Menuju konten utama

BNPB: Kerugian & Kerusakan Gempa di Sulteng Capai Rp13,82 Triliun

Data sementara BNPB menyebutkan bahwa, kerugian dan kerusakan akibat bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi di Sulteng telah mencapai Rp13,82 tiliun.

BNPB: Kerugian & Kerusakan Gempa di Sulteng Capai Rp13,82 Triliun
Ilustrasi. Warga melintasi rumah-rumah yang rusak akibat gempa bumi di Desa Sajang, Lombok Timur, NTB, Senin (30/7/2018). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, hingga Minggu (21/10/2018) pukul 13.00 WIB, ada sebanyak 2.256 orang meninggal dunia, akibat bencana gempa bumi, tsunami dan likuifaksi yang melanda 4 daerah di Sulawesi Tengah.

Sebarannya yaitu di Kota Palu 1.703 orang meninggal dunia, Donggala 171 orang, Sigi 366 orang, Parigi Moutong 15 orang dan Pasangkayu 1 orang. Semua korban sudah dimakamkan.

Sementara itu, sebanyak 1.309 orang dinyatakan hilang, 4.612 orang luka-luka dan 223.751 orang telah mengungsi di 122 titik.

Kerusakan meliputi 68.451 unit rumah, 327 unit rumah ibadah, 265 unit sekolah, perkantoran 78 unit, toko 362 unit, jalan 168 titik retak, jembatan 7 unit dan sebagainya. Data tersebut adalah data sementara, yang akan bertambah seiring pendataan yang terus dilakukan.

Tim Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB terus melakukan pendataan dan melakukan kaji cepat untuk menghitung dampak bencana.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan resminya menyatakan, hingga Sabtu (20/10/2018), angka kerugian akibat gempa bumi, tsunami dan likuifaksi mencapai lebih dari 13,82 triliun rupiah.

Hasil perhitungan sementara terhadap kerugian dan kerusakan akibat bencana berdasarkan data per (20/10/2018), mencapai lebih dari 13,82 triliun rupiah," kata Sutopo, Minggu (21/10/2018).

Lebih lanjut, kata Sutopo, diperkirakan dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ini akan bertambah, mengingat data yang digunakan adalah data sementara.

"Dari Rp 13,82 triliun dampak ekonomi akibat bencana tersebut, kerugian mencapai Rp1,99 triliun dan kerusakan mencapai Rp 11,83 triliun," ujarnya.

Dampak kerugian dan kerusakan akibat bencana ini meliputi 5 sektor pembangunan yaitu kerugian dan kerusakan di sektor permukiman mencapai Rp7,95 triliun, sektor infrastruktur Rp701,8 miliar, sektor ekonomi produktif Rp1,66 triliun, sektor sosial Rp3,13 triliun, dan lintas sektor mencapai Rp378 miliar.

Dampak kerugian dan kerusakan di sektor permukiman adalah paling besar karena luas dan masifnya dampak bencana. Hampir sepanjang pantai di Teluk Palu bangunan rata tanah dan rusak berat.

Terjangan tsunami dengan ketinggian antara 2,2 hingga 11,3 meter dengan landaan terjauh mencapai hampir 0,5 km telah menghancurkan permukiman disana. Begitu juga adanya amblesan dan pengangkatan permukiman di Balaroa. Likuifaksi yang menenggelamkan permukiman di Petobo, Jono Oge dan Sibalaya telah menyebabkan ribuan rumah hilang.

Berdasarkan sebaran wilayah, maka kerugian dan kerusakan di Kota Palu mencapai Rp7,63 triliun, Kabupaten Sigi Rp4,29 triliun, Donggala Rp1,61 triliun dan Parigi Moutong mencapai Rp393 miliar. Perhitungan kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana belum dilakukan perhitungan.

Diperkirakan, untuk membangun kembali daerah terdampak bencana nantinya pada saat periode rehabilitasi dan rekonstruksi akan memerlukan anggaran lebih dari Rp10 triliun.

"Tentu ini bukan tugas yang mudah dan ringan, namun Pemerintah dan Pemda akan siap membangun kembali nantinya. Tentu membangun yang lebih baik dan aman sesuai prinsip build back better and safer," tangkasnya.

Baca juga artikel terkait GEMPA PALU DAN DONGGALA atau tulisan lainnya dari Shintaloka Pradita Sicca

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Yandri Daniel Damaledo