Waspada Residu Zat-Zat Berbahaya pada Produk Pangan Hewan

Ilustrasi Residu pada Hewan Pangan. FOTO/Istockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 25 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Dari mulai dioksin, timbal, hingga antibiotik, semua residu kontaminan itu bisa menyebar dari hewan ke manusia lewat rantai makanan.
tirto.id - Dulu masyarakat pernah dihebohkan kabar tentang sapi-sapi yang hidup dari memamah sampah organik. Mamalia itu dianggap tak layak konsumsi karena penuh residu timbal dan berbagai macam penyakit—yang dikhawatirkan menular saat manusia mengonsumsi dagingnya.

Kini sebuah penelitian yang dilakukan di Jawa Timur mengungkap bahaya lain dari pangan unggas: residu pembakaran plastik pada produk telur ayam kampung—dan tentu, produk dagingnya.

"Ini temuan pertama yang menunjukkan kontaminasi bahan kimia berbahaya pada rantai makanan di Asia Tenggara," tulis studi yang dilakukan International Pollutants Elimination Network (IPEN) tersebut.

Dalam mengungkap kejanggalan ini IPEN bekerja sama dengan LSM Indonesia Nexus3 dan Ecoton. Mereka menganalisis telur ayam kampung di Desa Mojokerto, Sidoarjo, Bangun, dan Tropodo, Jawa Timur. Penelitian dilakukan pada sampel telur untuk menguji kandungan bahan kimia yang telah masuk ke rantai makanan.

Hasil penelitian menunjukkan bahan kimia berbahaya paling tinggi ditemukan di Desa Tropodo. Telur ayam kampung yang mencari makan di sekitar pabrik tahu di desa tersebut tercemar dioksin, polychlorinated biphenyls (PCBs), polybrominated diphenyl ethers (PBDEs), short-chain chlorinated paraffins (SCCPs), perfluorooctane sulfonate (PFOS), dan beberapa senyawa kimia lain.

“Kandungan bahan kimia terparah tercatat di dekat pabrik-pabrik tahu, mereka menggunakan plastik sebagai bahan bakar,” tulis peneliti.


Dioksin merupakan senyawa kimia yang terbentuk dari proses pembakaran, termasuk kebakaran pada hutan dan aktivitas gunung berapi. Zat ini adalah faktor pemicu dari berbagai penyakit serius di antaranya kardiovaskular, kanker, diabetes, dan endometriosis. Sementara PBDEs dan SCCPs dikaitkan dengan gangguan fungsi endokrin dan reproduksi. PFOS menyebabkan kerusakan imun serta sistem reproduksi.

Tropodo selama ini dikenal sebagai “Desa Asap” karena asap hasil pembakaran sampah bak pengganti oksigen bagi warga di desa tersebut. Mereka membakar sampah plastik sisa impor kertas dari sebuah pabrik kertas di Mojokerto untuk mengurangi tumpukan sampah. Sebagai informasi, banyak warga di kawasan penelitian yang berprofesi sebagai pengepul.

Tingkat kontaminan pada telur sampel di Jawa Timur hampir setara dengan telur dari wilayah Agen Oranye di Bien Hoa, Vietnam. Agen Oranye adalah herbisida mengandung dioksin yang digunakan militer Amerika untuk menghancurkan bahan pangan musuh dalam Perang Vietnam. Wilayah ini merupakan lokasi paling terkontaminasi dioksin di bumi.

Studi ini menjadi penelitian pertama yang membuktikan kontaminasi tinggi bahan kimia berbahaya pada rantai makanan di Asia Tenggara. Telur sampel di Jawa Timur menempati peringkat kedua dengan kadar dioksin tertinggi setelah Bien Hoa, Vietnam. Jumlah dioksin dalam telur pada studi ini 70 kali lebih tinggi dari standar badan keselamatan pangan Eropa, European Food Safety Authority (EFSA).

“Konsumsi satu telur dari Tropodo melebihi asupan harian dioksin yang dapat ditoleransi tubuh manusia,” demikian kesimpulan peneliti.


Daging Sapi Tercemar Timbal

Mundur ke belakang kira-kira di pertengahan tahun 2018 saat informasi soal sapi makan sampah ramai diberitakan. Kala itu peternak di sekitar tempat penampungan sampah beberapa wilayah Indonesia, termasuk Jawa Barat dan Jawa Tengah kedapatan menggembalakan sapinya di tumpukan sampah.

Sapi-sapi tersebut setelah diteliti dagingnya mengandung residu logam berat, yakni timbal. Penelitian yang dilakukan Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo terhadap sapi di TPA Putri Cempo menunjukkan kandungan timbal tinggi pada darah, feses, daging, ginjal, hati, dan usus sapi.

Mereka memakan sampah organik dan minum air limbah di TPA. Bahkan setelah peneliti membedah lambung sapi, tak hanya sampah organik yang menjadi sumber makanan mereka, tapi juga sampah anorganik seperti plastik. Plastik yang terkonsumsi sapi tidak dapat dicerna atau dikeluarkan bersama feses. Kadang-kadang malah terbawa saat eruktasi dan keluar melalui mulut.

Karantina sapi selama tiga bulan nyatanya tak mampu mengeliminasi residu kontaminan hingga ambang batas toleransi aman konsumsi. Sapi pemakan sampah tak layak menjadi sumber pangan manusia karena bisa memicu penurunan kecerdasan anak, pembengkakan hati, dan jadi media penyebaran bakteri serta virus jahat.

“Supaya layak dikonsumsi, sapi pemakan sampah harus dikarantina enam bulan dengan pakan alami dan terjamin dengan sertifikasi sehat,” jelas Pulung Haryadi, saat itu masih menjabat sebagai Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan, Bantul, dilansir dari Mongabay, Juli 2018.

Kandungan protein dari rumput akan menetralisir timbal dan meluruhkan kontaminan lewat kotoran atau urin. Terbukti dari hasil penelitian, kandungan timbal berangsur turun setelah sapi diberi pakan konvensional berupa rumput raja dan konsentrat komersial.



Tantangan Global: Residu Antibiotik Produk Hewani

Kedua contoh kasus residu pada bahan pangan hewan di atas belum cukup menyudahi tulisan ini. Kita masih harus membahas ancaman kesehatan pangan yang dihadapi oleh dunia: residu antibiotik pada produk hewani.

Antibiotik yang diberikan peternak kepada hewan sebagai pencegah penyakit atau disalahgunakan sebagai pendorong pertumbuhan juga dapat meninggalkan residu. Perilaku menyimpang peternak itu menyumbang permasalahan kesehatan baru bagi manusia. Ketika antibiotik digunakan tidak sesuai aturan, maka bakteri yang ada di tubuh hewan akan resisten.

Penelitian dalam Journal Antimicrobial Chemotherapy pada 2004, menjelaskan bahwa bakteri resisten bisa menyebar melalui limbah, hewan, dan akhirnya ke manusia lewat rantai makanan. Antibiotik pada hewan akan menjadi residu dan membuat produk daging, susu, dan telur terpapar bakteri resisten.

Bahkan tanaman yang menggunakan pupuk dari kotoran hewan juga berpotensi menyebarkan resistansi antibiotik lewat konsumsi sayur dan buah. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan resistensi antibiotik lewat produk pangan, terutama hewani turut menyumbang kegagalan pengobatan pada hewan dan manusia.

“Residu di hewan air juga termasuk yang paling berbahaya karena bakteri resisten ketika masuk air akan berputar di sirkulasi yang itu-itu saja,” jelas I Wayan Wiryawan, seorang dokter hewan dalam acara “Cegah Bencana Kemanusiaan Akibat Resistensi Antibiotik” beberapa waktu lalu.


Penggunaan antibiotik pada produk hewan, menurut Wayan lebih banyak memberikan efek negatif. Sebab bakteri resisten justru membikin reaksi kimia di dalam tubuh hewan jadi minim asam organik rantai pendek, sehingga hewan sulit menyerap nutrisi. Akibatnya terjadi diare, kotoran yang basah memiliki amoniak tinggi dan memicu populasi lalat tak terkontrol.

“Pemakaian antibiotik di ternak ini sangat masif, bahkan Eropa butuh waktu 18 tahun untuk menghilangkan perilaku tersebut di peternakan.”

Ditambahkan dokter hewan Erry Setyawan dari Food and Agriculture Organization (FAO) Indonesia, sejatinya upaya preventif menghindari penyakit tak perlu dilakukan dengan memberi antibiotik pada ternak, melainkan cukup menjaga kesehatan dan kebersihan hewan dan kandang dengan Biosekuriti 3 Zona.



Jika pun ternak membutuhkan antibiotik untuk pengobatan, selayaknya mereka diberi waktu paruh untuk detoks. Tujuannya agar antibiotik tak menjadi residu dan bakteri resisten diedarkan melalui rantai makanan. Peternak layer (ayam petelur) pun idealnya tidak menjual telur yang diproduksi selama ayam dalam masa pemberian antibiotik.

“Rata-rata seminggu setelah konsumsi antibiotik,” ungkap Erry kepada Tirto, Kamis, (22/11/2019).

Sementara untuk menghindari residu-residu zat berbahaya pada bahan pangan hewani, ia menyarankan agar masyarakat memilah produk berkualitas. Tidak membeli produk hewan yang dijual dengan harga murah dan tidak wajar, misalnya. Atau memilih produk yang sudah memiliki sertifikat keamanan pangan.

Produk hewani yang sudah memiliki Nomor Kontrol Veteriner (NKV) terbukti telah memenuhi standar pangan nasional. Bahan Pangan Hewani ber-NKV terjamin kualitasnya berdasar empat kriteria, Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH).

“Pilihannya memang agak mahal tapi aman dan sehat,” pungkas Erry.

Baca juga artikel terkait RACUN atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Windu Jusuf
DarkLight