Betapa Berbahaya Dampak Pelanggaran Protokol Kesehatan Raffi Ahmad

Oleh: Mohammad Bernie - 15 Januari 2021
Dibaca Normal 2 menit
Raffi Ahmad melanggar protokol kesehatan setelah divaksin. Dikhawatirkan muncul persepsi setelah disuntik seseorang tak lagi wajib menjalankan '3M'.
tirto.id - Program vaksinasi COVID-19 resmi dimulai dengan penyuntikan terhadap Presiden Joko Widodo, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, dan beberapa orang lain seperti selebriti Raffi Ahmad, Rabu (13/1/2020) lalu. Nama yang terakhir dipilih sebagai perwakilan generasi muda dan dianggap memiliki pengaruh.

Tak sampai sehari Raffi tertangkap kamera menghadiri pesta tanpa mengenakan masker. Foto-foto yang beredar di media sosial juga menunjukkan pelanggaran terhadap protokol kesehatan dilakukan oleh istri Raffi, Nagita Slavina, lalu artis lain seperti Anya Geraldine, Sean Gelael, dan Gading Marten.

Acara yang diduga merupakan pesta ulang tahun Ricardo Gelael ini juga dihadiri Komisaris Pertamina Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Kejadian ini mengundang kecaman warganet dan Istana lekas buka suara. Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono mengaku sudah menasihati Raffi agar patuh protokol kesehatan. Sementara Raffi memohon maaf lantaran mencoreng kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai penerima vaksin gelombang pertama.

“Saya ingin meminta maaf yang sebesar-besarnya. Minta maaf kepada Presiden Jokowi, kepada seluruh staf yang ada di Sekretariat Presiden, dan juga sekali lagi minta maaf kepada seluruh masyarakat Indonesia,” kata Raffi lewat siaran Instagram, Kamis (14/1/2021).


Ketua Departemen Komunikasi FISIP UI Nina Muthmainnah memahami keinginan pemerintah untuk meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap vaksin dengan menggandeng selebritis seperti Raffi. Ia jelas memiliki basis penggemar yang sangat besar. Pengikutnya di Youtube 19 juta, sementara Instagram nyaris 50 juta.

Namun, apakah kerja sama itu diikuti oleh instruksi lain, misalnya apa saja yang perlu dilakukan setelah mendapatkan vaksin? “Saya agak khawatir itu loose. Diasumsikan saja bahwa dia sudah tahu,” kata Nina kepada reporter Tirto, Kamis.

Dengan melanggar protokol kesehatan, alih-alih berbuah manfaat, vaksinasi terhadap Raffi justru berpotensi jadi bumerang. Nina khawatir muncul anggapan setelah divaksin orang menjadi bebas dari kewajiban menjalankan protokol kesehatan.

Kekhawatiran itu juga muncul dari pengajar di Paramadina Graduate School of Communication Ika Karlina Idris. Pesan yang dibawa oleh opinion leader semestinya tak sekadar “siap divaksin” tetapi juga tetap mempertahankan protokol kesehatan. “Takutnya hanya diterima pesan yang pertama, tapi pesan lainnya yaitu tetap di rumah, patuhi protokol kesehatan, jadi kabur,” kata Ika kepada reporter Tirto, Kamis.


Lebih jauh, Ika menilai keputusan pemerintah menggandeng artis untuk mempromosikan vaksin tidak tepat. Berdasarkan survei yang dilakukan Paramadina Public Policy Institute periode Oktober-November 2020, komunikator yang paling dipercaya masyarakat untuk urusan COVID-19 adalah media massa (95,45%), situs resmi pemerintah (93,94%), media sosial pemerintah (93,86%), RT/RW setempat (89,4%), dan tenaga kesehatan (81,82 persen).

Hanya 62,12 persen responden mengaku percaya pada influencer media sosial dan 51,51 persen percaya pada tokoh publik.

Berbekal data ini, pemerintah menurutnya bisa menggunakan strategi yang lebih mikro, yaitu melibatkan pejabat-pejabat mulai dari level RT/RW atau jejaring yang lebih dekat dengan masing-masing orang, misalnya alumni kampus. “Kalau efek awareness tentu Raffi mampu, tapi kalau untuk efek sampai mau menerima vaksin menurut saya lebih efektif menggunakan mikro influencer, seperti teman-teman sendiri.”

3M Tetap Penting Walau Sudah Divaksin

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Iris Rengganis menegaskan setelah divaksin, semua orang tetap harus menjaga protokol kesehatan. “Kapan kita boleh tidak pakai masker? Nanti kalau pandemi sudah berakhir. Kapan pandemi berakhir? Kita belum tahu,” kata Iris kepada reporter Tirto, Kamis.


Iris menjelaskan bahwa setelah disuntik vaksin, antibodi tak langsung terbentuk. Ia baru terbentuk dua minggu setelah penyuntikan kedua. Penyuntikan kedua dilakukan dua minggu setelah penyuntikan pertama. Artinya, antibodi baru benar-benar terbentuk pada 28 hari setelah penyuntikan pertama.

Bagaimana setelah hari ke-28? Ketua PP Perhimpunan Alergi Imunologi ini menegaskan protokol kesehatan tetap harus dilaksanakan. Pasalnya, tidak ada satu pun intervensi yang bisa jadi senjata pamungkas mencegah infeksi COVID-19.

Dalam konferensi pers 11 Januari lalu, Kepala BPOM Penny K. Lukito mengatakan CoronaVac buatan Sinovac Biotech Ltd memiliki tingkat efikasi 65,3 persen. Artinya, vaksin bisa menurunkan infeksi sebesar 65 persen.

Karena masih ada sekian persen peluang tertular, vaksin harus dipandang sebagai satu cara pencegahan di antara pencegahan-pencegahan lain. Apa saja? Semua yang sering kita dengar selama ini: memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Baca juga artikel terkait PROTOKOL KESEHATAN atau tulisan menarik lainnya Mohammad Bernie
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Rio Apinino
DarkLight