tirto.id - Warga di pesisir Kabupaten Serang, Banten, mengeluhkan gangguan pernapasan hingga sakit tenggorokan akibat hujan abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kondisi tersebut juga mulai berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Sebagian warga memilih membatasi aktivitas di luar rumah di tengah suara gemuruh dan getaran yang terus terdengar sejak Jumat (4/9/2026) malam.
Sanan (42), warga Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, mengatakan abu vulkanik mulai terasa lebih tebal sejak Sabtu sekitar pukul 17.00 WIB. Debu bahkan telah menempel di sejumlah bagian rumahnya.
"Dari jam lima sore mulai banyak debu. Saya bawa motor di jalan mata pada sakit kalau tidak pakai helm. Ke badan juga menempel debunya, membuat tidak nyaman. Bahkan di depan rumah saya sudah banyak debu yang menempel di lantai," katanya, seperti dikutip Antara.
Sanan kemudian mendatangi Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Pasauran pada Sabtu malam. Ia ingin memastikan kondisi gunung setelah mendengar suara dentuman dan merasakan getaran yang berlangsung sejak malam sebelumnya
Kekhawatiran terhadap dampak erupsi juga dirasakan Ajat Sudrajat, Kepala SDN Pasir Menteng, Kecamatan Cinangka. Ia mendatangi pos pemantauan untuk mendapatkan informasi mengenai kondisi Anak Krakatau yang dapat diteruskan kepada siswa dan orang tua.
Menurut Ajat, abu vulkanik cukup mengganggu ketika warga berada di luar ruangan. Masker dan pelindung mata diperlukan untuk mengurangi dampaknya.
"Di perjalanan, kalau keadaan tidak memakai masker itu sudah lumayan sakit ke tenggorokan, kemudian mata juga perih kalau tidak pakai kacamata. Walaupun kita tidak terlihat jelas di udara, tapi debu-debunya di pos pemantauan Krakatau ini kelihatan menumpuk," ujarnya.
Ajat mengatakan aktivitas Anak Krakatau juga membuat sebagian siswa tidak masuk sekolah. Karena itu, informasi mengenai kondisi gunung dari pos pemantauan menjadi penting agar sekolah dapat memberikan penjelasan yang tepat kepada siswa dan wali murid.
Di tengah aktivitas erupsi tersebut, sebagian besar warga Pasauran masih berusaha menjalankan aktivitas seperti biasa. Menurut Ajat, masyarakat setempat sudah terbiasa dengan suara dentuman dan getaran dari Anak Krakatau.
Namun, kondisi tersebut tidak membuat seluruh warga bertahan di rumah. Sejumlah warga memilih mengungsi secara mandiri ke wilayah pegunungan sebagai langkah antisipasi.
"Masyarakat itu masih aman-aman saja karena hal-hal ini sudah biasa dan alami di warga Pasauran. Tetapi memang ada beberapa warga yang berinisiatif mengamankan dirinya sendiri ke daerah pegunungan," katanya.
Penulis: Hendra Friana
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






























