Menuju konten utama

Benarkah WhatsApp Bocorkan Data Warga Gaza ke Israel?

Israel dilaporkan memanfaatkan informasi dari WhatsApp untuk mentargetkan warga Gaza. Simak penjelasannnya dan apa itu sistem Levander yang dipakai Israel.

Benarkah WhatsApp Bocorkan Data Warga Gaza ke Israel?
Ilustrasi Status Whatsapp. tirto.id/Whatsapp

tirto.id - WhatsApp diduga membocorkan informasi data warga Gaza ke pihak militer Israel hingga menjadi target sasaran. Bagaimana kebenarannya?

Viral di media sosial X atau Twitter terkait postingan yang menyatakan bahwa platform jejaring WhatsApp telah membocorkan informasi keberadaan warga Palestina ke tentara Israel.

Akibatnya, pihak militer Israel akan mentargetkan warga Gaza yang berada di dalam rumah hingga menjadi sasaran.

Postingan ini diunggah oleh akun atas nama @gazanotice pada Selasa, 23 April 2024, dan sudah disaksikan lebih dari 600 ribu kali hingga Rabu, 24 April 2024.

Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, narasi yang disampaikan dalam postingan akun @gazanotice itu adalah sebagai berikut:

"Whatsapp membocorkan informasi warga Palestina kepada tentara Israel. Jika sebuah keluarga Palestina berada di rumah, informasi tersebut bocor ke tentara Israel dan mereka menargetkan rumah tempat keluarga tersebut tinggal,".

Israel Gunakan Sistem Levander?

Di dalam keterangannya, akun X atau Twitter atas nama @gazanotice alias Gaza Notifications merupakan perusahaan media dan berita. Mereka memiliki pengikut sebanyak 274 ribu.

Gaza Notifications kerap memberitakan update kondisi Gaza selama perang Israel-Palestina. Sejumlah video pemboman gedung-gedung di Gaza juga tak luput dari pemberitaan @gazanotice, termasuk yang paling baru mengenai dugaan keterlibatan pihak WhatsApp.

"‼️@WhatsApp❌ You provide intelligence support to Israel. You are aiding genocide. stop this," tulis mereka pada hari Selasa, 23 April 2024.

Pada postingan paling aktual, akun ini menuliskan lebih dari 34.000 warga Palestina telah terbunuh, 77.000 orang terluka, dan sekitar 7.000 lainnya hilang dan diduga tewas.

"Hari ini menandai 200 hari sejak dimulainya serangan militer Israel ke Jalur Gaza," ujar mereka.

Berbicara mengenai dugaan keterlibatan WhatsApp yang dinilai telah membocorkan informasi keberadaan warga Palestina di rumah mereka hingga menjadi target militer Israel, kabar ini mengutip sebuah cuplikan video yang disampaikan seorang perempuan yang membacakan berita dalam bentuk bahasa Arab.

Melalui potongan video tersebut, sang pembaca berita menyatakan sebuah laporan menyebutkan perusahaan Meta sebagai induk WhatsApp telah memberikan informasi kepada tentara pendudukan Israel tentang orang-orang Palestina yang akan dijadikan target.

Ia juga menyinggung sistem Levander, yang diciptakan Israel dengan menggunakan kecerdasan buatan atau AI. Gunanya untuk menentukan siapa yang melakukan pengeboman terhadap warga Palestina ketika mereka sedang berada di dalam rumah bersama seluruh keluarga.

Di lain sisi, dikatakan Facebook sedang berupaya keras untuk mempromosikan WhatsApp sebagai jejaring sosial pribadi, termasuk mengenai enkripsi end-to-end yang dimiliki WhatsApp.

Mengutip laman TRT World, Paul Biggar, ahli perangkat lunak dan pendiri Tech For Palestine mengatakan Lavender digunakan Israel untuk mengidentifikasi target di Gaza dengan data yang diperoleh dari grup WhatsApp.

Menurutnya, pemanfaatan AI ini dirancang untuk mencari pejuang Hamas sekaligus berpotensi mentargetkan warga sipil jika mereka berada di grup WhatsApp yang sama.

"Penting untuk dicatat bahwa sistem Lavender adalah penerapan AI yang salah," ucap Paul Biggar.

Sistem Lavender menunjukkan orang-orang yang mungkin berada di grup WhatsApp sama. Namun, bukan berarti mereka adalah anggota Hamas atau militan lainnya.

"Ini adalah sistem "pra-kejahatan" dan tidak boleh digunakan tanpa investigasi menyeluruh terhadap semua target yang disarankan," tambah Biggar.

"Setiap target yang disebutkan adalah warga sipil secara de facto hingga terbukti sebaliknya - Lavender tidak membuktikan apapun. Ini hanyalah upaya "pencucian etika" - menggunakan sistem AI untuk mencapai tujuan yang diinginkan tetapi tidak bermoral atau ilegal, dan kemudian menyalahkan AI," sambungnya.

Baca juga artikel terkait INTERNASIONAL atau tulisan lainnya dari Beni Jo

tirto.id - Sosial budaya
Kontributor: Beni Jo
Penulis: Beni Jo
Editor: Dipna Videlia Putsanra