Menuju konten utama

Belajar Dari Deng Xiaoping

Deng memang berhasil secara praktikal: menerapkan mekanisme pasar tanpa harus membuka keran demokrasi politik, cocok dengan karakter China.

Belajar Dari Deng Xiaoping
Header Perspektif Ahmad Nurcholis. tirto.id/Tino

tirto.id - Dalam bab khusus soal Deng Xiaoping, Boer (2021) berpendapat, selama ini kebanyakan orang-orang abai atas pemikiran teoritis dan filosofis Deng. Deng, seolah-olah dipandang hanya sosok pragmatis belaka. Sosok yang berhasil mengubah wajah China melalui cara kerja praktis tanpa meninggalkan jejak 'isme' yang serupa dengan pendahulunya, Mao. Tidak ada Dengisme di China, yang ada hanya Maoisme.

Padahal menurut Boer, jasa Deng dalam abstraksi ide dan pengayaan nilai sosialisme China amat besar. Meski tidak sesistematis Mao lewat publikasi karya, jejak ide-ide Deng bisa ditelusuri melalui rekaman "observasi dan pidato" yang ia lakukan.

Deng adalah "sosok yang suka beraksi ketimbang berkata-kata," kata Boer. Deng lebih memilih cara kerja praktikal, menguji teori secara langsung, dan memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ditemukan secara faktual. Mudahnya, Deng lebih suka beraksi ketimbang berkutat dalam kubangan pemikiran. Ia menghindar terikat dogma ideologis yang kaku yang alih-alih menjauhkannya dari realita kebenaran di sekelilingnya. Namun, "itu bukan berarti Deng tidak berpikir (berkontemplasi)" sama sekali, lanjut Boer. Deng percaya bahwa tidak ada kebenaran absolut dalam teori dan ideologi manapun.

Kebenaran akan teori dan ideologi harus sejalan dengan realita perkembangan umat manusia. Ideologi dan teori bukan sesuatu yang mutlak. Ia adalah sesuatu yang dinamis, yang membutuhkan koreksi dan modifikasi agar sesuai dengan semangat zaman. Gagasan Deng inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya kebijakan pragmatis "reformasi dan pintu terbuka" di China sekaligus memperkuat karakter khas sosialismenya.

Deng memang berhasil secara praktikal: bahwa menerapkan mekanisme pasar tanpa harus membuka keran demokrasi politik cocok dengan karakter China. Demokrasi, disinyalir tidak sesuai bagi China sebab berpeluang menyebabkan riuh politik yang berbahaya bagi integrasi bangsa. Sejak era kedinastian hingga perjuangan kemerdekaan, perang sipil di China menjadi peristiwa berulang yang sering terjadi. Momok perpecahan menghalangi China untuk mengubah haluan politiknya.

Stabilitas politik, makanya, menjadi mahal untuk dipertahankan. Kestabilan, bukan kebebasan, adalah kunci utama yang akan terus dipegang dalam diktum politik China di masa depan. Stabilitas penting sebab ia merupakan pondasi kemakmuran.

Tuduhan Serius Bagi Deng

Bagaimanapun, jalan yang ditempuh Deng dengan mengawinkan komunisme dan kapitalisme, di samping sukses menghantarkan kejayaan bagi China, juga sukses menjerumuskannya ke dalam tuduhan serius. Ia dicap tidak mempunyai landasan ideologis jelas. Malah dirinya digambarkan telah jauh menyimpang dari ajaran murni Marxisme-Leninisme.

Terlepas dari kontradiksi ideologis Deng, integrasi sistem politik satu partai dan ekonomi terbuka faktanya telah berhasil menempatkan China di jajaran negara-negara besar. Menyandingkannya setara dengan AS dan Rusia. Bahkan, kini, ekonominya melampaui kekuatan negara-negara besar yang pernah eksis di masa multipolaritas perang dunia I dan II.

Kebangkitan China yang diinisiasi Deng karenanya salah besar bila dipandang hanya dalam lensa penyimpangan ideologis semata. Seolah-olah ia sama sekali tidak berkontribusi terhadap perkembangan sosialisme di China.

Terkait hal itu Boer berpendapat, banyak orang salah sangka, seakan-akan Deng tidak mewariskan gagasan filosofis hanya karena Deng tidak serajin Mao dalam menulis. Hanya karena Deng lebih suka hal-hal praktis dibanding teoritis. Padahal lanjut Boer, setidaknya ada tiga pemikiran Deng yang menjadi pondasi kebangkitan Tiongkok yang lahir berbarengan dan mengilhami reformasi ekonomi dan keterbukaan di tahun 1978.

Tiga Pemikiran Deng

Pertama, Deng berkontribusi membuka alam pikiran bangsa China. Deng menekankan pentingnya “pembebasan pikiran” dari tabu ideologi, pengkultusan sosok, dan tradisi yang tidak sejalan dengan semangat zaman. Pikiran yang merdeka akan memungkinkan munculnya ruang interaksi bagi ide-ide baru dan koreksi atas ketidaksesuaian yang terjadi. Pikiran merdeka akan lebih moderat terhadap masukan dan menghindari egosentrisme, seolah-olah satu-satunya pemegang kebenaran.

Dalam suasana dan kondisi seperti itu, inovasi dan kreativitas dapat tumbuh dan berkembang. Orang-orang akan berani melakukan terobosan dan tidak terhalang pembatasan-pembatasan yang berasal dari dogma, tradisi, atau sosok tertentu. Inilah revolusi pemikiran Deng yang mengirigi kemajuan China saat ini. Deng berhasil membebaskan bangsa China dari belenggu pemikiran kolot dan mendorong pikiran-pikiran baru yang lebih berani tanpa harus takut dianggap mengkhianati pakem dogma ideologi.

Kedua, Deng berpegang teguh pada prinsip “pencarian kebenaran berdasarkan fakta”. Dirinya tidak menutup mata bahwa pencarian kebenaran adalah proses yang dinamis bukan statis. Kebenaran harus terus menerus diupayakan. Kebenaran tidak berhenti di satu titik. Kebenaranharus sesuai dengan konteks zaman. Dan yang terpenting, ia harus didasarkan pada fakta yang ada dan pengalaman yang muncul dari mana saja.

Singkatnya, Deng percaya pada sumber empirik kebenaran seperti fakta, data, angka, dan pengalaman yang dianalisis berdasarkan kemanfaatannya dalam “praktik sosial” yang berlaku dalam masyarakat setempat (Chen Xixi, 2008, p. 4, sebagaimana dikutip dalam Boer, 2021). Salah satunya, fakta kebenaran keberhasilan pembangunan dan modernisasi barat yang dihasilkan dari praktek ekonomi pasar.

Kekuatan pasar sudah terbukti mampu mendongkrak tuas kemajuan ekonomi bangsa barat. Ini adalah fakta yang tidak bisa dibantah. Namun Deng juga tidak menampik bahwa dalam sistem ekonomi pasar kapitalis, terdapat anomali yang mesti diwaspadai. Anomali tersebut adalah kemungkinan lahirnya ketimpangan material kekayaan jika kebebasan ekonomi tidak dikendalikan secara bertanggung jawab.

Makanya, pada level tertentu, peran negara tetap penting untuk mengontrol pasar. Negara berkewajiban memastikan kesejahteraan ekonomi terdistribusi secara merata. Minimal, persentase gap si kaya dan si miskin tidak ekstrem atau bisa dimoderasi ke level tertentu. Inilah yang melandasi logika praktik ekonomi China. Negara tetap diperlukan untuk mengendalikan sikap rakus yang inheren pada manusia.

Terakhir, Deng percaya pada “pembebasan kekuatan produksi” dari pasung moral ideologi dan tradisi. Yang menganggap seolah-olah menjadi kaya adalah dosa. Justru, bagi Deng, menjadi masyarakat sosialis yang makmur adalah keharusan. Sangat konyol jika sosialisme lebih menghargai kemiskinan dibanding kekayaan. Betapa tidak menariknya ideologi yang menawarkan kemiskinan dan penderitaan bagi orang-orang. Tapi harus digarisbawahi, definisi kekayaan yang dimaksud Deng bukanlah akumulasi material individu-individu rakus. Melainkan, katanya, “…kemakmuran bersama untuk seluruh rakyat” (Deng, 1986, p. 172, sebagaimana dikutip dalam Boer, 2021, p. 42).

Karena itu, untuk mewujudkan masyarakat sosialis China yang makmur, kata Deng, penting untuk tidak hanya berkutat di persoalan urgensi penguasaan “kepemilikan kekuatan produksi” oleh negara. Masyarakat China juga harus gigih menggenjot kekuatan produksinya secara masif lewat industrialisasi dan keterbukaan terhadap dunia luar. Sebab China sendiri masih terbelakang. Memusatkan perhatian pada pentingnya “kepemilikan kekuatan produksi” hanya akan menghasilkan “stagnasi ekonomi” bagi perkembangannya. China perlu terus menerus berproduksi dan makmur (Deng1982, 16;1985, 148; Wang Yunjing and Yang 1994, 105 sebagaimana dikutip dalam Boer, 2021, p. 38-39).

Pelajaran Bagi Indonesia

Melihat jasa Deng yang besar bagi modernisasi China, ada dua faktor yang harus digarisbawahi sebagai pelajaran bagi Indonesia. Pertama, pentingnya sosok pemimpin berani untuk mengambil langkah non populis. Bahkan, dalam level tertentu, memiliki nyali untuk mendobrak tradisi lama yang tak sesuai dengan arus zaman. Deng berani melakukan koreksi terhadap warisan kebijakan Mao yang kontradiktif terhadap perkembangan pembangunan China. Melonggarkan cengkeraman ekonomi terpusat negara dan membuka China ke dunia luar adalah sesuatu yang tak pernah terbayangkan di masa Mao.

Sementara dalam kasus Indonesia, hambatan struktural paling urgen untuk diselesaikan dalam kaitannya dengan proses pembangunan kita adalah jeratan korupsi yang membudaya. Korupsi menjadi penghambat utama pembangunan kita. Kita butuh pemimpin yang berani untuk melakukan reformasi sistemik dan struktural untuk mempersempit ruang gerak dan memberikan efek jera terhadap koruptor. Pengesahan RUU Perampasan Aset menjadi langkah yang saat ini masih ditunggu oleh masyarakat. Alasan minimnya investor asing masuk ke Indonesia salah satunya juga disebabkan indeks korupsi kita yang buruk.

Kedua, proses reformasi ekonomi yang dilakukan Deng dilakukan beriringan dengan reformasi cara pandang masyarakat. Tiga elemen yang sudah disebut di atas, seperti “pembebasan pikiran,” “pencariankebenaran berdasarkan fakta,” dan “pembebasan kekuatan produksi” adalah kampanye yang Deng lakukan di masyarakat untuk memperkuat pondasi kebijakan reformasi ekonominya. Artinya, kebijakan struktural yang ia lakukan harus ditopang dengan kesesuaian cara pandang masyarakat di akar rumput.

Dalam konteks Indonesia, perang melawan korupsi di level pemerintahan juga harus sejalan dengan semangat pembiasaan kejujuran, anti-pungli, dan integritas diri di masyarakat. Caranya bisa melalui optimalisasi jejaring sosial keagamaan lewat ceramah agama terus menerus atau peran NGO melalui kampanye dan advokasi anti-korupsi atau bahkan melalui lembaga pendidikan dengan memasukan kurikulum anti-korupsi di berbagai tingkat pendidikan. []

Penulis adalah dosen Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya.

Baca juga artikel terkait OPINI atau tulisan lainnya dari Ahmad Nurcholis

tirto.id - Kolumnis
Penulis: Ahmad Nurcholis
Editor: Nuran Wibisono