Menuju konten utama

Xi Jinping Akan ke Korea Utara, Jadi Mediator Trump-Kim Jong Un?

Xi Jinping dilaporkan akan kunjungi Korea Utara untuk jadi mediator Trump-Kim Jong Un, setelah pertemuan Xi dan Trump di Beijing.

Xi Jinping Akan ke Korea Utara, Jadi Mediator Trump-Kim Jong Un?
Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un bertemu dengan Presiden Cina Xi Jinping, di Dallan, Cina dalam foto tanpa tanggal yang disiarkan oleh Kantor Berita Pusat Korea Utara (KCNA), Rabu (9/5/2018). ANTARA FOTO/KCNA/via REUTERS
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Cina, Xi Jinping, dilaporkan akan melakukan kunjungan ke Korea Utara dalam waktu dekat. Di kunjungannya kali ini, Xi disebut akan memainkan perannya sebagai mediator antara Presiden AS Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un.

Menurut South China Morning Post pada Kamis (21/5/2026), kabar mengenai rencana Xi Jinping mengunjungi Korea Utara pada akhir Mei atau awal Juni 2026 pertama kali disampaikan oleh kantor berita Korea Selatan, Yonhap, yang mengutip sumber pemerintah Seoul.

Dalam laporan tersebut, kunjungan Xi dipandang sebagai tanda semakin menghangatnya hubungan antara Beijing dan Pyongyang dalam beberapa bulan terakhir, setelah sempat mengalami penurunan intensitas selama masa pandemi Covid-19.

Ini akan menjadi kunjungan kedua Xi Jinping ke Korea Utara setelah kunjungan pertamanya pada tahun 2019.

Benarkah Xi Jinping ke Korea Utara untuk Jadi Mediator?

Sejumlah sumber pemerintah Korea Selatan menyebut bahwa kunjungan Xi Jinping tersebut kemungkinan memiliki tujuan diplomatik yang lebih luas, termasuk upaya Cina untuk memainkan peran sebagai mediator dalam hubungan antara Korea Utara dan Amerika Serikat.

Hal ini menjadi penting karena situasi di Semenanjung Korea masih dipenuhi ketegangan terkait program nuklir Korea Utara dan hubungan yang membeku antara Pyongyang dengan Seoul maupun Washington.

Beijing dipandang memiliki posisi strategis karena merupakan mitra ekonomi dan politik utama Korea Utara sekaligus salah satu kekuatan besar yang memiliki hubungan langsung dengan Amerika Serikat.

Perkiraan kunjungan Xi muncul setelah Menteri Luar Negeri Cina, Wang Yi, melakukan perjalanan ke Pyongyang pada bulan sebelumnya. Dalam kunjungan itu, Wang bertemu dengan Menteri Luar Negeri Korea Utara, Choe Son-hui, serta pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un.

Dalam pertemuan tersebut, Wang menegaskan bahwa Cina dan Korea Utara perlu memperkuat koordinasi dan kerja sama untuk melindungi kepentingan keamanan serta pembangunan masing-masing di tengah situasi global yang semakin tidak stabil.

Laporan mengenai kemungkinan kunjungan Xi juga muncul setelah rangkaian pertemuan internasional penting yang dilakukan pemimpin Cina tersebut. Dalam beberapa waktu terakhir, Xi diketahui mengadakan pertemuan tingkat tinggi dengan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Presiden Rusia, Vladimir Putin.

Pertemuan-pertemuan tersebut mengindikasikan semakin aktifnya peran Cina dalam diplomasi global, terutama terkait isu keamanan internasional dan geopolitik kawasan Asia Timur.

Di sisi lain, Cina juga terlihat berusaha memperbaiki hubungan dengan Korea Utara pasca-pandemi. Selama pandemi Covid-19, hubungan kedua negara sempat melemah akibat penutupan perbatasan dan pembatasan perjalanan yang ketat.

Namun belakangan ini, Cina telah kembali membuka layanan penerbangan langsung dan kereta penumpang menuju Pyongyang. Meski demikian, Korea Utara masih sangat selektif dalam membuka diri. Hingga kini, Pyongyang baru menerima wisatawan dan pengunjung dari Rusia, sedangkan wisatawan internasional lainnya masih belum diizinkan masuk.

Presiden Donald Trump sendiri masih menunjukkan ketertarikan untuk melanjutkan dialog dengan Kim Jong-un. Trump, yang sebelumnya telah mengadakan tiga kali pertemuan dengan Kim selama masa jabatan pertamanya, kembali menyatakan bahwa dirinya memiliki hubungan baik dengan pemimpin Korea Utara tersebut.

Setelah kunjungannya ke Beijing pekan lalu, Trump mengatakan bahwa ia masih menjalin komunikasi dengan Kim dan isu Semenanjung Korea juga dibahas dalam pertemuannya dengan Xi Jinping. Namun, detail pembicaraan tersebut tidak banyak diungkapkan kepada publik.

Meski demikian, dokumen resmi Gedung Putih setelah pertemuan Xi dan Trump tetap menyebut bahwa kedua pemimpin memiliki tujuan bersama untuk denuklirisasi Korea Utara.

“Presiden Trump dan Presiden Xi menegaskan tujuan bersama mereka untuk melucuti senjata nuklir Korea Utara,” bunyi dokumen resmi Gedung Putih tersebut.

Respons Korsel terhadap Rencana Kunjungan Xi Jinping ke Korut

Pemerintah Korea Selatan merespons laporan mengenai rencana kunjungan Xi Jinping ini dengan hati-hati. Kantor kepresidenan Korea Selatan menyatakan bahwa mereka sedang memantau perkembangan terkait kemungkinan kunjungan Xi ke Pyongyang dan berharap Cina dapat memainkan peran konstruktif dalam isu Semenanjung Korea.

Harapan ini muncul karena hubungan antara Korea Selatan dan Korea Utara terus memburuk dalam beberapa tahun terakhir. Bahkan, Korea Utara pada akhir 2023 secara resmi menyatakan hubungan antar-Korea sebagai hubungan antara dua negara yang bermusuhan.

Sebagai respons terhadap situasi tersebut, Korea Selatan dalam dokumen kebijakan terbaru untuk pertama kalinya secara eksplisit menyebut Korea Utara dan Korea Selatan sebagai dua negara terpisah yang harus hidup berdampingan secara damai.

Baca juga artikel terkait HUBUNGAN BILATERAL atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra