Menuju konten utama

Wamensos Dorong Literasi Keuangan bagi Generasi Muda Disabilitas

Wamensos, Agus Jabo, mendukung penguatan literasi keuangan bagi generasi muda penyandang disabilitas untuk mendorong kemandirian dan inklusi.

Wamensos Dorong Literasi Keuangan bagi Generasi Muda Disabilitas
Wakil Menteri Sosial (Wamensos) Agus Jabo Priyono saat menerima audiensi Institusi Disabilitas Indonesia (INDISI) di Ruang Rapat Lantai 6 Kementerian Sosial RI, Jakarta, Kamis (3/9/2026). FOTO/dok.Kemensos
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Menteri Sosial (Wamensos), Agus Jabo Priyono, mendukung penguatan literasi keuangan bagi generasi muda penyandang disabilitas sebagai bagian dari upaya membangun kemandirian dan memperluas kesempatan untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan ekonomi.

Dukungan tersebut sejalan dengan arah kebijakan Kementerian Sosial (Kemensos) yang menempatkan pemberdayaan sebagai bagian penting dalam penanganan penyandang disabilitas. Agus Jabo menjelaskan, berdasarkan mandat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2009 tentang Kesejahteraan Sosial, Kemensos memiliki fungsi dalam tiga bidang utama, yakni perlindungan dan jaminan sosial, rehabilitasi sosial, serta pemberdayaan sosial.

“Penanganan penyandang disabilitas tidak berhenti pada perlindungan. Kita juga harus memastikan mereka mendapatkan rehabilitasi, kesempatan berkembang, dan ruang untuk menjadi mandiri,” katanya merujuk keterangan resmi pada Jumat (4/9/2026).

Dalam menjalankan mandat tersebut, Kemensos memiliki 12 Pemerlu Atensi Sosial (PAS) sebagai kelompok sasaran yang membutuhkan perhatian dan intervensi sosial. Penyandang disabilitas termasuk di dalam kelompok tersebut.

Berbagai intervensi bagi penyandang disabilitas mencakup rehabilitasi sosial, dukungan untuk meningkatkan keberfungsian sosial, serta penguatan kemandirian. Namun, menurut Agus Jabo, penanganan ke depan perlu semakin diarahkan pada pendekatan yang memberdayakan.

“Kita ingin bantuan dan pelayanan sosial menjadi jalan menuju kemandirian. Mereka memang membutuhkan dukungan dan pendampingan, tetapi kesempatan untuk berkembang harus dibuka seluas-luasnya,” ujarnya.

Menurut Agus Jabo, penyandang disabilitas pada dasarnya tidak menginginkan perlakuan diskriminatif. Mereka membutuhkan akses dan kesempatan yang setara untuk belajar, bekerja, mengembangkan kemampuan, serta berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, organisasi masyarakat, dan filantropi dinilai penting untuk memperluas akses dan kesempatan tersebut.

“Yang mereka perlukan bukan belas kasihan, melainkan kesempatan yang setara. Dukungan tetap diperlukan, tetapi jangan sampai dukungan itu justru membuat mereka kehilangan kesempatan untuk mandiri,” tuturnya.

Salah satu bentuk perluasan akses tersebut dibahas Agus Jabo saat menerima audiensi Institusi Disabilitas Indonesia (INDISI) di Ruang Rapat Lantai 6 Kementerian Sosial RI, Jakarta, Kamis (3/9/2026). Audiensi tersebut membahas rencana kolaborasi INDISI bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) dalam kegiatan “Pasar Modal untuk Sobat Disabilitas”.

Kegiatan yang direncanakan pada 21 September 2026 itu akan melibatkan sekitar 210 siswa penyandang disabilitas dari tujuh SLB di Jakarta bersama guru pendamping. Selain literasi pasar modal, kegiatan tersebut juga akan diisi dengan pembekalan “Disabilitas Menuju Siap Kerja”.

Ketua Harian INDISI Citragama Prameswari menjelaskan, INDISI berdiri sejak 2020 dan selama ini telah membangun kolaborasi dengan berbagai instansi dan dunia usaha dalam pengembangan program bagi penyandang disabilitas.

Salah satu fokus INDISI tahun ini adalah program “Disabilitas Menuju Siap Kerja” yang ditujukan untuk mempersiapkan siswa penyandang disabilitas, khususnya jenjang SMA, agar lebih siap memasuki dunia kerja.

Berdasarkan pengalaman berdialog dengan guru-guru SLB, Citragama mengatakan kemampuan akademik siswa sebenarnya telah berkembang dengan baik. Namun, terdapat aspek lain yang perlu diperkuat sebelum mereka memasuki lingkungan kerja, terutama soft skill dan kemampuan interpersonal.

“Anak-anak tidak hanya perlu memiliki keterampilan, tetapi juga perlu memahami budaya organisasi di tempat kerja, mampu berkomunikasi, dan mempersiapkan diri menghadapi wawancara kerja,” ujar Citragama.

Program tersebut dikembangkan agar siswa memiliki kepercayaan diri dan kesiapan yang lebih baik ketika memasuki proses rekrutmen. INDISI juga berupaya memperkenalkan dunia kerja secara lebih konkret sehingga penyandang disabilitas tidak hanya dipersiapkan untuk memperoleh pekerjaan, tetapi juga mampu beradaptasi dan berkembang di lingkungan kerja.

Upaya memperluas ruang inklusi juga dilakukan INDISI melalui akses terhadap ruang publik. Pada 16 Juli 2026, INDISI bersama tujuh SLB di Jakarta membuka akses bagi 162 siswa penyandang disabilitas untuk mengunjungi Istana Negara. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas ruang inklusi dan memastikan penyandang disabilitas dapat mengakses ruang publik secara setara.

Selain kesiapan kerja, INDISI melihat pentingnya memperkenalkan literasi keuangan dan investasi sejak dini. Karena itu, kolaborasi dengan BEI melalui kegiatan “Pasar Modal untuk Sobat Disabilitas” diarahkan untuk memberikan pemahaman sederhana mengenai pasar modal dan pentingnya perencanaan keuangan kepada generasi muda penyandang disabilitas.

Citragama mengatakan, pengenalan investasi tidak dimaksudkan sekadar untuk mengenalkan produk keuangan, tetapi menjadi bagian dari pendidikan menuju kemandirian finansial.

“Sejak dini anak-anak perlu memahami bahwa mempersiapkan masa depan bukan hanya dengan menabung, tetapi juga mengenal bagaimana mengelola dan mengembangkan keuangan secara bijak,” katanya.

Selain program yang digagas INDISI, Agus Jabo menjelaskan, Kemensos juga terus memastikan kelompok rentan, termasuk penyandang disabilitas, tidak tertinggal dalam berbagai agenda pembangunan nasional.

Salah satunya melalui Sekolah Rakyat, program pendidikan berasrama yang dirancang untuk memutus transmisi kemiskinan antargenerasi. Penyandang disabilitas yang berasal dari keluarga miskin dan memenuhi kriteria memiliki kesempatan untuk mengikuti pendidikan di Sekolah Rakyat.

“Di Sekolah Rakyat tidak ada seleksi akademik sebagai dasar utama. Yang menjadi perhatian adalah kondisi sosial ekonomi keluarga. Karena itu, anak penyandang disabilitas yang memenuhi kriteria juga memiliki kesempatan untuk menjadi siswa,” jelasnya.

Sekolah Rakyat, lanjut dia, merupakan bagian dari strategi pemerintah untuk memberikan harapan baru kepada anak-anak dari keluarga miskin melalui pendidikan yang terintegrasi dengan pemenuhan kebutuhan dasar.

Selain pendidikan, Kemensos menjalankan program bantuan sosial seperti Program Keluarga Harapan (PKH) dan bantuan pangan, serta program rehabilitasi dan atensi bagi kelompok yang membutuhkan penanganan khusus.

Agus Jabo menegaskan, keseluruhan program tersebut perlu ditempatkan dalam satu kerangka besar, yakni memastikan masyarakat yang berada dalam kondisi rentan memperoleh perlindungan sekaligus memiliki jalan untuk meningkatkan taraf hidup.

“Kita ingin masyarakat yang selama ini rentan tidak merasa menjadi kelompok nomor dua. Negara harus hadir, dan kehadiran itu harus diwujudkan dalam bentuk perlindungan, pelayanan, kesempatan, dan pemberdayaan,” katanya.

Karena itu, Agus Jabo menyambut baik rencana kegiatan “Pasar Modal untuk Sobat Disabilitas”. Menurutnya, pengenalan literasi keuangan kepada siswa penyandang disabilitas merupakan bentuk perluasan akses yang dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju kemandirian.

Ia berharap audiensi tersebut tidak berhenti pada rencana satu kegiatan, tetapi berkembang menjadi kerja sama yang lebih luas dan berkelanjutan.

“Kalau pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan filantropi bisa duduk bersama, saya yakin ruang kesempatan bagi penyandang disabilitas akan semakin besar. Yang kita bangun bukan sekadar program, tetapi kemandirian dan harapan,” pungkasnya.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis