Menuju konten utama

Arcandra Tahar Soal Israel-Iran: Migas Jadi Taruhan Geopolitik

Arcandra menggarisbawahi fluktuasi harga tak selalu dipicu oleh perubahan langsung pasokan atau permintaan, melainkan juga oleh persepsi pasar.

Arcandra Tahar Soal Israel-Iran: Migas Jadi Taruhan Geopolitik
Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar (kanan) bersama Dirjen Migas Djoko Siswanto (kiri) menyampaikan pemaparan tentang Lelang WK Migas Tahap I Tahun 2019, di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (7/5/2019). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/aww.

tirto.id -

Konflik antara Israel dan Iran meningkatkan ketegangan di kawasan Timur Tengah dan memicu gejolak harga minyak mentah dunia. Serangan Israel ke Iran pada 13 Juni 2025 membuat harga minyak mentah Brent melonjak dari 65 dolar AS per barel di awal Juni menjadi 73 dolar AS per barel di pertengahan bulan.

“Sekali lagi kita diingatkan akan volatilitas harga minyak mentah dunia. Satu peristiwa bisa mengubah harga minyak mentah dalam sekejap,” tulis Mantan Menteri ESDM, Arcandra Tahar di akun Instagram-nya, Senin (23/6/2025).

Arcandra menggarisbawahi bahwa fluktuasi harga tidak selalu dipicu oleh perubahan langsung dalam pasokan atau permintaan (supply and demand), melainkan juga oleh persepsi pasar.

Hal ini terlihat saat Presiden Donald Trump mengumumkan kenaikan tarif impor pada 9 April 2025. Meski kondisi suplai minyak mentah saat itu sedikit di atas permintaan, harga Brent justru turun dari 76 dolar AS menjadi 65 dolar AS per barel dalam dua bulan.

“Yang berubah adalah persepsi para trader bahwa ke depan pertumbuhan ekonomi akan melambat yang mengakibatkan berkurangnya demand,” tulis Arcandra.

Hal serupa terjadi dalam konflik Iran-Israel. Meskipun permintaan riil minyak pada bulan Juni tetap meningkat, pasar merespons negatif karena kekhawatiran akan gangguan pasokan di masa mendatang.

Di luar pasar, konflik ini juga menyimpan risiko besar terhadap ketahanan energi global. Iran diketahui memiliki cadangan minyak terbesar ke-8 dan cadangan gas terbesar ke-4 di dunia.

Menurut Arcandra, jika fasilitas produksi dan pengolahan migas terganggu, maka sekitar 3,3 juta barel minyak per hari serta 2 juta barel ekspor minyak Iran bisa terhenti. Ini berarti sekitar 3 persen dari pasokan minyak global akan terganggu.

“Kalau ini terjadi, maka akan ada sekitar 3,3 juta bopd produksi minyak mentah dan sekitar 2 juta bopd ekspor dari Iran yang terhenti,” jelasnya.

Lebih lanjut, sekitar 20persen ekspor minyak dan LNG dunia melewati Selat Hormuz yang berada di bawah pengaruh Iran. Jika jalur ini ditutup, menurutnya harga minyak bisa menembus angka 90 dolar AS per barel.

“Naiknya harga minyak dan LNG bukan lagi masalah ketiadaan produksi tapi sudah menyentuh masalah keamanan rantai pasok,” tegas Arcandra.

Untuk itu, ia menekankan pentingnya kehadiran negara dalam menjamin energy security, bukan hanya mencari sumber energi, tetapi juga menjaga kelangsungan distribusi.

Di sisi lain, konflik ini juga menunjukkan bahwa Israel bukan negara tanpa produksi energi. Israel memiliki lapangan gas besar seperti Leviathan, Tamar, dan Karish yang tidak hanya memenuhi kebutuhan domestik, tetapi juga diekspor ke Yordania dan Mesir. Bahkan, Mesir mendapatkan sekitar seperenam kebutuhan gasnya dari Israel.

Namun, karena kondisi keamanan, Israel telah menghentikan operasi di ladang-ladang gas tersebut. Ini membuat negara-negara mitra seperti Mesir dan Yordania harus mencari alternatif pasokan dalam situasi pasar yang penuh ketidakpastian.

"Bagi negara-negara pengimpor minyak mentah dan LNG harus mulai memitigasi resiko terburuk yang mungkin terjadi. Naiknya harga minyak dan LNG bukan lagi masalah ketiadaan produksi tapi sudah menyentuh masalah keamanan rantai pasok," tulisnya.

Baca juga artikel terkait TELUK HORMUZ atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana