'Love Jihad': Modal Hindu Fanatik untuk Mempersekusi Muslim India

Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 4 Januari 2018
Dibaca Normal 5 menit
Tuduhan-tanpa-bukti dengan sentimen agama di India: orang Muslim dituduh punya program me-mualaf-kan dengan cara menikahi gadis Hindu.
tirto.id - Dalam sebuah video yang beredar di media sosial awal Desember 2017, seorang laki-laki Hindu berpakaian merah mendatangi Mohammad Afrazul, laki-laki muslim yang diketahui sebagai pendatang di negara bagian Uttar Pradesh. Afrazul dipukul punggungnya dengan kapak hingga jatuh ke tanah. Ia berulang kali meminta ampun sembari bertanya apa kesalahannya, tapi pelaku, Shambhulal Regar makin beringas. Afrazul disiram minyak tanah lalu dibakar sampai meninggal.

Pelaku kemudian berpaling ke arah kamera dan mengumumkan akan terus melindungi “saudari-saudari Hindu”nya. Ia memberi peringatan pada warga muslim lain, jika tidak ingin bernasib sama dengan pendatang, jangan sekali-kali merayu gadis-gadis Hindu.

“Jika Anda menyebarkan jihad cinta (love jihad) di negara ini, ini (kasus yang menimpa pendatang muslim dari Bengal Barat) akan menjadi takdir Anda. Hentikan jihad cinta. Jihadis, keluar kau dari negara ini,” ungkapnya sebagaimana dikutip Financial Times, Kamis (7/12/2017).

Baca juga: Minoritas Muslim dan Kristen Korban Hindu Nasionalis di India

'Love jihad' atau kadang disebut 'Romeo jihad' merujuk pada aktivitas di mana lelaki muslim menargetkan perempuan non-muslim untuk dinikahi, dengan demikian si perempuan otomatis berganti keyakinan ke Islam. Organisasi dan warga penganut Hindu fanatik—para akademisi melabeli mereka sebagai kelompok sayap kanan di India—misalnya, selalu menggembar-gemborkan bahaya jihad cinta.

Persoalannya, kekhawatiran tersebut kerap disajikan tanpa disertai bukti yang kuat. Sejak 2009, ada beberapa kasus yang menarik perhatian publik karena diliput media-media ternama. Ujung-ujungnya, setelah diusut oleh media independen seperti The Wire, kasus tersebut lebih didasari ada sentimen agama ketimbang berbasis fakta obyektif.

Narasinya khas: seorang perempuan Hindu berpindah keyakinan agar bisa menikahi pasangan pria muslimnya. Saat keluarga yang tak merestui membawa kasus ini ke pengadilan, diiringi demonstrasi warga Hindu fanatik, hasilnya rata-rata mentah karena tak bisa membuktikan bahwa ada unsur paksaan agar si perempuan berpindah keyakinan.

Baca juga: Populisme ala Perdana Menteri Narendra Modi

Kelompok Hindu fanatik selalu menuduh ada pihak-pihak yang secara sistematis menggerakkan jihad cinta. Mereka ketakutan umat Hindu sebagai mayoritas di India akan digantikan umat Islam di masa depan akibat program tersebut. Ketakutan ini hingga mendorong lahirnya kasus-kasus persekusi terhadap umat muslim India. Padahal, organisasi-organisasi muslim di negara tersebut menyatakan bukan penggerak jihad cinta.

Di India, kasus jihad cinta diklaim merebak di negara bagian Kerala, Uttar Pradesh, dan Bihar, serta kota-kota seperti Mangalore, Gwalior, dan Kanpur. Para penentangnya tak hanya datang dari pemuka agama Hindu, namun juga Sikh dan Kristen. Dalam catatan sejumlah media, kasusnya juga tak hanya terjadi di India, tapi juga di Pakistan dan Inggris.

Contoh klaim tanpa bukti kuat atau tindak lanjut di India antara lain: (1) Dewan Uskup Katolik Kerala menyatakan sepanjang Oktober 2009 ada 4.500 anak perempuan di Kerala yang jadi korban 'jihad cinta', (2) Hindu Janajagruti Samiti mengklaim ada 30.000 gadis Hindu yang jadi korban 'jihad cinta' di negara bagian Karnataka, dan (3) Kepala Menteri Kerala Oommen Chandy menyatakan ada 2667 perempuan muda korban 'jihad cinta' di Kerala sepanjang 2006-2014.


Warisan Sejarah Berdarah India-Pakistan

“Tidak ada bukti bahwa 'jihad cinta' itu ada. Konsep itu hanyalah alat untuk mengontrol perempuan dan untuk membangun momok bahwa muslim itu jahat,” kata Charu Grupta, profesor sejarah di Universitas New Delhi, dalam wawancara bersama Al Jazeera pada bulan Agustus 2017.

Dalam analisis bertajuk “Allegories of ‘Love Jihad’ and Ghar Vapasi: Interlocking the Socio-Religious with the Political” yang diterbitkan Jurnal Archiv Orientalni (2016), Gupta menjelaskan bahwa 'jihad cinta' dan isu-isu yang berkelindan di sekitarnya "memiliki kemiripan dengan penculikan dan tekanan pindah agama yang diluncurkan Arya Samaj dan kelompok revivalis Hindu lainnya di Uttar Pradesh pada tahun 1920-an."

Waktu itu, tulis Gupta, terjadi serangkaian kerusuhan Hindu-Muslim di wilayah tersebut. Masih dalam analisis yang sama, Gupta menyebutkan rumor 'jihad cinta' juga pernah merebak pada 2009 dan 2014, masing-masing adalah tahun pemilu. Elit-elit daerah partai yang berkuasa, BJP, ditengarai terlibat dalam penyebaran kebencian ini.

Baca juga: Tak Ada yang Terhormat dalam Praktik Membunuh Atas Nama Kehormatan

Koresponden Foreign Policy Siddharta Mahanta, pernah melaporkan bahwa konsep jihad cinta adalah teori konspirasi yang melanggengkan perseteruan antara kelompok Hindu dan Islam sejak berdirinya India dan Pakistan pada pertengahan 1940-an.

Berdirinya kedua negara melahirkan gelombang migrasi besar yang dijajaki oleh jutaan orang. Orang-orang muslim di India hijrah ke Pakistan, warga Hindu di Pakistan pergi ke India. Migrasi ini turut disertai kasus-kasus pelecehan seksual dan pemaksaan pindah keyakinan dengan korban dan pelaku dari kedua belah pihak. Perempuan dan anak-anak adalah korban yang paling rentan dalam kejadian ini.

Perseteruan abadi pun lahir. Korban yang berjatuhan hingga awal tahun 2018 ini terus bertambah dan teori konspirasi jihad cinta makin memanaskan tensi.

Dunia bergerak semakin modern. Masyarakat India lebih terbuka dengan pernikahan lintas agama, demikian menurut laporan Dawn. Namun, kelompok Hindu fanatik tetap menganggap praktiknya haram untuk ditolerir. Jika mampu, harus dicegah atau ditanggulangi, meski harus menghilangkan nyawa orang tak bersalah.

Baca juga: Kemiskinan dan Hukum yang Ngawur Dorong Perbudakan Anak di India

Pelaku pembunuhan pendatang muslim di Uttar Pradesh, Shambhulal Regar, dan perekam video yang diketahui masih ada hubungan kerabat dengan si pelaku, ditangkap oleh kepolisian Delwara tak lama usai video brutal menyebar di internet. Dalam keterangan yang diperoleh India Today, perekam mengaku tak merasa bersalah. Demikian juga Regar.

Orang-orang pendukung tindakan pelaku ramai berpendapat di kolom komentar video, termasuk ajakan untuk membunuh. Lusinan lainnya menyatakan dukungan serupa meski kadar ekstremnya berbeda-beda. Uang untuk membebaskan pelaku bahkan terkumpul hingga $5.000.

Menurut laporan The Wire, tak ada perselisihan antara pelaku dan korban. Regar tak pernah menghubungi korban. Ia bahkan mungkin tak mengetahui nama dari orang yang ia bakar hidup-hidup tersebut. Namun, Regar tahu pasti bahwa pria yang ia targetkan adalah seorang muslim.

Baca juga: Yang Sudah Dilakukan India Supaya Jadi Kekuatan Global

Orang-orang yang dekat dengan Regar mengenalnya sebagai seorang pecandu narkoba. Ia kerap menonton video yang memuat konten-konten berbau Hindutva—ideologi sektarian di India yang ingin mendirikan negara Hindu. Di media sosial seperti Facebook, Regar kerap membaca dan memberi like pada tautan yang berisi pesan-pesan Hindutva.

Hindutva adalah istilah yang dicetuskan pada 1923 oleh penulis, penyair, dan politikus Vinayak Damodar Savarkar. Ideologi ini menyerukan menciptakan tanah air Hindu yang bebas dari pemeluk agama lain. Meski secara resmi ditolak oleh pemerintah nasional, ideologi Hindutva tetap memengaruhi beberapa kebijakan pemerintah di tingkat negara bagian.

Lahirnya gerakan ini tak lepas dari narasi masuknya Islam ke India. Pada tahun 1000-an, gelombang pertama invasi muslim menyapu Afganistan, dataran Indus hingga India. Kuil-kuil umat Hindu dihancurkan termasuk Somnath yang menjadi salah satu kuil terbesar untuk Dewa Siwa yang terletak di Gujarat. Sekitar 50.000 orang Hindu dibunuh.

Kolonisasi Inggris pada abad ke-18 menyisakan sejumlah umat Islam di India dan menuai perlawanan umat Hindu pada awal 1900-an. Pamflet bertajuk 'Hindu: A Dying Race' pun tersebar. Isinya: pesan-pesan ketakutan bahwa Hindu akan segera menjadi minoritas dan Muslim jadi mayoritas di India.

Alat Kontrol Perempuan India

Contoh kasus jihad cinta yang menyedot perhatian publik India terjadi pada Akhila Ashokan. Pada 2011, Akhila pergi ke T.V. Puram, sebuah desa di Kerala, untuk berkuliah di Kota Salem. Akhila saat itu berusia 18 tahun. Dalam laporan Rahul Bhatia untuk New Yorker, ayahnya adalah bekas tentara India dan ibunya adalah penganut Hindu yang taat.

Selama belajar homeopati, Akhila tinggal di asrama bersama lima teman perempuannya dan dua di antaranya kebetulan beragama Islam. Akhila menyaksikan tata ibadah teman muslimnya di sela-sela belajar, memasak, dan aktivitas lain. Ia juga menjalin obrolan yang serius perihal agama Islam. Jika ada penjelasan yang belum memuaskan, Akhila membaca buku atau menonton video tentang Islam. Pada suatu hari, ia memutuskan untuk masuk Islam dan sejak 2015 mengganti nama menjadi Aaisya.

Kepulangannya pada bulan November di tahun yang sama menjadi bibit konflik karena ayah Aaisya melihat perbedaan yang jelas dalam diri anak perempuannya. Usai menghadiri sebuah acara pemakaman, Aaisya mengajak duduk kedua orang tuanya untuk mengaku bahwa dirinya sudah berpindah keyakinan.

Sang ayah tak bisa menerima fakta bahwa keputusan Aaisya tercipta tanpa ada unsur paksaan. Aaisya kembali ke kampus dengan kondisi sudah berkerudung. Namanya berganti menjadi Hadiya saat menghadiri program bagi mualaf di Sathya Sarani, Kerala. Hadiya tak mau pulang meski sang ayah dikabarkan mematahkan kakinya sendiri. Ia tahu keputusannya akan berbuah kontroversi dan orang tuanya akan berusaha untuk mengembalikannya ke keyakinan lama.

Baca juga: "Komunisme Gaya Baru" ala Kerala

Ada sebuah kanal biro jodoh bernama waytonikah.com yang dikunjungi Hadiya untuk mencari calon suami. Ia terpaku pada profil Shafin Jahan, laki-laki berjenggot yang bekerja di sebuah toko farmasi di Muscat, Oman, dan punya hobi menjadi penjaga gawang untuk sebuah klub sepakbola Kerala. Setelah perkenalan singkat, Hadiya segera diperkenalkan dengan keluarga Jahan, dan bulan Desember 2015 keduanya menikah.

Ayah Hadiya, yang masih bersedih dengan “pembangkangan” anaknya, akhirnya termakan konspirasi jihad cinta. Akibat dikompor-kompori warga Hindu fanatik lain, ia pun percaya bahwa Jahan adalah anggota sebuah organisasi penggerak jihad cinta dengan “sumber pendanaan tak terbatas”. Hadiya diklaim belum mampu membuat keputusan sendiri di usianya ketika pindah agama. Ia khawatir betul sebab yakin Jahan punya kaitan dengan ISIS. Seluruh tuduhan, yang bagi Jahan, adalah hoax belaka.

Kasus ini dibawa ke Pengadilan Tinggi Kerala yang cenderung berpihak pada ayah Hadiya dengan alasan jalan hidup yang ditempuh Hadiya dinilai “tak normal”. Hadiya dicurigai sebagai korban cuci otak karena meninggalkan studinya demi keyakinan dan pasangan baru. Meski Hadiya sudah menjelaskan keputusannya sebagai buah dari kesadaran diri sendiri, hakim tak percaya jika ia adalah sosok “perempuan dengan kapasitas intelektual menengah”.

infografik love jihad


Hakim justru memandang Hadiya selayaknya perempuan rata-rata India lain: “mudah tertipu”. Kemampuan bahasa Arab Hadiya yang memang digunakan untuk melaksanakan ibadah harian pun tak mampu meluluhkan penilaian hakim. Akhirnya, pernikahan Hadiya dan Jahan dibatalkan oleh pengadilan. Hadiya diboyong lagi ke rumah. Lebih tepatnya: dipenjara sembari dipengaruhi untuk kembali menganut ajaran Hindu.

Baca juga: Puma Dituding Merusak Bangunan Tua India demi Iklan Sepatu Terbaru

Dalam sekejap Hadiya jadi pusat perhatian nasional. Awak media kesusahan untuk sekedar mengambil gambarnya dari luar rumah—apalagi untuk wawancara. Berita yang diturunkan cenderung bombastis dan makin mengkriminalisasi Hadiya dan Jahan. Contohnya yakni mengaitkan Jahan dengan ISIS meski tuduhan tersebut tak benar. Pendapat publik kian terpolarisasi, antara yang mendukung dan mencemooh Hadiya. Saat harus ke luar rumah, Hadiya sampai perlu di dikawal oleh otoritas setempat.

Dalam sidang untuk kesekian kalinya, publik terkejut dengan betapa tenangnya Hadiya saat menjelaskan dirinya membutuhkan kebebasan untuk bertemu dengan orang yang ia cintai. Ia menuntut hak asasinya. Ia berbicara bagaimana orang tuanya berupaya menjadikan ia orang Hindu lagi. Padahal, ia hanya ingin melanjutkan pendidikannya dan segera meninggalkan seluruh permasalahan yang ia hadapi saat itu.

Hakim sepakat dengan pengacara Jahan bahwa Hadiya tak terdengar seperti korban cuci otaknya. Hadiya akhirnya diperbolehkan untuk melanjutkan sekolah dan bisa mewujudkan apa yang sudah menjadi keputusannya. Hadiya sukses menjemput kebahagiaan. Tapi, di luar gedung pengadilan, warga yang percaya bahwa Hadiya adalah korban jihad cinta masih membludak. Kebencian terhadap muslim masih membara, sementara rasa tak aman sebagai minoritas masih merajalela.

Baca juga artikel terkait PERSEKUSI atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf