 hektar lebih, dengan lahan yang berhasil dipadamkan 15 hektar. Kualitas udara di sana dari sedang kategori sedang sampai tidak sehat. Jarak pandang sampai 7 sampai 10 kilometer.

"Satgas darat standby di wilayah kawasan Tangguh LNG KKKS BP Berau Ltd. Namun, untuk satgas udara, dua water bombing, 2 unit water bombing dikerahkan untuk mendrop sekitar 369 liter air dengan jumlah lahan yang dipadamkan sebesar 15 hektar," tegas Berton.

Baca juga artikel terkait KARHUTLA atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama