tirto.id - Sebuah nomor asing masuk ke dalam ponsel. Dia tiba-tiba tahu nama lengkap dan pekerjaan Anda. Lalu, dia akan menyampaikan sebuah pesan bahwa ada seorang pejabat yang akan menelepon. Hingga si pejabat mengontak dan ternyata meminjam uang. Itu adalah penipuan.
Sekjen Kementerian Tenaga Kerja Cris Kuntadi adalah salah satu sosok yang namanya kerap dicatut oleh penipuan tersebut. Terakhir, insiden ini terjadi pada Kamis (12/3/2025), di mana ada seseorang yang mengaku bernama Imam lalu mengaku sebagai staf Cris.
“Cukup banyak yang mengatasnamakan saya,” kata Cris saat dikonfirmasi Tirto.
Cris menegaskan, hal itu adalah modus penipuan. Dia bersama jajaran Sekretariat Jenderal Kementerian Ketenagakerjaan tidak pernah meminta uang atau bantuan finansial dalam bentuk apa pun kepada masyarakat atau pun mitra kerja melalui komunikasi pribadi.
“Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat dan para mitra kerja untuk selalu berhati-hati terhadap modus penipuan semacam ini. Apabila menerima pesan, telepon, atau permintaan yang mengatasnamakan saya atau staf saya dan berujung pada permintaan uang, agar tidak menanggapi dan segera melakukan verifikasi melalui saluran resmi Kementerian Ketenagakerjaan,” tambahnya.
Cris juga mendorong masyarakat untuk melaporkan praktik penipuan tersebut kepada aparat penegak hukum agar dapat ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku.”Mari kita bersama-sama menjaga kewaspadaan agar tidak ada pihak yang dirugikan oleh tindakan oknum yang menyalahgunakan nama pejabat atau institusi pemerintah,” imbuhnya.
Dalam kacamata keamanan informasi, apa yang dialami oleh Cris dan pejabat lainnya disebut sebagai teknik Pretexting. Pelaku menciptakan skenario palsu dengan mengaku sebagai Sekjen atau staf Sekretariat Jenderal untuk menghubungi target, baik masyarakat umum maupun mitra kerja (vendor dan pemangku kepentingan).
Target spesifik seperti mitra kerja sering kali menjadi sasaran utama karena mereka memiliki hubungan profesional yang berkelanjutan dengan kementerian. Manipulasi ini bekerja dengan memanfaatkan "Otoritas Semu" untuk memicu kondisi psikologis yang disebut Cognitive Freeze. Dalam kondisi ini, rasa sungkan atau takut menyinggung pejabat tinggi sering kali melumpuhkan logika kritis seseorang, sehingga mereka cenderung mengikuti instruksi pelaku tanpa ragu.
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id



























