Menuju konten utama

Banjir di Jabodetabek dan Bengkel-Bengkel yang Ketiban Untung

Bengkel-bengkel penuh. Orang-orang pergi ke sana untuk memperbaiki kendaraannya yang terkena banjir.

Banjir di Jabodetabek dan Bengkel-Bengkel yang Ketiban Untung
Banjir besar menerjang Perumahan Pondok Gede Permai, Jati Asih, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (2/1/2019). Banjir setinggi lima meter tersebut menyebabkan harta benda warga hancur seperti mobil, sepeda motor, kursi, kasur dll. (tirto.id/Reza Hidayat)

tirto.id - Seluruh jok dan karpet telah dikeluarkan. Kini Avanza berkelir hitam itu hanya tampak seperti kaleng dengan setir dan dasbor.

Anang (42) jongkok di depan setir, kepalanya melongok ke bagian bawah, mencari-cari kabel dan soket. Ini adalah mobil keempat yang ia perbaiki karena banjir.

"Ini habis kebanjiran. Harus dicek semua sebelum dihidupkan," kata Anang kepada saya. Tangannya tak berhenti merogoh bagian dalam dasbor.

Anang baru tiga bulan bekerja di bengkel Pilar Sejati Raya, Ciledug, Kota Tangerang. Namun jangan ragukan pengalamannya mengurus mobil.

Banjir melanda sebagian Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat sejak hari pertama di tahun 2020. Perumahan Ciledug Indah adalah salah satu wilayah terparah terdampak di Kota Tangerang. Setidaknya ada 453 warga dari 86 kepala keluarga yang terpaksa mengungsi.

"Ini juga dari Ciledug Indah kayaknya," kata Anang.

Anang mengambil kompresor dan suara desis akibat udara yang beradu dengan soket langsung memekakkan telinga. Sistem kelistrikan mobil, mulai dari lampu-lampu indikator sampai sistem pengapian di engine control unit (ECU), menjadi perhatian Anang.

Setelah semuanya dipastikan kering, baru mesin dihidupkan. Di sini diagnosis dimulai. Anang akan tahu mesin bagian mana yang rusak hanya dengan mendengarnya.

"Misal kipasnya enggak jalan atau dinamonya enggak bunyi, atau biasanya mesinnya bunyi-bunyi. Itu berarti lahernya sudah kena. Nah, itu harus diganti," kata Anang, semacam memberi kursus singkat kepada saya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total korban tewas akibat banjir mencapai 67 orang, paling banyak berada di Kabupaten Bogor dengan 17 orang, menyusul di bawahnya ada Kabupaten Lebak dengan 10 orang, dan Kota Bekasi 9 orang. Banjir juga memaksa 13.993 orang dari 3.865 kepala keluarga mengungsi.

BNPB juga mencatat ada 511.471 orang terdampak langsung oleh banjir, paling banyak berada di Kota Bekasi yang mencapai 366.274 orang, disusul Kota Tangerang Selatan dengan 65.001 orang.

Salah satunya ialah Zulkarnain (41), warga Perumahan Kemang Pratama, Kota Bekasi. Ia jauh-jauh mengendarai Honda Mobilio-nya dari Bekasi ke Pilar Sejati Raya Ciledug untuk diservis karena dua alasan: "Pertama, di Bekasi semua bengkel penuh, antre. Kedua, ini memang kawan saya yang punya bengkel," katanya.

Zulkarnain sebenarnya telah mengantisipasi musim hujan dengan memarkirkan kendaraannya di tempat yang lebih tinggi. Pada musim hujan sebelumnya, mobilnya tak terdampak meski perumahannya terendam banjir.

Ia tak mengira banjir kali ini akan sedemikian parahnya. Di dalam rumah ketinggian air mencapai 1,5 meter dan di luar mencapai 2,5 meter. Mobilnya terendam hingga hampir menutupi kap mesin.

Beruntung sebelum banjir ia telah mencabut aki mobil. Saat baru surut pun sistem kelistrikan mobil telah dicek dan untungnya masih baik-baik saja.

"Karena kondisi semua normal, paling ganti oli aja, sama filter-filter saya ganti. Sama proses pengeringan, mungkin sekitar Rp3 jutaan," kata Zulkarnain, menaksir berapa uang yang akan dia keluarkan dalam servis kali ini.

Rezeki

Riska (28), pemilik bengkel Pilar Sejati Raya, mengatakan musim hujan kali ini adalah yang pertama sejak ia membuka bengkel tersebut pada Agustus 2019. Karena masih baru, pelanggannya masih belum terlalu banyak. Tapi setelah banjir, jumlah konsumen membludak.

"Kami belum sempat hitung, tapi alhamdulillah banyak soalnya bengkel sampai full. Kalau kita bisa nampung sekitar 15 mobil," kata Riska kepada saya.

Umumnya mereka yang datang adalah korban banjir dari sekitar Ciledug. Keluhan mereka bermacam-macam, tapi umumnya ialah persneling dan setir yang berat saat digerakkan. Ada pula pelanggan yang mobilnya tak bermasalah, tapi tetap minta diperiksa untuk jaga-jaga.

Riska belum menghitung berapa keuntungan yang ia dapat dari memperbaiki mobil korban banjir. Namun ia menggambarkan, untuk perbaikan persneling dan setir, ia mematok harga Rp1-2 juta. Sementara jika kerusakannya parah hingga berdampak pada bodi dan banyak komponen yang diganti, maka bisa mencapai puluhan juta rupiah.

Penambahan jumlah pelanggan juga dialami oleh bengkel Grand Oto Service, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Widya (22), admin bengkel, mencatat ada lima mobil yang masuk ke bengkelnya dengan keluhan terendam banjir.

Umumnya ketika mobil baru masuk ke bengkel, keadaannya benar-benar berantakan. Lumpur melumuri mulai dari bagian luar, kabin, hingga ke dalam mesin. Pekerjaan pertama montir adalah membersihkan lumpur-lumpur itu.

"Kalau servis biasa, kan, hanya tune up, rem atau apa, tapi ini semua harus dirombak," kata Widya.

Para pemilik dan pengelola bengkel ini tentu senang karena banyak pelanggan datang pasca banjir, tapi di sisi lain mereka juga berharap air tak lagi datang karena bagaimanapun mereka juga dirugikan.

Baca juga artikel terkait BANJIR JABODETABEK atau tulisan lainnya dari Mohammad Bernie

tirto.id - Bisnis
Reporter: Mohammad Bernie
Penulis: Mohammad Bernie
Editor: Rio Apinino