Minoritas Muslim dan Kristen Korban Hindu Nasionalis di India

Oleh: Yantina Debora - 23 Desember 2017
Dibaca Normal 3 menit
Ideologi Hindu nasionalis mekar di India dengan teror yang menyasar penganut agama minoritas.
tirto.id - Hampir saban hari Gul Bahar Bibi mengangkat telepon dari suaminya Mohammed Afrazul yang bekerja di wilayah Rajastan. Setiap dua bulan sekali, Afrazul akan pulang ke rumahnya di Saiyadpur, West Bengal. Rencananya bulan ini, bapak dari tiga anak ini akan pulang ke rumah guna mempersiapkan pernikahan putri bungsunya.

Seperti hari biasanya, pada Rabu (6/12/2017) pukul 15.00, ponsel Bibi kembali berdering. Namun kali ini bukan dari suaminya melainkan dari polisi Rajastan yang menyampaikan suaminya telah dibunuh secara brutal, direkam, lalu disebarkan di media sosial.

"Kami ingin para pembunuh suami saya agar digantung. Saya ingin Insaaf (keadilan). Dia dibunuh hanya karena dia Muslim,” cerita Gul Bahar Bibi saat dihubungi The Indian Express via telepon.

Menurut penuturan kepolisian setempat, Afrazul dipukul dan lalu dibakar hidup-hidup oleh Shambhulal Regar. Kejadian itu direkam oleh keponakan Regar yang baru berusia 14 tahun. "Ini kejahatan brutal," kata polisi Rajastan, O P Galhotra. Bagi para tetangga, Afrazull yang sudah 12 tahun terakhir bekerja di Rajastan itu adalah sosok yang baik dan tak memiliki catatan buruk.

Baca juga: Populisme ala Perdana Menteri Narendra Modi

Menurut laporan The Wire, tak ada perselisihan antara pelaku dan korban. Regar tak pernah menghubungi korban. Ia bahkan mungkin tak mengetahui nama dari orang yang ia bakar hidup-hidup tersebut. Namun, Regar tahu pasti bahwa pria yang ia targetkan adalah seorang Muslim.

Orang-orang yang dekat dengan Regar mengenalnya sebagai seorang pecandu narkoba. Ia kerap menonton video yang memuat konten-konten berbau Hindutva—ideologi sektarian di India yang ingin mendirikan negara Hindu. Di media sosial seperti Facebook, Regar kerap membaca dan memberi like pada tautan yang berisi pesan-pesan Hindutva.

Hindutva—istilah yang dicetuskan pada 1923 oleh penulis, penyair dan politikus Vinayak Damodar Savarkar. Ideologi ini menyerukan menciptakan tanah air Hindu yang bebas dari pemeluk agama lain.

Meski secara resmi ditolak oleh pemerintah nasional, ideologi Hindutva tetap memengaruhi beberapa kebijakan pemerintah di tingkat negara bagian.

Lahirnya gerakan ini tak lepas dari narasi masuknya Islam ke India. Pada tahun 1000-an, gelombang pertama invasi muslim menyapu Afghanistan, dataran Indus hingga India. Kuil-kuil umat Hindu dihancurkan termasuk Somnath yang menjadi salah satu kuil terbesar untuk Dewa Siwa yang terletak di Gujarat. Sekitar 50.000 orang Hindu dibunuh.

Kolonisasi Inggris pada abad ke 18 menyisakan sejumlah umat Islam di India dan menuai perlawanan umat Hindu pada awal 1900-an. Pamflet bertajuk 'Hindu: A Dying Race' pun tersebar. Isinya: pesan-pesan ketakutan bahwa Hindu akan segera menjadi minoritas dan Muslim jadi mayoritas di India.

Baca juga: Pria dari Kasta Terendah Jadi Presiden Baru India

Seorang pemimpin senior dari Vishwa Hindu Parishad (Dewan Hindu Dunia) Praveen Togadia angkat bicara bahwa perlu adanya peningkatan persentase orang Hindu dari 82 persen menjadi 100 persen.

Sejak 1925, kelompok Hindu nasionalis Rashtriya Swayamsevak Sangh (RSS) mulai melancarkan propaganda Hindutva.

Pamflet lain juga muncul pada 1923 dari seorang Vinayak Damodar Savarkar, ideolog terkemuka Hindutva yang menulis 'Who is a Hindu' atau 'Essentials of Hindutva.' Dalam pamflet itu tertulis bahwa orang Hindu adalah 'penduduk asli' kawasan Himalaya hingga Samudera Hindia. Tempat-tempat ini diklaim sebagai tanah air (pitrubhumi) dan tanah suci (punyabhumi) umat Hindu. Selain Hindu, hanya penganut agama-agama lain yang berasal dari India-lah—Sikhisme, Jainisme dan Budhisme—yang boleh jadi warganegara. Sedangkan penganut Zoroaster, Kristen, Islam dan Yudaisme dianggap "pendatang" karena memiliki tanah suci di luar wilayah tersebut.

Gerakan nasionalis India yang sekuler dan demokratis mengecam pamflet ini. Mereka ingin semua warga negara, minoritas, etnis dan agama, diperlakukan setara.

Baca juga: Ekonomi India Moody di Bawah Modi

Salah satu yang menentang Hindutva adalah Mahatma Gandhi. Ia percaya berbagai kelompok atau agama dapa hindup damai di sebuah negara. Gandhi sendiri mengecam pemisahan antara India (Hindu) dan Pakistan (Islam) yang berdasarkan agama. Tokoh Hindu yang juga menghormati ajaran Islam dan Kristen ini bahkan ditembak mati oleh seorang Hindu garis keras yang menuduh Gandhi "pembela Islam".

India yang plural kian retak setelah kebangkitan Hindutva pada 1990an yang dibarengi kemunculan kelas menengah yang lebih konservatif. Radikalisme dan revivalisme Islam di belahan dunia lain turut memperkuat kebangkitan Hindutva di India.

Infografik teror hindutva


Ideologi Hindutva kian mengakar seiring menguatnya organisasi-organisasi sayap kanan seperti Rashtriya Swayamsevak Sangh, Bharatiya Janata (partai politik yang menaungi Narendra Modi), Vishwa Hindu Parishad (organisasi propagandis Hindutva) dan Bajrang Dal (sayap paramiliter Vishwa Hindu Parishad).

“Negara kami bukan lagi sekumpulan orang (dari berbagai kelompok). Kami adalah sekumpulan gejala kebencian dan dendam....” tulis Shiv Visvanathan, profesor dari Jindal Global Law School.

Minoritas Islam dan Kristen kerap jadi bulan-bulanan kekerasan para simpatisan Hindutva. Pada 2002, kelompok Hindu nasionalis menyerang pemukiman Muslim di Gujarat dan menewaskan 1000 orang setelah sebuah kereta yang membawa para aktivis Hindu terbakar dan menewaskan 60 orang. Narendra Modi, waktu itu menjabat Menteri Utama Gujarat, diduga terlibat dalam insiden ini.

Tak hanya terhadap Muslim, serangan terhadap orang-orang Kristen di India juga meningkat secara signifikan sejak Bharatiya Janata Party (BJP) yang merupakan partai sayap kanan anti-Islam dan anti-Kristen ini mulai memerintah di New Delhi pada Maret 1998, menurut laporan HRW.

Baca juga: Yang Sudah Dilakukan India Supaya Jadi Kekuatan Global

Selain itu, fakta bahwa umat Hindu menganggap sapi sebagai hewan suci terkadang jadi alasan untuk menyerang minoritas yang mengonsumsi daging sapi seperti Islam dan Kristen. Pemimpin BJP Kamal Didi, misalnya, membunuh Pehlu Khan saat sedang mengangkut sapi dari Jaipur. Alih-alih dikecam, Kamal Didi malah disamakan dengan Bhagat Singh (seorang sosialis India yang menjadi salah satu revolusioner gerakan kemerdekaan India).

Kini kekuatan Hindutva menguat lantaran Narendra Modi beberapa waktu lalu mengangkat pendeta Hindu anti-Islam, Yogi Adityanath sebagai Menteri Utama di Uttar Pradesh, negara bagian India dengan penduduk terpadat. Adityanath sendiri adalah pemuka agama yang populer di Uttar Pradesh.

Sejumlah laporan menyebutkan bahwa Adityanath dipilih untuk memperkokoh dukungan Modi di Uttar Pradesh dalam pemilu 2019 mendatang. Di sisi lain, naiknya pemimpin Hindutva adalah ancaman bagi kaum minoritas. Meski kerap dikecam karena terlibat dalam aksi-aksi kekerasan sektarian yang semakin meningkat, hingga kini pemerintah India tak berdaya menyelesaikan persoalan ini.

Baca juga artikel terkait INDIA atau tulisan menarik lainnya Yantina Debora
(tirto.id - Politik)

Reporter: Yantina Debora
Penulis: Yantina Debora
Editor: Windu Jusuf