Menuju konten utama

Blangkon di Antara Asal-usul dan Simbol

Blangkon yang berasal dari kata "blangko", artinya cetak kosong, lahir untuk menghadirkan tutup kepala yang praktis.

Blangkon di Antara Asal-usul dan Simbol
Header Mozaik Blangkon Jogja dan Solo. tirto.id/Tino

tirto.id - Blangkon adalah pelengkap busana tradisional masyarakat Jawa dan sekitarnya. Kiwari, keberadaannya nyaris hanya pada acara tradisional tertentu, seperti upacara adat atau resepsi pernikahan.

Sebagai tutup kepala tradisional yang identik dengan budaya asli Indonesia, blangkon ternyata merekam jejak pengaruh bangsa lain. Namun justru karena itu, desain, motif, dan ornamennya menyimpan nilai sejarah, filosofis, dan spiritual yang dalam.

Saudagar Gujarat dan Pemerintah Kolonial

Blangkon adalah metamorfosis tutup kepala yang disebut iket. Dalam perkembangannya, iket banyak dipakai rakyat jelata, sedangkan blangkon identik dengan golongan darah biru. Meski memiliki desain yang beragam sesuai asal daerahnya, blangkon mempunyai fungsi yang sama, yaitu pelindung dari panas matahari dan penanda status sosial.

Tidak begitu jelas asal-usul penutup kepala ini, tapi beberapa sejarawan mengaitkannya dengan para saudagar Gujarat yang melakukan kontak dagang dengan masyarakat di pesisir utara Pulau Jawa. Kebiasaan pelancong Gujarat yang memakai turban mengilhami masyarakat Jawa untuk membuat tutup kepala versi mereka, yaitu iket.

Namun, memasang iket ternyata makan waktu. Kain segiempat itu terlebih dulu dilipat menjadi segitiga sebelum dililitkan di kepala dengan kedua ujung disatukan menjadi sebuah simpul. Dibanding topi polka yang sering dipakai meneer Belanda, iket kurang praktis. Saat memakai harus mengikat ujungnya, saat menanggalkan harus melepas ikatannya.

Demi efisiensi waktu, konon karena desakan pemerintah kolonial, dibuatlah tutup kepala siap pakai dari iket. Caranya, kain iket dicetak terlebih dulu sesuai ukuran kepala lalu diberi ornamen untuk meningkatkan nilai artistiknya. Sejak saat itulah blangkon, dari kata blangko yang artinya cetak kosong, mulai populer.

Ragam Simbol Penuh Makna

Selain fungsinya, blangkon digemari karena makna filosofis yang dikandungnya. Sebagaimana lazimnya, bagi orang Jawa kepala adalah bagian tubuh yang paling terhormat. Meski dulu kaum pria Jawa biasa memanjangkan rambut, mereka tidak membiarkannya tergerai dan acak-acakan tapi mengikatnya menjadi gelungan yang rapi.

Di sinilah iket menjadi pelengkap untuk melindungi bagian tubuh yang dihormati itu. Gelungan di belakang kepala ditutup menggunakan iket sebagai simbol pengendalian diri. Hanya saat berada di dalam rumah atau terlibat dalam konflik fisik mereka membuka iket dan membiarkan rambutnya tergerai.

Ketika blangkon diperkenalkan, desainnya menyerupai iket saat dikenakan, yaitu dengan sebuah tonjolan di bagian belakang. Dalam perkembangannya, desain blangkon dengan tonjolan di belakang atau disebut mondholan lebih populer di Yogyakarta, sementara masyarakat Solo memiliki desainnya sendiri.

Seturut Nise Samudra Sasanti dalam “The Function and Meaning of Headdress (Blangkon and Udeng) Amid Community Social Changes” (2021:3), tidak seperti tetangga mereka di Yogyakarta yang setia memanjangkan rambut, warga Solo lebih dulu mengadopsi budaya orang-orang Belanda yang memiliki rambut pendek.

Tanpa tonjolan, masyarakat Solo memiliki pemaknaan sendiri terhadap blangkon. Bagi mereka, Blangkon adalah representasi kekuasaan Allah di alam raya, sedang kepala merupakan simbol khalifah-Nya di muka bumi. Mengenakan blangkon sama artinya menyatukan jagad alit (mikrokosmos) dan jagad gedhe (makrokosmos).

Bentuk, Motif, dan Ornamen Blangkon

Blangkon Kejawen, di antaranya blangkon Yogyakarta, Surakarta, Banyumas, Bagelen, Madiun, Kediri, dan Malang, adalah jenis paling populer di antara semua blangkon. Jenis lainnya adalah Pasundan (Jawa Barat), Pesisiran (kota-kota di sekitar pantai utara Jawa), Layaran (Bangkalan), dan Tengkulak (Banten, Cirebon, dan Demak).

Motif dan corak blangkon Yogyakarta berjumlah ratusan. Lazimnya, keluarga keraton memakai blangkon bermotif parang, wirasat, dan truntum. Sementara pegawai keraton menggunakan blangkon bermotif celengkewengan dan modang. Sedangkan petani, buruh, dan masyarakat kelas bawah lainnya mengenakan blangkon bergaya menduran, kamicucen, dan nyinting.

Selain mondholan, blangkon Yogyakarta juga memiliki ciri khas dalam lipatannya, yaitu 17 lipatan di sisi kiri dan kanan (wiron), 5 lipatan di bawah dan 6 lipatan di dekat telinga (cewekan), serta 2 lekuk di belakang kepala (sintingan). 17 lipatan mengisyaratkan jumlah rakaat salat, 5 lipatan rukun Islam, 6 lipatan rukun iman, dan 2 lekuk di belakang kepala bermakna keselarasan dengan Allah dan nabi.

Sebelum terjadinya Palihan Nagari atau Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755, masyarakat Solo memakai blangkon yang sama dengan penduduk Yogyakarta, yakni dengan tonjolan di bagian belakang.

Setelah terjadinya pembelahan wilayah Mataram itu, Sri Susuhunan Pakubuwono III menginisiasi pembuatan blangkon khas Surakarta. Hasilnya bukan hanya satu tapi hampir sepuluh model blangkon.

Model-model blangkon khas Solo antara lain keprabon, ksatriyan, perbawan, dines, tempen, wulung kemolo, cacaran moncip ompak, dan modang. Jika blangkon Yogyakarta memiliki tonjolan, blangkon Solo hanya mengikatkan kedua ujung kain di belakang. Ikatan kain itu bermakna menyatukan tujuan sejak dalam pikiran, yaitu dengan dua kalimat syahadat.

Dalam perkembangannya, blangkon Solo sering dikenakan dengan beskap. Beskap sendiri dari kata beschaafd yang artinya berbudaya, merupakan adaptasi dari jas yang biasa dipakai tuan-tuan Belanda. Mangkunegara IV adalah orang pertama yang memperkenalkannya.

Infografik Mozaik Blangkon Jogja dan Solo

Infografik Mozaik Blangkon Jogja dan Solo. tirto.id/Tino

Perkembangan Industri Blangkon

Di Yogyakarta, industri kerajinan blangkon bisa ditemukan salah satunya di Kampung Bugisan, Patangpuluhan, Wirobrajan. Pada 1974, Slamet Raharjo mengawali usaha pembuatan tutup kepala kaum pria Jawa di kampungnya itu.

Awalnya usaha Slamet hanya dibantu keluarganya. Ketika pesanan terus meningkat, ia mempekerjakan tetangganya. Setelah memiliki kemahiran membuat blangkon, para pekerjanya membangun sendiri usaha yang sama. Kiwari para pengrajin blangkon di Kampung Bugisan merupakan generasi kedua setelah orang tua mereka.

Selain Kampung Bugisan, sentra kerajinan blangkon di Yogyakarta juga terdapat di Beji, Sidoarum, Godean, Sleman. Salah satu pengrajin di kawasan itu yakni Choirudin (73) yang sudah membuat blangkon sejak 1965. Ia mengaku menjadi pengrajin blangkon karena mengikuti jejak ayahnya yang lebih dulu menekuni bidang tersebut.

Blangkon buatan Choirudin banyak dipesan para pesohor. Keraton Yogyakarta pernah memesan 1.500 blangkon padanya. Saat Raffi Ahmad menggelar pesta pernikahan pada 2014 lalu, ia menggarap 300-an blangkon pesanannya. Ia juga beberapa kali menggarap pesanan Roy Suryo, mantan Menteri Pemuda dan Olahraga era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sementara sentra kerajinan blangkon di Solo bisa ditemukan di Kampung Potrojayan, Serengan. Mbah Joyo, yang sebelumnya tinggal di Baluwarti (kawasan Keraton Kasunanan Surakarta) dan berprofesi sebagai pengrajin blangkon untuk menyuplai kebutuhan keraton, memelopori usaha tersebut setelah pindah ke kampung itu, yakni sekitar tahun 1970.

Setelah 50 tahun lebih, industri kerajinan blangkon di Potrojayan berkembang. Dari satu pengrajin, kini ada 25 warga yang memproduksi tutup kepala tradisional itu. Selain membuat blangkon Solo dan Yogyakarta, para pengrajin juga memproduksi blangkon Bali, Pasundan, Betawi, Madura, dan daerah lain di Indonesia.

Baca juga artikel terkait BUDAYA JAWA atau tulisan lainnya dari Firdaus Agung

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Firdaus Agung
Penulis: Firdaus Agung
Editor: Irfan Teguh Pribadi