Menuju konten utama

Sempat Besar kala Pandemi, Gowes Lesu Diterpa Tren Olahraga Lain

Lesunya peminat sepeda akhirnya berdampak pula terhadap bisnis sepeda, aksesoris, dan perlengkapannya.

Sempat Besar kala Pandemi, Gowes Lesu Diterpa Tren Olahraga Lain
Sejumlah peserta Jakarta Borders Ride 2021 mengayuh sepedanya saat melintas di piggiran wilayah Jakarta Utara, Sabtu (30/10/2021). ANTARA FOTO/Hermanus Prihatna/aww.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Gigih (34) hampir tiga kali seminggu bersepeda. Namun, itu dulu. Kini, dia membiarkan sepedanya jadi pajangan lantaran kesibukan kerja yang makin bertambah. Dia pun lebih memilih olahraga tenis dan lari yang tak terlalu makan waktu persiapan lama.

Gigih ingat dirinya dulu merogoh kocek hingga hampir Rp20 juta untuk modal bersepeda. Selain sepeda, dia membeli serbaneka aksesoris dan perlengkapan keamanan bersepeda.

“Dimulai dari city bike, lalu beli gravel bike. [Beli juga] ⁠groupset, crankset, wheelset, seat post, saddle, stem, grip, tire, tools, bottom bracket, tool bag, dan cyclocomp [komputer mini],” kisahnya kepada jurnalis Tirto, Sabtu (16/8/2025).

Pascapandemi COVID-19, tren bersepeda memang tampaknya semakin melorot. Mona pun bilang kini dirinya kerap melakukan olahraga lain ketimbang bersepeda. Perempuan berusia 32 tahun tersebut saat ini lebih memilih gym dan pound fit yang diiringi musik beat.

Meski ada alasan kesehatan, Mona menyampaikan bahwa faktornya juga dipicu oleh kepindahannya dari Jakarta ke Palembang, Sumatera Selatan. Menurutnya, Palembang lebih tak ramah terhadap pesepeda, alias nihil jalur khusus sepeda.

Newsplus Meredupnya Aktivitas Bersepeda

Pengalaman Mona bersepeda menyusuri kota. (FOTO/dokumentasi Mona)

“Aku sekarang mulai nge-gym, terus pernah mencoba personal training karena lagi gratisan gitu ya. Dia [personal training] nanya apakah sebelumnya olahraga, aku jawab sepedaan. Terus, dia bilang kalau sepedaan itu enggak bagus buat tubuh gemuk kayak kamu. Karena apa gitu ya, saya lupa, pokoknya postur tubuhnya itu jadi jelek gitu loh, apalagi model sepedaku itu bukan sepeda balap,” tutur Mona ketika dihubungi Tirto, Sabtu (16/8/2025).

Padahal, awal mula Mona sangat menikmati bersepeda saat Pandemi COVID-19 lantaran banyak teman kantornya yang bersepeda. Dia bahkan sempat diberi sepeda bekas oleh seorang teman, lalu membeli sepeda bekas sendiri dengan kisaran harga Rp2 juta. Namun, sepeda itu sekarang nganggur.

“Sebenarnya suka sepedaan itu pas zaman kecil ya, tapi pada saat pandemi itu karena teman-teman kantorku dulu punya klub sepeda dan banyak sepeda di kantor, jadi aku pinjam,” kata Mona.

Tak cuma Gigih dan Mona, beralihnya kebiasaan bersepeda juga turut dilakukan Ayas (27). Meski bersepeda untuk mencari alternatif transportasi, alih-alih sebagai sarana olahraga, saat ini Ayas merasa butuh gerak cepat. Karena itulah, bersepeda jadi tak memadai.

“Tapi, ya berhenti pandemi dan lain sebagainya. 2024 ternyata buat mulai lagi menjadikan [sepeda] sarana transportasi itu sangat sulit. Jadi, ya mungkin hanya pergi jarak dekat banget. Enggak berkala, misalnya, hari Minggu olahraga dengan sepedaan, enggak gitu-gitu. Olahraga yang dilakukan sekarang yoga,” tutur Ayas.

Bergesernya tren bersepeda tak cuma tergambar dari para pesepeda yang kian jarang melakukan aktivitas tersebut. Di sisi cuan, bisnis sepeda dan perlengkapannya kini memang juga meredup. Di STC Senayan, misalnya, dari semula ada 5 toko sepeda, kini tersisa hanya 1 toko.

Newsplus Meredupnya Aktivitas Bersepeda

Penampakan One Bike Shop sebagai satu-satunya toko sepeda yang tersisa di STC Senayan, saat dikunjungi Minggu (17/8/2025). Tirto.id/Fina Nailur Rohmah

Menurut informasi dari satpam mal, toko-toko itu berpindah ke tempat lain dalam setahun belakangan ini. Sementara itu, dari pantauan di lapangan, Tirto menemukan toko yang tersisa turut menjual raket padel dan kursi kantor.

“Padahal, STC Senayan kan terkenal sama [toko] sepeda, tapi yang bertahan tinggal satu. Meski yang satu itu masih ramai sih, ada yang servis, ada yang apa,” kata Komandan Regu Satpam, Jemmy Iriansyah, saat berbincang dengan jurnalis Tirto, Minggu (17/8/2025).

Lindap Didesak Tren Olahraga Baru

Pengamat olahraga, Djoko Pekik Irianto, mengungkapkan bahwa menurunnya tren bersepeda kemungkinan terjadi karena orang mulai jenuh dengan olahraga tersebut. Apalagi, banyak bermunculan olahraga yang menjadi tren baru, salah satunya padel.

Padel sendiri merupakan olahraga yang menggunakan raket dan memadukan unsur tenis serta skuas. Olahraga itu pun tak hanya populer di Tanah Air, melainkan secara global. Global Padel Report 2024 yang dirilis oleh Playtomic (aplikasi yang menghubungkan komunitas olahraga) menyingkap bahwa rerata 111 lapangan padel dibangun setiap minggu selama 2023.

Jumlah total lapangan padel di seluruh dunia disebut tumbuh sebesar 16 persen pada 2023. Pertumbuhannya pada 2024 pun ditaksir bakal lebih besar. Ada sejumlah faktor yang mendorong ekspansi padel, di antaranya aksesibilitas, komponen sosial, teknologi, dan profesionalisasi.

“Memang dulu trennya sepeda itu memang diawali dengan masa pandemi itu ya. Orang kan cari olahraga yang aman, bisa di outdoor gitu. Nah, kemudian dalam perkembangan sekarang itu masyarakat pengen punya satu bentuk olahraga yang lain gitu ya,” kata Djoko kepada Tirto, Sabtu (16/8/2025).

Menurut Djoko, lesunya peminat sepeda akhirnya berdampak terhadap bisnis sepeda. Penurunan penjualan sepeda disebut tidak hanya pada sepeda-sepeda yang bagus dan mahal, melainkan juga pada semua jenis sepeda.

“Memang pengguna sepeda untuk olahraga itu mengalami penurunan. Di antaranya adalah mereka banyak beralih ke cabang-cabang olahraga lain yang dirasa lebih gampang dan sebagainya gitu ya. Kalau sepeda kan memang masih butuh perlengkapan, butuh biaya untuk beli sepeda,” lanjut Djoko.

Dia bilang, padel digandrungi lantaran menjadi kombinasi dari olahraga yang ke bawah dan olahraga menengah ke atas. Meski aktivitas bersepeda surut, Djoko berpendapat, gowes memungkinkan untuk kembali menjadi tren di masa mendatang.

Menurutnya, olahraga bersepeda akan kembali naik daun jika ditopang oleh acara atau program dari pemerintah. Yang terpenting, pemerintah bisa mengemas acaranya secara menarik agar para pesepeda terpanggil untuk turun ke jalan lagi.

“Saya kira sangat memungkinkan bahwa apalagi kalau dibuat sebuah program-lah. Dari berbagai lembaga, kemudian mengadakan semacam lomba atau komunitas-komunitas tertentu digerakkan lagi. Itu saya kira akan kembali. Karena, pada dasarnya, masyarakat itu sudah mulai sadar berolahraga, apa pun olahraganya,” tutur Djoko.

Baca juga artikel terkait BERSEPEDA atau tulisan lainnya dari Fina Nailur Rohmah

tirto.id - News Plus
Reporter: Fina Nailur Rohmah
Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Fadrik Aziz Firdausi