Masa Depan Cemerlang Industri Hiburan Arab Saudi

Oleh: Nuran Wibisono - 20 November 2017
Dibaca Normal 3 menit
Buah dari reformasi yang dilakukan Pangeran Salman, Arab Saudi membuka pintu lebar-lebar untuk industri hiburan.
tirto.id - "Sektor terpenting ketiga jika bicara dalam negeri adalah industri hiburan dan pariwisata."

Kalimat itu mungkin akan terasa biasa didengar, apalagi memang industri pariwisata dunia terus berkembang. Tapi terasa luar biasa karena yang mengucapkannya adalah Muhammad bin Salman al-Saud, sang Putra Mahkota, Wakil Perdana Menteri, sekaligus Ketua Dewan Urusan Ekonomi dan Pembangunan Arab Saudi.

Dunia saat ini sedang mengikuti bagaimana Arab Saudi berbenah. Ada banyak reformasi yang dilakukan. Salah satunya, pada September lalu, saat mereka mengeluarkan dekrit agar perempuan bisa menyetir mobil sendiri. Peraturan itu akan aktif mulai Juni 2018. Tapi sebenarnya, bukan perubahan ini yang benar-benar menandai awal perubahan besar.

Semua bermula pada April 2016. Saat itu, Pangeran Salman mengumumkan tentang rencana Saudi Vision 2030. Ini adalah rencana jangka panjang, 15 tahun, melibatkan 80 proyek lebih. Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan terhadap minyak, diversifikasi ekonomi, serta mengembangkan sektor pelayanan publik semisal kesehatan, pendidikan, infrastruktur, rekreasi, dan pariwisata. Kerajaan Arab Saudi siap menggelontorkan dana sebesar 3,7 juta dolar hingga 20 juta dolar untuk tiap proyek.

Baca juga: Anomali Pewarisan Tahta di Arab Saudi

Salah satu sektor yang kemudian akan dimaksimalkan oleh Arab Saudi adalah industri hiburan dan pariwisata. Pangeran Salman menyebut sektor ini sebagai andalan ketiga. Dalam wawancara dengan Al Arabiya, ia menyebut bahwa industri pariwisata dan hiburan bernilai amat besar. Para warga Arab Saudi menghabiskan 22 miliar dolar dalam setahun untuk industri itu. Sayangnya, jumlah itu mereka habiskan di luar negeri. Apa boleh buat, Arab Saudi selama ini memang tidak ramah terhadap industri hiburan.

"Ini adalah sektor paling menyulitkan karena keputusannya diambil penuh oleh warga Saudi, dan tidak berhubungan dengan pemerintah Saudi," ujar sang Putra Mahkota.

Baca juga: Black Metal dari Arab Saudi

Kesulitan pertama adalah meyakinkan warga negaranya untuk membelanjakan uang di dalam negeri. Kalau itu tidak terjadi, Kerajaan Saudi akan kesusahan untuk menggelontorkan investasi. Maka, demi menggaet setidaknya 50 persen dana hiburan untuk dibelanjakan di dalam negeri hingga 2030 kelak, Pangeran Salman mendorong agar industri hiburan tumbuh pesat di negaranya. Salah satu caranya adalah membentuk lembaga yang menangani sektor ini: General Entertainment Authority (GEA).

Ada sembilan tugas lembaga ini. Antara lain, mengembangkan rencana dan standar manajemen fasilitas untuk tempat acara dan kegiatan. Kemudian mengembangkan fasilitas hiburan, mewakili kerajaan Saudi di acara global, hingga mendorong investasi di sektor hiburan.

HE Ahmed Al Khateeb, penasihat utama Pangeran Salman, ditunjuk untuk mengepalai lembaga ini. Ada pula nama Dr. Lama Al Sulaiman, anggota Kamar Dagang Jeddah, satu-satunya perempuan dalam jajaran pengurus. Ada dua warga asing yang turut masuk dalam jajaran ini, yakni Joe Zenas yang pernah bekerja untuk Universal Studios dan Walt Disney; dan Jonathan Tétrault, Direktur Operasional perusahaan hiburan Cirque du Soleil.

Gebrakan lembaga ini memang langsung terasa. Salah satu pertunjukan hiburan pertama adalah iLuminate asal New York. Mereka menampilkan seni pertunjukan yang menggabungkan tarian dan lampu LED. Pertunjukan yang diadakan di ruang konferensi Universitas Princess Nourah, Riyadh, ini berlangsung dari 28 September hingga 8 Oktober 2016. Lalu pertunjukan berlanjut ke Jeddah hingga 22 Oktober. Hampir setiap malam, tiketnya nyaris ludes. Dalam siaran pers-nya, tim iLuminate merasa girang bisa mencicipi pengalaman luar biasa ini.

"Kami adalah Artist of Light yang pertama kali tampil di Universitas Princess Nora, di gedung teater yang sama sekali belum pernah digunakan. iLuminate adalah pertunjukan pertama yang menghadirkan musik non-tradisional di depan umum di Arab Saudi. Pertunjukan kami juga pertama kalinya di mana lelaki, perempuan, dan keluarga dibolehkan berada di tempat yang sama."

Setelah itu, makin banyak kejutan yang dibawa oleh GEA. Februari 2017 silam, misalkan. Mereka mengadakan acara Comic Con, pertama kali dalam sejarah Saudi. Diadakan di Jeddah, acara ini menghadirkan budaya pop ke tempat yang selama ini asing. Ada komik, ada video game, ada film. Banyak warga Saudi berdatangan ke acara ini, beberapa turut memakai kostum pahlawan super.

"Kami melihat tingginya warga Saudi yang datang ke Comic Con di luar negeri selama beberapa tahun terakhir, artinya ada kebutuhan tinggi agar kami menyelenggarakan acara serupa. Sekarang, aspirasi itu kesampaian, dan kami percaya acara ini akan sukses besar," ujar Amr AlMadani, CEO GEA dalam rilis pers.

Menariknya, mereka sadar betul siapa sasaran reformasi industri hiburan ini: anak-anak muda yang akrab dengan dunia digital. Untuk itu, GEA membuat aplikasi bernama Roznamah. Ini adalah kalender kegiatan hiburan di Saudi. Aplikasi ini bisa diunduh di Playstore, dan baru diunduh sekitar 5 ribu kali.

Laman depan aplikasi ini menarik, dengan ungu sebagai warna dominan. Kita bisa memeriksa acara hiburan seperti konser atau festival di semua kota. Tinggal masukkan nama kota, tanggal, penonton (apakah pria, wanita, keluarga, atau campuran), hingga ketertarikan. Ada setidaknya 10 jenis hiburan yang bisa dipilih. Mulai dari pameran, acara pendidikan, olahraga, festival, pertunjukan panggung, game, hingga musik.

Dari aplikasi itu, warga Saudi bisa tahu bahwa Yanni, musisi asal Yunani, akan mengadakan konser untuk pertama kalinya di Saudi. Bertempat di Riyadh, tanggal 3 dan 4 Desember. Atau ada acara bertajuk Al Comedy Club, alias stand up comedy yang akan diadakan di Jeddah pada 21 November mendatang.

infografik masa depan industri hiburan saudi


Gebrakan GEA juga dianggap baik untuk pembukaan lapangan kerjaan. Dari data mereka, sudah ada sekitar 20.00 lapangan kerja baru setelah 7 bulan GEA diresmikan. Al-Khateeb mengatakan bahwa lembaga ini punya visi ambisius. Dalam wawancara bersama Reuters, ia ingin Arab Saudi punya industri hiburan yang, "99 persen mirip dengan apa yang ada di London dan New York." Dalam sebuah artikel di Bloomberg, disebutkan target mereka adalah membuka 450 klub budaya dan hiburan pada 2020 nanti. Di luar itu, mereka menargetkan pengeluaran rekreasi warga Saudi meningkat jadi 6 persen.

Baca juga: Membaca Arah Reformasi Sosial di Arab Saudi

Sang pimpinan lembaga ini juga mengatakan bahwa perubahan besar-besaran ini memang tidak selamanya mulus. Apalagi kelompok konservatif Saudi mengkritik keras langkah-langkah Pangeran Salman. Karenanya, perubahan tidak akan bisa berjalan dengan cepat. Namun, ujar Al-Khateeb, banyak orang paham bahwa mayoritas warga Saudi, sebagian besar berusia di bawah 30 tahun, ingin perubahan ini.

"Saya percaya, kami memenangkan perdebatan ini," ujarnya pada Reuters. Ia mengatakan bahwa, sebagian warga Saudi liberal, sebagian konservatif, "tapi mayoritas moderat. Mereka melancong, nonton bioskop, pergi ke konser. Dalam perhitungan saya, warga moderat ini 80 persen dari populasi."

"Dan kalau kaum konservatif tidak mau melihat hiburan, mereka bisa diam di rumah."

Baca juga artikel terkait ARAB SAUDI atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Nuran Wibisono
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti