tirto.id - Ada macam-macam cara untuk menyampaikan peristiwa ke dalam bentuk tulisan. Salah satunya lewat feature - sebuah karya jurnalistik yang gaya penulisannya menggunakan bahasa sastra, bercerita atau bertutur (story telling).
Content Manager Tirto.id, Rina Nurjanah, menjelaskan secara sederhana feature merupakan hasil tulisan yang terkumpul dari berbagai fakta. Namun memiliki penyajian yang berbeda.
"Jadi feature ini kalau misalkan secara definisi, pertama memang tulisan jurnalistik tetap faktual gitu. Jadi fakta ini dituliskan ulang dengan cara yang lebih menggugah emosi," kata Rina dalam Workshop Menulis Feature & Bincang Inspiratif: Satukan Gerak, Terus Berdampak, pada Jumat (12/9/2025).
Jika dibaratkan, penulisan feature seperti membangun sebuah rumah. Sebelum pembangunan dimulai, penulis diharuskan mendesain terlebih dahulu. Penulisan feature, perlu dipikirkan angle yang akan dibuat, lead yang akan ditulis, dan isi yang membangun emosi pembaca.
Menulis feature juga diharuskan untuk menulis secara detail. Di mana, hasil penglihatan, pendengaran, dan indera peraba harus ikut bermain dalam proses peliputan, sehingga saat penulis mulai melakukan tugasnya, pesan yang ingin disampaikan terhadap pembaca dapat mengguggah hati yang menikmati hasil karya tersebut.
"Feature ini kan tantangannya adalah pada saat dulu beda dengan TV yang bisa ditampilkan visualnya seperti apa. Tulisan itu kan tidak bisa menampilkan fotonya dan lain sebagainya, terbatas ya. Jadi untuk membantu pembaca membayangkan sebenarnya kondisinya seperti apa, muncullah si jenis tulisan baru ini, si feature gitu," ujar Rina.
Selain itu, ada juga perbedaan antara berita feature dan hard news. Jika hard news adalah pemberitaan yang memiliki fokus pada kecepatan, feature adalah bentuk tulisan yang mengedepankan rasa ingin tahu pembaca.
"Beda dengan feature. Dia akan mencoba menjawab satu pertanyaan itu menjadi angle tertentu gitu. Dimulai dengan lead-nya yang menggugah, karena panjang, otomatis tulisan awal feature itu harus menggugah rasa ingin tahu pembaca," ungkap Rina.

Meski selalu dikenal dengan tulisan panjang, menurut Rina, penulisan feature tidak bisa ditentukan dari seberapa banyaknya kata yang digunakan. Lebih dari itu, informasi yang disampaikan di dalamnya itulah, yang menentukan seberapa dalam dan menggugah tulisan tersebut.
Dalam feature juga memungkinkan adanya penjabaran penulisan yang naratif dan memiliki unsur sastra, seperti deskripsi. Sebagai penulis, hasil tulisan feature harus menggambarkan deskripsi ruangan, deskripsi sosok, dan deskripsi suasana.
"Jadi kita harus mengoptimalkan panca indera kita untuk memberikan deskripsi dalam tulisan yang bisa membawa pembaca juga ikut merasakan berada dalam settingan tersebut gitu. Atau penuh dengan dialog gitu," papar Rina.
Inovasi Aloe Liquid Bawa Alan Raih Penghargaan Astra
Rina juga membagikan contoh topik kepenulisan yang bisa diangkat untuk kepenulisan feature. Salah satunya, sosok Alan Efendhi, penerima Satu Indonesia Awards 2023 dari PT Astra International Tbk.
Pengusaha asal Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, itu berhasil meraih penghargaan di bidang kewirausahaan. Ia mengolah lidah buaya menjadi minuman sehat bernama Aloe Liquid dengan pemanis alami dari daun stevia, sekaligus memberdayakan ratusan petani lokal.
Perjalanan pria yang kerap disapa Mas Alan itu pun tidak instan. Lahir dari keluarga petani, ia justru diarahkan untuk menempuh jalur berbeda. Orang tuanya berharap ia bisa bekerja di pabrik setelah lulus STM jurusan otomotif. Namun, kenyataannya tidak ada pabrik yang menerima lamaran kerjanya.
“Akhirnya saya sempat kerja serabutan, apa saja saya kerjakan. Lalu tahun 2010 saya dapat kesempatan kuliah di Jakarta,” kata Mas Alan.
Selama merantau di ibu kota, Alan merasakan betapa jarangnya ia bisa pulang ke kampung halaman. Dalam setahun, ia hanya sekali menengok orang tuanya. Kondisi itulah yang mendorongnya untuk kembali ke Gunung Kidul.
“Saya ingin bekerja, tapi dekat dengan orang tua. Dari situ saya mulai berpikir, kalau pulang kampung bisa mengerjakan apa,” paparnya.
Gunung Kidul sendiri terkenal dengan kondisi tanahnya yang tandus dan curah hujan yang minim. Situasi itu membuat Alan berpikir keras mencari komoditas yang sesuai. Dari berbagai literatur, ia menemukan bahwa lidah buaya atau aloe vera cocok untuk dikembangkan. “Awalnya saya sama sekali tidak punya pengalaman bertani. Tapi saya yakin aloe vera bisa jadi jalan untuk usaha,” katanya.
Dari nekat, tekat dan keyakinan, pada 2014, Alan membeli bibit lidah buaya dari Pontianak dan Jawa Timur. Tanpa banyak bicara kepada orang tua, ia langsung menanam ratusan bibit di tanah kampungnya. Awalnya, keputusannya sempat diragukan.
“Ibu saya bilang akan mendukung, tapi dalam hati beliau juga tidak yakin. Lidah buaya waktu itu belum pernah ada yang mengembangkan di sini,” tutur Alan.
Keyakinannya Alan pun akhirnya membuahkan hasil. Sedikit demi sedikit tanaman lidah buaya tumbuh subur. Alan pun mengolahnya menjadi produk minuman sehat. Ia memilih pemanis stevia yang rendah kalori, rendah kolesterol, dan memiliki indeks glikemik rendah, sehingga aman bagi konsumen yang peduli kesehatan. Tak disangka, pada 2019, produk Aloe Liquid Stevia resmi dirilis ke pasaran.
Bukan hanya berfokus pada produk, Alan juga melibatkan masyarakat sekitar. Ia mengajak petani lokal, termasuk keluarganya sendiri, untuk menanam lidah buaya. Dari hanya tiga petani mitra, kini berkembang menjadi lebih dari 125 orang yang tergabung dalam klaster.
“Saya ingin usaha ini bukan hanya untuk saya, tapi juga bisa membantu ekonomi para petani dan ibu-ibu rumah tangga di Gunung Kidul,” tuturnya.
Keberhasilan itu membuat Alan diganjar apresiasi bergengsi dari Astra, Satu Indonesia Award 2023. Penghargaan ini diberikan atas kontribusinya dalam bidang kewirausahaan sekaligus dampak sosial yang dihasilkan.
"Saya bersyukur sekali. Semoga penghargaan ini bisa makin mengangkat semangat teman-teman muda untuk berani terjun ke dunia pertanian."
Anugerah Pewarta Astra ke-11
Cerita Mas Alan pun menjadi satu dari ratusan cerita yang menginspirasi, dan menjadi modal bagi para penulis yang tertarik untuk mengikuti Lomba Foto Astra ke-17 dan Anugerah Pewarta Astra ke-11yang dibuka sejak 18 Juni hingga 18 November 2025.
Perlombaan ini menjadi wadah apresiasi bagi masyarakat umum dan wartawan untuk menyuarakan kontribusi positif bagi Indonesia melalui karya foto dan tulisan.
“Kami berharap partisipasi tahun ini bisa melampaui capaian sebelumnya, lebih dari 16.500 karya foto dan 3.300 tulisan,” ujar Head of Media Relation PT Astra International Tbk, Putri Permata.
Dalam gelaran karya tersebut, Astra telah menetapkan tema “Satukan Gerak Terus Berdampak”. Untuk lomba foto, peserta diminta menangkap potret aksi nyata masyarakat membawa perubahan positif, sedangkan karya tulis difokuskan pada cerita kontribusi Astra melalui satu Indonesia Awards, Kampung Berseri Astra, atau Desa Sejahtera Astra.
Tahun ini, Astra menyiapkan hadiah menarik, termasuk sepeda motor untuk juara utama serta hadiah bulanan bagi peserta yang terpilih. Apabila Anda tertarik mengikuti lomba Lomba Foto Astra ke-17 dan Anugerah Pewarta Astra ke-11, maka dapat mendaftar di sini.
Penulis: Natania Longdong
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id






























