Menuju konten utama

BI Catat Dana Asing Masuk RI Capai Rp160,7 Triliun per Juni 2026

Imbas kenaikan agresif BI Rate ke level 5,75 persen, Bank Indonesia mencatat aliran modal asing senilai 9 miliar dolar AS menyerbu pasar SBN dan SRBI.

BI Catat Dana Asing Masuk RI Capai Rp160,7 Triliun per Juni 2026
Petugas memperlihatkan uang pecahan rupiah yang disediakan untuk penukaran pada mobil kas keliling Bank Indonesia dalam program Semarak Rupiah Ramadhan dan Berkah Idul Fitri (Serambi) 2026 di halaman Kantor Camat Pontianak Tenggara, Pontianak, Kalimantan Barat, Selasa (24/2/2026). Pelayanan yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat di sejumlah titik ruang publik di Kota Pontianak tersebut untuk melayani kebutuhan uang pecahan Rp1.000 hingga Rp50 ribu bagi masyarakat dengan batas maksimal penukaran sebesar Rp5,3 juta per orang. ANTARA FOTO/Jessica Wuysang/nym.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Bank Indonesia (BI) mencatat arus masuk modal asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai 9 miliar dolar AS atau setara dengan Rp160,7 triliun sepanjang Januari hingga 26 Juni 2026.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, mengatakan lonjakan arus asing ke dalam negeri ini terjadi setelah BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 100 basis poin dalam sebulan terakhir hingga ke level 5,75 persen.

Destry, mengungkapkan bahwa kebijakan moneter agresif tersebut berhasil menarik minat investor asing di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

"Dalam satu bulan di bulan Juni ini telah terjadi inflow yang cukup signifikan sehingga secara year to date dari Januari hingga akhir Juni tanggal 26 yang lalu inflow yang masuk untuk di portofolio SBN dan SRBI kita itu sudah mencapai sekitar 9 miliar dolar AS," ujar Destry dalam konferensi pers Hasil Koordinasi Fiskal-Moneter di DPR RI, Jakarta, Senin (29/6/2026).

Destry menjelaskan, dalam sebulan terakhir BI telah menaikkan BI rate sebesar 100 basis poin dari 4,75 persen menjadi 5,75 persen. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan global.

"Dan yang terjadi kemudian adalah repricing atau penyesuaian harga baik itu untuk instrumen yang diterbitkan oleh Bank Indonesia atau pun oleh pemerintah yaitu SRBI dan SBN," jelasnya.

Kenaikan suku bunga acuan yang cukup signifikan itu membuat imbal hasil (yield) instrumen keuangan domestik menjadi lebih menarik bagi investor asing dibandingkan dengan negara lain.

Pertemuan yang juga dihadiri Dewan Ekonomi Nasional, DPR, Kemenkeu, Kemenperin, Sekretariat Negara, itu merupakan agenda rutin koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter. Destry menyebut, dalam situasi ketidakpastian global yang sangat tinggi, koordinasi menjadi kunci untuk mencapai stabilitas.

"Bank Indonesia tentunya perlu membuat suatu kebijakan yang sifatnya memang jangka pendek untuk mencapai stabilitas. Dalam hal ini adalah kita bicara nilai tukar. Dan kebijakan tentu satu nilai tukar dan kedua likuiditas," tuturnya.

Baca juga artikel terkait MODAL ASING MASUK atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Siti Fatimah