tirto.id - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, mengatakan, uji ketahanan (stress test)perbankan di Indonesia masih kuat menghadapi gejolak geopolitik dunia, termasuk perang di Timur Tengah antara Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Israel.
Menurut Perry, fundamental ekonomi Indonesia terbilang kokoh sehingga ketahanan perbankan menghadapi perang Timur Tengah tergolong kuat.
"Kami tegaskan bahwa kondisi fundamental ekonomi Indonesia kuat dalam menghadapi dampak dari geopolitik, termasuk perang Timur Tengah. Fundamental ekonomi kita kuat sehingga ketahanan eksternal kita juga tetap kuat," ucap Perry saat konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI secara virtual, Rabu (22/4/2026).
Perry berujar fundamental kuat tersebut terdiri dari inflasi yang tergolong rendah senilai 3,48 persen secara tahunan (year on year/YoY) per Maret 2026; pertumbuhan ekonomi tinggi senilai di atas 5 persen, stabilitas nilai rupiah, serta pertumbuhan kredit mulai 8 persen-12 persen.
Kemudian, Perry menyatakan, neraca pembayaran dengan defisit transaksi berjalan rendah dengan target 1,3 persen-5 persen PDB. Ia berujar, untuk mendukung stress test tersebut, BI menyimpan cadangan devisa dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS).
"Kami terus melakukan stabilisasi nilai tukar rupiah. Cadangan devisa kami 148,2 miliar dolar AS masih lebih dari cukup untuk memastikan stabilisasi nilai tukar rupiah ini," tuturnya.
"Secara fundamental, nilai tukar rupiah kita akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh fundamental ekonomi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi, inflasi yang rendah, imbal hasil yang menarik, dan juga komitmen Bank Indonesia menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," lanjut dia.
Perry menambahkan, dengan sejumlah langkah tersebut, BI siap menghadapi gejolak geopolitik dunia.
"Jadi, secara keseluruhan tadi kami sampaikan bahwa kondisi fundamental dan ketahanan eksternal ekonomi Indonesia kuat dalam menghadapi geopolitik ini," urai Perry.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id


































