Bagaimana Arab Saudi Ketat Atur Bendera Nasional Bertuliskan Tauhid

Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 2 November 2018
Dibaca Normal 3 menit
Bagi Kerajaan Arab Saudi bendera nasionalnya adalah juga simbol Islam.
tirto.id - Belakangan ini Banser NU sedang mendapat tekanan gara-gara video viral aksi anggota Banser NU membakar bendera dan ikat kepala yang diklaim milik ormas HTI yang terlarang. Keesokan harinya, aksi protes atas aksi Banser terjadi di Surakarta, Bogor, dan Garut.

Para pengunjuk rasa mendesak kepolisian menghukum para pelaku karena mereka menganggap bendera yang dibakar memuat kalimat tauhid yang disucikan.

Puncaknya, pada Jumat (26/10), massa Aksi Bela Tauhid berunjuk rasa di Kementerian Hukum dan HAM dan Kantor PBNU. Aksi serupa oleh Aliansi Pejuang Tauhid Jawa Barat juga terjadi di Kota Bandung yang dipusatkan di Pusat Dakwah Islam (PUSDAI) di Jalan Surapati.

Tak hanya protes, polemik juga kian riuh oleh debat soal bendera berenskripsi tauhid, apakah itu bendera HTI ataukah lambang umat Muslim. Uus Sukmana, pembawa bendera saat peringatan Hari Santri Nasional di Garut, telah mengakui kepada polisi bahwa yang ia bawa adalah bendera HTI. Namun, perdebatan telanjur bergulir.

Menurut mantan juru bicara HTI Ismail Yusanto bendera dibakar oleh Banser NU adalah Ar-Rayah. Dalam penjelasannya, bendera Ar-Rayah dicirikan inskripsi putih dan latar belakang hitam. Lalu ada pula bendera Al-Liwa dengan inskripsi hitam dan latar belakang putih. Ismail mengakui bahwa HTI seringkali menggunakan bendera itu dalam aksinya. Pasalnya, HTI memang bermaksud menyebarluaskan pemahaman soal bendera tersebut.



Akan tetapi, Ismail menampik bahwa yang dibakar Banser NU itu adalah bendera HTI. Menurutnya HTI memiliki lambang tersendiri berupa tulisan Hizbut Tahrir Indonesia dengan dekoratif di huruf I (Indonesia) menjadi Ar-rayah.

Sementara itu GP Ansor melalui ketuanya Yaqut Cholil Qoumas bersikukuh bahwa itu adalah bendera HTI. Ia berpegang pada dokumen legalitas syariah yang dimilikinya. Menurut Yaqut, dalam dokumen itu, logo ormas HTI memakai bendera bertuliskan kalimat tauhid dengan latar belakang kain warna hitam dan putih.

Pendapat Yaqut dikuatkan Ketua Umum Patriot Garuda Nusantara (PGN) Nuril Arifin, atau yang akrab dipanggil Gus Nuril. Menurut Gus Nuril khazanah Islam tak mengenal bendera tauhid. Gus Nuril membenarkan bahwa khazanah Islam mengenal Ar-rayah dan Al-liwa. Namun, keduanya digunakan dalam konteks berperang.

"Tidak ada bendera tauhid. Yang ada kalimat tauhid. Bendera tauhid tidak ada di dunia mana pun. Yang ada kalimat tauhid itu ditempelkan di kain, dan kemudian dijadikan bendera kerajaan Arab Saudi, Al-Qaeda, ISIS, Al-Nusro, meskipun tidak ada tulisan HTI," katanya di depan kantor PBNU, Jumat (26/10/2018).

Pernyataan Gus Nuril tentang pencantuman kalimat tauhid pada bendera Kerajaan Arab Saudi tersebut menarik untuk ditelisik. HTI bisa saja mengklaim bendera tauhid itu sebagai simbol Islam dan umatnya, juga kemungkinan menjadi simbol kekhalifahan Islam—dengan kata lain, simbol negara. Namun, itu merupakan sesuatu yang abstrak, pula jauh.

Dalil atas simbol itu pun tak tunggal sifatnya, karena NU punya argumentasi untuk menyangkalnya. Pun demikian, pembakaran terhadap bendera dan ikat kepala berlafadz tauhid oleh Banser NU pun karena alasan untuk menjaga kekudusan kalimat itu.

Ada antipati di antara kedua kubu. Karenanya, memperdebatkan bendera tauhid itu sebagai representasi Islam atau atau hanya suatu kelompok agaknya nirfaedah. Lagi pula, di Indonesia tak ada hukum yang mengatur tentang bendera selain bendera nasional merah-putih.

Itu sebab, menarik kiranya menilik perspektif Kerajaan Arab Saudi dalam mengatur simbol negara sekaligus simbol agama itu.

Di sebut dalam Ensiklopedia Britannica, penggunaan bendera hijau dengan inskripsi tauhid di semenanjung Arabia sebagai identitas mulai marak sejak akhir abad ke-18. Penggunanya tak lain adalah kelompok Wahabi yang kala itu mengkampanyekan unifikasi Semenanjung Arab.

Sepanjang abad ke-19 hingga awal abad ke-20, bendera ini menjadi identitas tentara Wahabi. Penggunaan bendera ini kian paten saat Ibnu Saud berhasil membangun Kerajaan Arab Saudi pada 1932. Bendera Kerajaan Arab Saudi yang berlaku sekarang ini adalah versi Dekrit Kerajaan 1973.

Segala hal terkait bentuk fisik, filosofi, standar penggunaan, hingga pelanggaran atas bendera ini diatur sangat ketat. Seperti sudah disinggung, bendera Arab Saudi ini adalah simbol negara dan agama sekaligus. Melecehkan bendera ini sama saja dengan melecehkan Islam.

“Di Arab Saudi, penodaan bendera dianggap sebagai penghujatan terhadap Islam dan dengan demikian dapat dihukum dengan denda, penjara, hukuman fisik dan bahkan hukuman mati. Meskipun pasal 32 Piagam Arab tentang Hak Asasi Manusia—yang mana Arab Saudi terikat olehnya—menjamin hak atas kebebasan berpendapat dan berekspresi, siapapun yang merendahkan Islam diperlakukan sebagai musuh negara,” tulis jurnalis Ludovica Iaccino di laman warta International Business Times.



Laman Flags of the World (FOTW)—situs khusus untuk vexillology (studi tentang bendera)—menyebut bahwa lafadz tauhid di bendera ini harus terbaca dari kanan ke kiri dan ujung runcing pedang di bawahnya harus mengarah ke arah kibaran bendera. Karenanya, bendera ini selalu dibuat dengan dua lapis kain. Juga untuk menjaga agar lafadz tauhid tetap terbaca sebagaimana mestinya, bendera resmi ini dilarang untuk dikibarkan secara vertikal.

Bendera Arab Saudi ini hanya diizinkan untuk tujuan resmi dan tak boleh sembarangan diterakan pada asesoris atau benda, lebih-lebih untuk tujuan komersil.

Infografik Inskripsi Tauhid Bendera Saudi


Orang luar Arab Saudi sering kali tak memahami aturan-aturan ini dan membuat geram pemerintah Arab Saudi. Salah satu kontroversi yang cukup bikin heboh adalah ketika bendera ini muncul di kantong makanan cepat saji McDonald’s Inggris pada Juni 1994 yang memang bertepatan dengan gelaran Piala Dunia. Untuk ikut memeriahkan pesta sepak bola prestisius itu McDonald's mencetak 2 juta kantong makanan dan digunakan di 520 restoran di Inggris.

Ulah McDonald’s itu kontan bikin marah pejabat Kedutaan Arab Saudi di London. Pun demikian dengan komunitas Muslim di Inggris. Duta Besar Arab Saudi untuk Inggris Ghazi Algosaibi lantas melayangkan protesnya kepada wakil kepala pemasaran McDonald's, John Hawkes. McDonald’s tak punya pilihan lain kecuali menarik kembali kantong makanan itu dari peredaran.

Kasus paling baru terjadi pada gelaran Piala Dunia 2018 lalu. Lagi-lagi terjadi di Inggris, tepatnya di London. Untuk ikut memeriahkan Piala Dunia 2018, Produsen bir Greene King memasang bendera 32 negara peserta di pub-pub yang mereka kelola. Tak terkecuali bendera Arab Saudi.

Pemasangan bendera nasional berenskripsi kalimat suci di tempat mabuk-mabukan tentu saja bikin geram Arab Saudi. Pengelola Greene King langsung menyuruh karyawannya mencopot seluruh bendera Arab Saudi di pub-pubnya. Padahal, beberapa bulan sebelumnya pembuat bir Jerman Eichbaum baru kena protes Kedutaan Arab Saudi untuk Jerman karena memasang benderanya di tutup botol birnya.



“Mencetak bendera bertulis shahada pada botol bir adalah pelecehan terhadap kekudusan kalimat itu, penghinaan terhadap bendera dan provokasi terhadap perasaan Muslim,” demikian protes Kedutaan Arab Saudi untuk Jerman di akun twitter resminya seperti dikutip laman warta Independent.

Ketatnya Kerajaan Arab Saudi menjaga kekultusan kalimat tauhid di benderanya juga terlihat dari tak dikenalnya tradisi pengibaran bendera setengah tiang di negeri padang pasir itu. Itu terlihat kala Arab Saudi berkabung atas mangkatnya Raja Fahd pada Agustus 2005.

Beberapa pemimpin dunia datang pada hari penguburan Raja Fahd untuk memberi penghormatan terakhir. Suasana duka menyelimuti prosesi pemakaman raja dari dinasti Ibnu Saud itu. Namun, di luar itu masyarakat beraktivitas sebagaimana biasa, perniagaan tetap berjalan, dan tak ada kantor pemerintahan yang diliburkan.

Tak ada perkabungan di Arab Saudi dan bendera-bendera tidak dikibarkan setengah tiang. Pasalnya, di sana, mengibarkan bendera setengah tiang adalah pelecehan terhadap kalimat tauhid.

Baca juga artikel terkait PEMBAKARAN BENDERA TAUHID atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Sosial Budaya)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Nuran Wibisono