tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah mengirimkan usulan perjanjian dengan Arab Saudi tentang energi nuklir sipil kepada Kongres AS. Ini tampak seperti tindak lanjut atas perjanjian nuklir AS-Saudi bulan lalu, namun syarat permintaan agar Saudi mengakui Israel masih tetap berlaku.
Melansir Reuters, seorang pejabat AS yang tak disebutkan namanya menyebut pada Selasa (25/8/2026), usulan tersebut telah dikirim ke Kongres untuk ditinjau. Dalam usulan itu, Washington akan membantu pengembangan energi nuklir sipil Riyad jika kerajaan itu mau menormalisasi hubungan diplomatik dengan Israel.
Kesepahaman terkait nuklir AS-Saudi itu sebelumnya tercapai pada Juli lalu. Isi kesepahaman memuat klausul perusahaan-perusahaan AS untuk mengekspor teknologi nuklir sipil ke Saudi.
Kesepakatan itu juga disebut akan berdurasi 30 tahun. Jika terjadi, kedua negara dilaporkan akan bekerja sama dalam pembangunan reaktor AP1000, sebuah proyek puluhan miliar dolar.
Selang sebulan kemudian, pemerintahan Trump dilaporkan mengirim usulan perjanjian dengan Saudi ke Kongres AS pada Senin (24/8). Kini, usulan tersebut memiliki waktu 90 hari sidang untuk ditinjau.
Menurut pejabat yang tak disebut namanya, Trump tetap berpegangan pada prinsipnya, yakni menyediakan bantuan jika Saudi mau ikut serta dalam Perjanjian Abraham. Perjanjian Abraham adalah pakta yang disepakati pada 2020 dan 2021. Isi Perjanjian Abraham tentang kesepakatan bagi UEA, Bahrain, Maroko, dan Sudan untuk mengakui Israel.
“Posisi presiden tidak berubah bahwa perjanjian itu hanya akan terwujud jika Arab Saudi bergabung dengan Perjanjian Abraham,” kata sumber anonim Reuters itu.
Upaya untuk menormalisasi hubungan diplomatik antara Saudi dan Israel sebelumnya telah diusahakan oleh AS dalam beberapa tahun terakhir. Upaya itu disebut hampir tercapai hingga genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza dilakukan oleh Israel sejak 2023.
Setelah itu, AS belakangan kembali mengupayakan normalisasi hubungan Saudi-Israel. Hal ini terjadi seiring kedekatan Trump dan Pangeran Saudi Mohammed bin Salman belakangan ini.
Hingga akhirnya, AS mencapai kesepakatan untuk membantu Saudi mengembangkan energi nuklir sipil pada Juli lalu. Seturut Times of Israel, perjanjian itu sempat memicu kekhawatiran pihak Israel.
Meskipun Trump menyebut pengakuan Israel sebagai syarat perjanjian dengan Saudi, namun teks perjanjian yang ditandatangani pada Juli lalu disebut tidak memuat klausul tersebut. Hal ini kemudian memicu kekhawatiran dan kini Washington tampak menekankan adanya klausul tersebut, meski tidak secara resmi.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































