tirto.id - Pemerintah Kuwait mengumumkan bahwa Bandara Internasional Kuwait telah dibuka kembali. Seluruh penerbangan milik maskapai nasional Kuwait Airways telah kembali beroperasi melalui Terminal 4 (T4) setelah terganggu akibat serangan rudal.
Status darurat bandara langsung diaktifkan setelah salah satu terminal mengalami dampak serangan drone yang memicu kerusakan fasilitas dan gangguan layanan penerbangan.
Pembukaan kembali bandara ini dilakukan setelah tim teknis dan otoritas penerbangan sipil melakukan serangkaian inspeksi lapangan, penilaian kerusakan, serta evaluasi menyeluruh terhadap kondisi fasilitas bandara.
Dikutip dari Gulf News, Rabu (3/6/2026), hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Terminal 4 telah memenuhi standar operasional dan keselamatan yang diperlukan sehingga dinyatakan siap kembali melayani penumpang dan penerbangan.
Otoritas Penerbangan Sipil Kuwait menjelaskan bahwa proses pemulihan dilakukan melalui koordinasi intensif dengan berbagai instansi pemerintah terkait. Tim ahli memeriksa struktur bangunan, sistem navigasi, jaringan komunikasi, fasilitas keamanan, serta infrastruktur pendukung lainnya untuk memastikan tidak ada risiko yang dapat membahayakan aktivitas penerbangan.
Meski operasional penerbangan telah dibuka kembali, otoritas menegaskan bahwa untuk sementara layanan yang kembali berjalan hanya berlaku bagi penerbangan Kuwait Airways yang menggunakan Terminal 4.
Penumpang yang memiliki rencana perjalanan diminta untuk menghubungi pihak maskapai terlebih dahulu guna memastikan jadwal keberangkatan, status penerbangan, serta informasi perjalanan terbaru sebelum berangkat ke bandara.
Pihak berwenang juga menegaskan bahwa keselamatan penumpang dan personel bandara tetap menjadi prioritas utama. Oleh karena itu, berbagai prosedur keamanan tambahan masih diterapkan, termasuk pemantauan situasi secara berkelanjutan, koordinasi dengan aparat pertahanan dan keamanan, serta kesiapan menjalankan protokol darurat apabila diperlukan.
Serangan Iran ke Kuwait Tewaskan 1 Warga Negara India
Ketegangan kawasan Teluk kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Pulau Qeshm, sebuah wilayah strategis Iran yang berada di Selat Hormuz.
Sebagai respons, Iran melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menyerang sejumlah target militer AS di Timur Tengah, termasuk pangkalan udara di Kuwait dan markas Armada Kelima Angkatan Laut AS di Bahrain.
“Sebagai tanggapan atas agresi ini, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, yang menampung helikopter, serta markas besar Armada Kelima AS di Bahrain, menjadi sasaran rudal dan drone oleh pasukan Garda Revolusi Iran,” kata IRGC dalam sebuah pernyataan di Telegram dikutip Al Jazeera, Rabu (3/6/2026).
Salah satu dampak paling signifikan dari eskalasi ini terjadi di Kuwait. Pemerintah Kuwait melaporkan bahwa sejumlah rudal balistik dan drone yang diduga diluncurkan dari Iran menghantam wilayah negaranya pada Rabu (3/6) pagi.
Serangan tersebut menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas Bandara Internasional Kuwait hingga operasional bandara sempat dihentikan sementara. Kementerian Luar Negeri Kuwait menyatakan satu orang tewas dan 63 lainnya terluka akibat serangan tersebut.
Korban tewas diketahui merupakan warga negara India, yang kemudian dikonfirmasi langsung oleh Kementerian Luar Negeri India. Selain korban jiwa, serangan itu juga merusak sejumlah fasilitas diplomatik serta memicu kekhawatiran besar terhadap stabilitas keamanan kawasan.
“Kami mengutuk serangan terhadap Bandara Internasional Kuwait hari ini yang menewaskan seorang warga negara India dan beberapa warga negara kami terluka,” kata Kementerian Luar Negeri India dalam sebuah pernyataan.
Kementerian Pertahanan Kuwait mengungkapkan bahwa sistem pertahanan negara mendeteksi sekitar 30 rudal balistik dan drone yang diluncurkan Iran. Sebagian proyektil berhasil dicegat di udara, namun puing-puing rudal yang jatuh tetap menyebabkan kerusakan di beberapa kawasan permukiman dan fasilitas sipil.
Pemerintah Kuwait menyebut serangan tersebut sebagai agresi serius terhadap fasilitas vital dan warga sipil. Sebagai respons diplomatik, Kuwait memanggil kuasa usaha Iran dan menyerahkan nota protes resmi.
Pemerintah Kuwait bahkan memerintahkan dua staf Kedutaan Besar Iran untuk meninggalkan negara itu dalam waktu 24 jam.
Di sisi lain, Iran membantah telah secara langsung menargetkan Bandara Internasional Kuwait. Juru bicara IRGC, Hossein Mohebbi, menyatakan hasil investigasi internal menunjukkan Divisi Dirgantara IRGC tidak pernah mengarahkan serangan ke terminal penumpang bandara tersebut.
Menurut versi Iran, kerusakan yang terjadi justru disebabkan oleh rudal pertahanan udara Patriot buatan Amerika Serikat yang mengalami kegagalan saat mencoba mencegat rudal Iran. IRGC mengklaim rudal Patriot tersebut jatuh ke area terminal setelah kehilangan kendali.
Tuduhan itu segera dibantah oleh Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM), yang menegaskan bahwa klaim Iran tidak benar.
“KLAIM: Iran hari ini mengklaim bahwa mereka tidak menyerang terminal penumpang di Bandara Internasional Kuwait dan kerusakannya disebabkan oleh pencegat rudal AS. Benar-benar SALAH,” tulis CENTCOM di akun X @CENTCOM pada 4 Juni 2026.
“FAKTA: Iran menyerang bandara sipil dengan drone dalam serangan yang disengaja, diperhitungkan, dan tidak dapat dibenarkan,” tegas mereka.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































