STOP PRESS! Status Gunung Agung Naik Menjadi Awas

Betapa Strategisnya Internet bagi Para Teroris

Betapa Strategisnya Internet bagi Para Teroris
Ilustrasi teror digital. Getty Images/iStockphoto
Reporter: Tony Firman
14 September, 2017 dibaca normal 4 menit
Konten-konten internet yang terkait terorisme dari tahun ke tahun mengalami peningkatan sangat pesat.
tirto.id - Perkembangan dan inovasi dunia teknologi informasi menyediakan kemungkinan baru bagi para teroris. Ruang siber adalah lingkungan yang serba terbuka, menjadi tempat istimewa bagi para teroris untuk menemukan sumber daya baru. Juga Memungkinkan mereka menjalankan aktivitas propaganda.

Penelitian yang dilakukan Gabriel Weimann berjudul Terrorism in Cyberspace: The Next Generation menunjukkan ada peningkatan muatan-muatan terorisme di internet secara signifikan sejak 1998. Pada 1998, jumlah situs yang berisi materi teroris baru 12, akan tetapi pada 2003 sudah berlipat ganda menjadi 2.650 situs web. Pada September 2015, jumlahnya beranak pinak hingga mencapai 9.800.

Baca juga: Perlawanan Perusahaan Teknologi terhadap Propaganda ISIS


Ada banyak alasan mengapa internet menjadi ruang berskala global yang dinilai aman untuk melakukan serangkaian aksi bahkan perekrutan anggota. Di antaranya karena internet menawarkan akses yang relatif sederhana dan kini jangkauannya sudah sangat luas global. Anonimitas, menyembunyikan identitas, sangat mungkin untuk dilakukan dan hal itu menjadi keuntungan besar bagi organisaisi teroris untuk melindungi dirinya.

Biaya akses internet yang dari waktu ke waktu semakin murah dan terjangkau membuat para teroris juga bisa bergerak dengan dana terbatas. Sekelompok teroris dapat mengatur kampanye propaganda yang efisien tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlampaui besar.

Teroris yang Melek Teknologi Informasi

Kelompok seperti ISIS adalah representasi dari para militan beringas yang sangat menguasai teknologi informasi dibanding kelompok jihadis pendahulunya, setidaknya untuk saat ini. Hampir semua kelompok militan Timur Tengah memiliki media propaganda. 

As-Sahab Foundation yang didirikan pada 2005 adalah media milik kelompok Al-Qaeda. Saluran itu rutin memproduksi video dokumenter perjalanan mereka melalui kamera ponsel dan rekaman suara dari iPod.

Baca juga: Ancaman Kepada Ahok dan Faksi-Faksi Islam Militan di Suriah


Front Al-Nusra yang turut bertempur di Suriah juga memiliki saluran media propaganda bernama al-Manarah al-Bayda. Semua pernyataan resmi dan kegiatan al-Nusra diproduksi lewat saluran tersebut melalui situs forum jihadis Shamoukh al-Islam.

Pada bulan November 2006, tidak lama setelah sebuah kelompok militan mendeklarasikan Negara Islam Irak, yang kelak menjadi ISIS, mereka turut mendirikan Al-Furqan Foundation. Tugasnya khusus memproduksi CD, DVD, poster, pamflet, berbagai produk propaganda lainnnya, termasuk publikasi pernyataan resmi).

Pertengahan 2014, saat kelompok militan tersebut sudah menamakan dirinya sebagai ISIS, dan disusul deklarasi kekhalifahan yang diserukan oleh Abu Bakar al-Baghdadi di Masjid Al Nuri Irak, mereka langsung mendirikan Al-Hayat Media Center (baca: Simpang Siur Kematian al-Baghdadi).

Produksi Al-Hayat meluas tidak hanya untuk khalayak berbahasa Arab. Saluran media tersebut menyediakan muatan berbahasa Inggris, Jerman, Rusia dan Perancis. Termasuk di antaranya majalah online Dabiq yang isinya propaganda soal kesatuan, pencarian kebenaran, hijrah, perang suci, dan tulisan-tulisan seputar prinsip keagamaan.

Kelompok ISIS jelas menunjukkan penguasaan teknologi yang hebat dan pengetahuan mendalam tentang teknik komunikasi. Setiap video yang dirilis dengan sengaja memperlihatkan proses eksekusi para musuh. Mereka dengan rapi membuat muatan-muatan yang berisi ajakan bergabung. Muatan-muatan itu dipersiapkan dengan seksama agar dapat menjangkau jumlah penonton sebanyak-banyaknya.

Baca juga: Abu Walid, Algojo ISIS yang Brutal dan Imut dari Solo

Media sosial yang populer seperti Facebook dan Twitter tidak luput dari jangkauan ISIS. Media-media sosial tersebut digunakan untuk menyebarluaskan produksi konten propaganda hingga meraup dana dari para simpatisan. Aspek interaksi yang disediakan media sosial, termasuk aplikasi pesan singkat, memang memudahkan kegiatan para teroris adalah interaksi. Tersedianya ruang membuat grup-grup di berbagai aplikasi pesan singkat memungkinkan mereka melakukan propaganda untuk merekrut anggota.

Sebut saja Whatsapp, Signal maupun Telegram. Ketiganya masuk daftar 10 besar aplikasi pesan instan dengan keamanan terbaik versi Techradar di 2017. Selain itu, mengutip karya ilmiah buatan Tole Sutikno yang berjudul WhatsApp, Viber and Telegram: Which is the Best for Instant Messaging dan dimuat dalam International Journal of Electronical and Computer Engineering, Telegram dikatakan memenuhi semua kriteria keamanan yang termuat dalam jurnal tersebut. Secret chat dari Telegram berhasil lolos untuk kriteria seperti “apakah pesan komunikasi terenkripsi saat transit,” “apakah enkripsi telah dilakukan audit independen,” dan kriteria-kriteria lainnya.

Jika pun aplikasi pesan singkat dirasa tidak aman, para teroris tidak kehilangan akal. Diwartakan Forbes, serangan teror di Perancis pada November 2015 yang menewaskan setidaknya 127 orang dan mengakibatkan lebih dari 300 orang terluka, dilakukan oleh kelompok teroris yang memanfaatkan PlayStation 4 sebagai saluran komunikasi para peneror saat merancang aksi keji tersebut.

Baca juga: Cerita Para Teroris yang Berkomunikasi dengan PlayStation

Betapa Strategisnya Internet bagi Para Teroris

Menarik Perhatian Jihadis Gaul

Bagaimana pun, sepak terjang ISIS ini telah menarik minat sebagian pemuda Barat untuk bergabung dan menjadi jihadis. Mereka tertarik memilih menjadi radikal karena hal itu dianggap sedang menjadi tren.

Sebagian besar para jihadis muda dari Barat ini memiliki latar belakang yang tenggelam dalam budaya kontemporer khas anak muda milenial. Mereka doyan pergi ke klab malam, merokok dan minum. Laporan panjang The Guardian menyebut, hampir 50% jihadis di Perancis memiliki sejarah kriminal kecil seperti pemakai narkoba, perkelahian jalanan, dan beberapa sedikit terlibat perampokan bersenjata.

Latar belakang yang serupa juga ditemukan di Jeman dan Amerika Serikat. Mereka memakai pakaian bermerek, topi baseball, penutup wajah dan model pakaian streetwear lainnya yang sejatinya tak menunjukkan identitas sebagai muslim.

Baca juga: Menegaskan Beda Islam dan Teroris

Dalam konteks muda-mudi barat yang memilih berangkat ke Suriah bergabung dengan ISIS dan berpindah agama, mereka hampir tidak memiliki latar pendidikan agama yang cukup. Lebih sering mendapat pemahaman dari ajakan propaganda di internet daripada diperoleh melalui guru lewat metode pendidikan yang terukur dan panjang. Tidak jarang mereka menjadi memusuhi keluarganya sendiri yang masih memeluk agama lama dan menolak untuk ikut berpindah keyakinan.

Menurut bocoran catatan ISIS yang berisi rincian lebih dari 4.000 rekrutan asing, 70 persen menyatakan bahwa mereka hanya memiliki pengetahuan dasar tentang Islam. Sisanya saja yang benar-benar pernah mengenyam pendidikan tinggi.

Seiring melemahnya kekuatan dan kejayaan ISIS, gelombang pulang kampung dari para jihadis asing pun mulai mengemuka. Ada 4.000 orang dari seluruh penjuru dunia pergi ke Suriah untuk ikut memerangi Assad. Kini mereka bersiap berkemas untuk pulang ke rumah. Beberapa dari mereka ada yang merasakan kekecewaan karena berbagai alasan, meski tidak semuanya.

Para mantan tentara ISIS ini tidak bisa tidak membangkitkan kewaspadaan di negara asal mereka. Tentu saja karena mereka membawa koneksi langsung dari ISIS atau kelompok militan lainnya yang pernah diikuti. Ini membawa ancaman baru jika mereka menjelma menjadi perantara untuk serangan di negara asalnya.

Baca juga: Kisah Pilu Ibu Kombatan ISIS dari Eropa hingga Amerika

Seperti diungkapkan Thomas Hegghammer, serangan para mantan jihadis di Suriah dan sekitarnya di negerinya sendiri amat sangat layak diwaspadai. Pendiri Riset Pertahanan Norwegia itu mengatakan, serangan domestik yang dilakukan para mantan jihadis di negerinya sendiri bisa jauh lebih efektif dan mematikan daripada daerah yang sebelumnya tidak memiliki alumni jihadis.

Sangat jelas mereka, para mantan jihadis itu, memungkinkan terus berkomunikasi satu sama lain kendati sudah tidak berkumpul di Suriah lagi. Teknologi informasi memungkinkan komunikasi terus berjalan dengan intens walau pun tidak lagi bertemu secara fisik. Meski banyak yang meragukan hierarki dan komando masih berjalan dengan solid, akan tetapi bimbingan, seruan, arahan, hingga koordinasi masih sangat mungkin dilakukan antara para mantan jihadis dengan rekan-rekannya atau pimpinannya selama di Suriah.

Baca juga artikel terkait INTERNET atau tulisan menarik lainnya Tony Firman
(tirto.id - ton/zen)

Keyword