tirto.id - Peta persaingan industri telekomunikasi internasional kini memasuki babak baru. Pasalnya, perusahaan milik China, telah meluncurkan satelit Low Earth Orbit (LEO) bernama SpaceSail. SpaceSail dianggap menjadi pesaing baru Starlink, penyedia stelit LEO milik Elon Musk.
Orbital Today melaporkanSpaceSail telah menjalin kerjasama dengan lebih dari 30 negara untuk memperluas layanan internet di seluruh dunia.
Pada tahun 2025, SpaceSail berencana meluncurkan lebih dari 648 satelit LEO. Setidaknya 72 satelit sudah diluncurkan SpaceSail. Jumlah ini terbilang sedikit dibanding layanan Starlink milik Elon Musk yang konon mencapai 7.000 satelit LEO.
Dalam melakukan ekspansi, SpaceSial telah memperkenalkan layanan internet satelit kepada pemerintah Brasil selama periode bulan November 2024. Pemerintah Brasil menyambut baik SpaceSial yang kini telah beroperasi di wilayah tersebut.
Selain Brasil, negara yang telah menggunakan SpaceSail ialah Malaysia dan Kazakhstan. SpaceSail berencana melakukan ekspansi dengan meluncurkan hingga 43.000 satelit LEO.
Melihat rencana jangka panjang tersebut, tampaknya SpaceSail diperkirangan bakal bersaing dengan Starlink, perusahaan penyedia satelit LEO milik Elon Musk.
Pendiri SpaceSail: Saingan Starlink Elon Musk
SpaceSail didirikan sebuah perusahaan asal negara China bernama Shanghai Spacecom Satellite Technology. Shanghai Spacecom Satellite Technology mulai ada pada tahun 2018. Sumber dana berasal dari kantong pemerintah China.
SpaceSail merupakan penyedia jaringan internet LEO untuk konektivitas global yang berfokus pada wilayah daerah terpencil atau wilayah pemulihan bencana. Jaringan satelit LEO yang digunakan SpaceSail cenderung memilki waktu respons yang lebih cepat dan jangkauan yang lebih baik, terutama di wilayah lintang tinggi.
Berdasarkan laporan yang ditulis Reuters, peluncuran SpaceSail bertujuan menyediakan internet yang andal bagi lebih banyak pengguna, terutama di daerah terpencil serta selama pemulihan dari keadaan darurat dan bencana alam.
SpaceSail disebut-sebut telah menjalin kerja sama dengan Brasil, Malaysia, dan Kazakhstan. Mereka telah menyepakati kerjasama dengan perusahaan telekomunikasi asal Brasil, Telebras, pada 2024.
Kini, SpaceSail telah menyedikan komunikasi satelit dan layanan internet di Brasil. Hal ini sebagaimana diwartakan laman NDTV.
Sementara itu, Malaysia melalui Measat telah menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) di Shanghai. Menurut laporan Satellite Prome, kemitraan Measat dengan SpaceSail bertujuan memfasilitasi penyebaran layanan SpaceSail, termasuk megakonstelasi Thousand Sails alias Qianfan.
Kerja sama ini nantinya fokus pada komunikasi Direct-to-Device (D2D), layanan IoT berbasis satelit, dan kemampuan Earth Observation (EO) di Malaysia dan pasar Asia.
Berdasarkan data yang dikutip via laporan NDTV World, SpaceSail telah meluncurkan 18 satelit pada Agustus 2024 hingga mencapai 800 kilometer.
Kemudian per Januari 2025, tercatat ada 72 satelit berhasil mengorbit. Pada akhir tahun 2025, SpaceSail merancang total 600 satelit. Tak hanya itu, SpaceSail berencana meluncurkan 15.000 satelit LEO hingga 2030.
Dalam beberapa dekade ke depan, SpaceSail menargetkan peluncuran 43.000 satelit LEO. Jika melihat rencana jangka panjang SpaceSail, bukan tidak mungkin Starlink milik Elon Musk memiliki pesaing baru.
Baik Starlink atau SpaceSail tentunya berfokus pada satelit LEO. Tak ayal, SpaceSail menambah persaingan industri telekomunikasi semakin ketat.
Sebagai informasi, Starlink merupakan proyek pengembangan konstelasi satelit yang diprakarsai oleh SpaceX, milik Elon Musk. Berdasarkan data, perluasana jangkauan layanan internet Starlink dapat diakses lebih dari 30 negara.
Starlink pertama kali diperkenalkan pada tahun 2018. Hingga hari ini, hampir 2.000 satelit Starlink mengorbit ke luar angkasa. Starlink Elon Musk menawarkan kecepatan internet pada angka 100 Mbps hingga 200 Mbps dengan waktu transfer data atau latensi 20 ms.
Editor: Beni Jo