tirto.id - Stevia termasuk produk yang populer sebagai pemanis alami pengganti gula. Stevia diekstrak dari tanaman dan bukan dibuat di laboratorium. Daun tanaman Stevia Rebaudiana mengandung lebih dari 30 jenis glikosida steviol berbeda.
Stevia menjadi produk yang populer sebagai pemanis alami pengganti gula bebas kalori. Beberapa produk stevia ditambahkan dengan gula alkohol, termasuk xylitol dan eritritol. Kendati begitu, kedua zat tersebut tetap aman digunakan pada kadar tentu, termasuk untuk penderita diabetes.
Cara paling mudah untuk mengetahui stevia murni dan stevia campuran adalah memerhatikan komposisi di label produk. Selain itu, pastikan produk stevia campuran telah lolos uji oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
Bahan Campuran Produk Stevia & Pengaruhnya
Berbagai produk stevia telah beredar luas di pasaran. Alternatif pengganti gula alami ini terbuat dari daun tanaman Stevia Rebaudiana yang mengandung lebih dari 30 jenis glikosida steviol berbeda.
Adapun tingkat kemanisan stevia murni diperkirakan 250–300 kali lipat dibandingkan sukrosa. Sebab itu, masyarakat biasanya menggunakan stevia dengan jumlah yang sangat sedikit namun tetap terasa manis.
Stevia menjadi produk yang populer sebagai pemanis alami pengganti gula yang bebas kalori. Banyak orang lebih memilih stevia dibandingkan pemanis buatan seperti sukralosa dan aspartam. Alasannya karena stevia diekstrak dari tanaman, bukan dibuat di laboratorium.

Laporan Healthline menyebut, stevia tidak mengandung karbohidrat dan tidak menyebabkan lonjakan gula darah secara drastis. Karena tingkat kemanisan jauh lebih tinggi daripada gula, jumlah kecil yang digunakan tidak akan menambah asupan kalori atau karbohidrat secara berarti ke dalam pola makan.
Dengan demikian, pemanis alami ini bisa dikatakan aman dikonsumsi penderita diabetes atau mereka yang memiliki masalah mengendalikan kadar gula darah.
Dalam produk akhir, stevia cenderung memberikan rasa manis yang intens dengan sensasi rasa tertinggal cukup terasa, terutama pada konsentrasi tinggi. Jika digunakan dalam jumlah moderat, rasanya mungkin lebih bersih. Namun dapat menimbulkan rasa pahit apabila jumlah yang lebih besar.
Kadar ini memberikan fleksibilitas lebih bagi formulator dalam menciptakan produk dengan rasa bersih dan tingkat kepahitan yang minimal. Akan tetapi, tetap saja mempertahankan tingkat kemanisan 225–250 kali lipat dibandingkan sukrosa.
Studi berjudul "Metabolic Effects of The Natural Sweeteners Xylitol and Erythritol: A Comprehensive Review" (2019) karya Bettina K Wolnerhanssen menjelaskan, terdapat beberapa bahan campuran yang aman digunakan sebagai bahan pengisi (bulking agent) untuk produk stevia.
Bahan tersebut berupa xylitol dan eritritol. Fungsinya agar volume dan tekstur stevia menyerupai gula biasa. Eritritol merupakan gula alkohol yang mengandung 0-0,2 kalori, serta 1-4 gram karbohidrat.

Hasil penelitian yang sama menemukan eritritol dapat diserap hingga 90 persen di usus halus. Kandungan tidak dimetabolisme oleh tubuh dan dikeluarkan melalui urin dalam bentuk utuh tanpa mengalami perubahan metabolik.
Karena sebagian besar diserap sebelum mencapai usus besar, eritritol sangat jarang memicu gangguan pencernaan dibanding gula alkohol lainnya.
Dibanding eritritol, penyerapan xylitol cenderung lebih lambat dan tidak sempurna, hanya sekitar 50 persen. Kendati begitu, xylitol yang tersisa masuk ke usus besar dan difermentasi mikroflora usus.
Zat ini juga dapat membantu memperlambat pengosongan lambung dan meningkatkan sensasi kenyang. Saat dicerna dalam tubuh, eritritol bisa menangkap radikal bebas yang membantu melindungi sel vaskular dari kerusakan akibat gula darah tinggi. Tak hanya itu, eritritol dan xylitol juga dapat menghambat enzim pencerna karbohidrat yang membantu menekan penyerapan glukosa bertahap.
Xylitol dan eritritol tidak hanya membantu mengurangi glukosa darah, tetapi juga mengurangi lemak yang tersimpan di jaringan adiposa sebagai akibat pengurangan ketidakseimbangan energi, melindungi sel dan organ dari kerusakan stres endotel dan meningkatkan sensitivitas insulin dalam sel.
Penjelasan ini seperti disampaikan dalam penelitian "Comparative Effects of Xylitol and Erythritol on Inhibition of Key Digestive Enzymes and Modulating Dysfunctional Enzyme Activities in Oxidative Hepatic Injury" (2025) karya Nothando P. Hlongwane dan tim yang dimuat di Scientific African.
Xylitol dan eritritol, sebagai alkohol gula, memiliki gugus hidroksil dalam struktur. Keduanya berkontribusi pada aktivitas antioksidan, karena berinteraksi dengan radikal bebas yang dihasilkan selama stres oksidatif. Namun, xylitol cenderung memiliki potensi antioksidan yang lebih baik daripada eritritol.

Apakah Aman untuk Penderita Diabetes?
Studi Bettina K Wolnerhanssen di atas menemukan bahwa eritritol dan xylitol yang terkandung dalam stevia campuran tidak berpengaruh terhadap peningkatan glukosa darah dan insulin dibanding sukrosa. Dengan demikian, keduanya potensial sebagai pengganti gula yang aman bagi penderita diabetes tipe 1 dan tipe 2.
Kendati begitu, usus memiliki batas toleransi terhadap eritritol, yakni 0,66 g/kg berat badan, kadar yang jauh lebih tinggi dibandingkan xylitol. Karena absorpsi yang rendah di usus halus, konsumsi xylitol dalam dosis sedang hingga tinggi di atas 30–50 gram, sekaligus dapat menarik air ke dalam usus dan memicu efek laksatif, seperti perut kembung, diare, dan kram.
Penggunaan eritritol dan xylitol sudah melewati uji klinis oleh WHO, sehingga penggunaan sebagai campuran stevia diperbolehkan. Melansir laman WHO, seseorang dianjurkan mengonsumsi gula dengan kadar kurang dari 10% dari total asupan energi harian.
Orang sehat yang mengonsumsi sekitar 2000 kalori per hari, maka asupan kadar gula yang masuk ke tubuh setara dengan 50 gram atau sekitar 12 sendok teh.

Meski batasan umum kadar gula 10 persen dari total asupan energi, seseorang yang membatasi asupan gula hingga 5% atau kurang dari total energi harian dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.
Selain itu, seseorang juga harus membatasi konsumsi gula bebas sepanjang hayat. Gula bebas yang dimaksud mencakup monosakarida dan disakarida, seperti sukrosa, fruktosa, dan glukosa yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman oleh produsen.
Pengurangan konsumsi gula bebas sebaiknya dilakukan tanpa menggunakan pemanis non-gula. Contoh pemanis non-gula yang umum meliputi asesulfam K, aspartam, advantam, siklamat, neotam, sakarin, sukralosa, stevia, dan turunan stevia.

Penelitian berjudul "Apparent Lack of Pharmacological Effect of Steviol Glycosides Used as Sweeteners in Humans. APilot Study of Repeated Exposures in Some Normotensive and Hypotensive Individuals and in Type 1 and Type 2 Diabetics" karya Luis A Barriocanal dan tim yang dimuat di laman National Library of Medicine meneliti efek steviol glikosida terhadap kadar glukosa darah dan tekanan darah (TD) pada tiga kelompok individu.
Kelompok tersebut mencakup subjek dengan diabetes tipe 1, subjek dengan diabetes tipe 2, dan subjek tanpa diabetes dengan tingkat tekanan darah normal atau cenderung rendah.
Hasil studi menemukan bahwa steviol glikosida yang dikonsumsi secara oral sebagai pemanis dapat ditoleransi dengan baik dan tidak memberikan efek farmakologis apa pun.
Dengan demikian, stevia tidak murni atau stevia campuran tidak selalu berbahaya bagi penderita diabetes. Namun, tetap harus memerhatikan kandungan dan kadar campuran di dalamnya.
Cara Membedakan Stevia Murni & Campuran
Pada tahun 2008, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (The Food and Drug Administration/FDA) menyetujui stevia sebagai bahan tambahan pangan yang aman dalam bentuk ekstrak dengan tingkat kemurnian 95%.
European Food Safety Authority (EFSA) dan Joint FAO/WHO Expert Committee on Food Additives (JECFA) telah menetapkan nilai Acceptable Daily Intake (ADI) atau Asupan Harian yang Dapat Diterima untuk pemanis stevia sebesar empat miligram (mg) per kilogram (kg) berat badan per hari dalam bentuk ekuivalen steviol.
Jumlah ini setara dengan 12 mg/kg berat badan per hari untuk rebaudiosida A dan 10 mg/kg berat badan per hari untuk steviosida. Penggunaan daun stevia maupun ekstrak stevia kasar tidak dikategorikan sebagai Generally Recognized As Safe (GRAS), predikat aman yang ditetapkan FDA.

Sebagai pemanis alami yang cenderung lebih aman daripada sukrosa, berbagai produk stevia telah beredar luas. Cara paling sederhana untuk membedakan stevia murni dan stevia campuran adalah mencermati kandungan komposisi.
Di Indonesia, pemerintah telah memiliki Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2012 tentang Pangan. Produsen wajib mencantumkan label beserta kriteria informasi.
"Setiap Orang yang memproduksi Pangan di dalam negeri untuk diperdagangkan wajib mencantumkan Label pada, di dalam, dan/atau di Kemasan Pangan," bunyi Pasal 96 Ayat (1).
Adapun label kemasan pangan sekurang-kurangnya wajib memuat keterangan tentang nama produk, daftar bahan yang digunakan, berat bersih, nama dan alamat produsen, dan sertifikasi halal bagi yang dipersyaratkan.
Tabel juga wajib mencantumkan tanggal dan kode produksi, tanggal, bulan, dan tahun kadaluarsa, nomor izin edar, hingga asal usul bahan tertentu.
Selain itu, masyarakat juga dapat mengecek daftar produk stevia yang telah diverifikasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di sini. Otoritas ini memiliki wewenang untuk menguji kandungan yang ada dalam produk sehingga aman untuk dikonsumsi masyarakat.

Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id































