tirto.id - Sebelum berkarier di dunia pemerintahan, Stella Christie adalah seorang saintis dengan segudang pengalaman ilmu kognitif di Tsinghua University, Beijing. Rasa ingin tahunya di dunia kognitif manusia mengantarkannya ke berbagai penelitian mengenai asal-muasal inteligensia Homo Sapiens.
Saat berbincang dengan Tirto, Stella bercerita pernah membandingkan bagaimana naluri seorang anak dengan makhluk lain demi membuktikan kecerdasan manusia. Perempuan kelahiran tahun 1979 ini juga menceritakan mengenai hasil riset kecerdasan buatan (artificial inteligence atau AI) yang saat ini kerap digunakan dalam berbagai riset akademik. Menurutnya, AI memiliki banyak kelemahan, bahkan saat disandingkan dengan bayi yang baru saja lahir di muka bumi.
Temuan demi temuan tersebut menjadi bekal untuk menjabat kursi Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Wamendikti Saintek). Dalam hal tersebut, Stella banyak menyoroti mengenai kondisi riset di Indonesia yang masih perlu banyak perkembangan dengan tolak ukur dari Penilaian Siswa Internasional (PISA).
Dipandu oleh Pemimpin Redaksi Tirto.id, Rachmadin Ismail, Stella menguliti dunia pendidikan dan riset di Indonesia, selama lebih dari satu jam:
Kita mulai dengan yang paling dasar. Boleh diceritakan latar belakang riset Prof Stella? Sebelum menjadi Wamen, spesialisasi riset Anda di area apa?
Baik. Riset saya menanyakan dari mana asalnya intelligence (kecerdasan) dan pengetahuan. Pengetahuan itu banyak sekali. Mas Madin ingat nama saya, rekan-rekan di sini tahu cara mengoperasikan kamera, kita bisa berbicara bahasa—itu semua pengetahuan. Kita tahu waktu lahir kita belum mengerti semua itu. Riset saya mencari tahu asal muasalnya; bagaimana kita membentuk pengetahuan dan kepintaran.
Kepintaran ini bukan hanya akademik, tapi juga hal di luar itu. Hal sederhana seperti mengambil bolpoin dan menulis itu kepintaran luar biasa. Sampai saat ini, belum ada robot yang bisa mengambil bolpoin dan menulis secara luwes seperti manusia. Itu perhitungan matematika otak yang memberitahu tangan cara menjepit dengan dua jari. Dalam penelitian saya, kami meneliti bayi dan anak kecil, membandingkan manusia dengan hewan (terutama primata seperti orangutan dan simpanse), serta membandingkannya dengan artificial intelligence (AI). Menariknya, dalam banyak tugas, AI ternyata lebih "bodoh" daripada bayi.
Pertanyaan dasarnya: Dari mana sebenarnya pengetahuan manusia itu berasal?
Sebelum kita mempunyai kemampuan untuk melihat secara bukti nyata dan eksperimental, sebenarnya filosofer-filosofer seperti Greek philosophers dari awal sudah membuat teori atau proposal, proposition, bahwa ada dua kemungkinan. Yang satu kita lahir dengan yang kita sebut namanya Tabula Rasa.
Tabula Rasa artinya kosong melompong atau blank slate. Jadi kita pikirkan seperti papan tulis yang kosong, dan pengalaman di dunia inilah yang mengisi papan tulis tersebut. Jadi ini teori yang sangat berpengaruh karena ini menentukan, ini sangat pragmatis, menentukan pendidikan itu harus yang seperti apa.
Kalau kita percaya kepada Tabula Rasa, berarti pendidikan dan lingkungan itu segala-galanya, karena waktu kita lahir itu kita kosong. Jadi, setiap orang bisa menjadi apapun yang tergantung dari lingkungan sekitar.
Proposal yang kedua adalah kita lahir dengan kemampuan-kemampuan tertentu. Nah, itu sudah ada lama sekali, ratusan tahun sejak Greek philosophers. Sejak tahun 1960-an, lahirlah ilmu yang kita bisa sebut cognitive science, yang terutama sekali cognitive development, yang mampu secara eksperimental. Jadi bukan hanya teori, tetapi secara eksperimental bisa menghasilkan bukti empirik apakah kita lahir itu dengan otak yang kosong atau kita lahir dengan ada beberapa pengetahuan, dan apa pengetahuan tersebut.

Kita berhasil untuk menanyakan secara gampangnya apa yang ada di otak bayi, bahkan bayi yang baru lahir. Saya pernah membuat eksperimen yang ini dengan bayi yang baru 4 jam. Bayangkan, 4 jam lahir dari perut kita sudah bikin eksperimen untuk tahu di otak bayi itu ada pemikiran apa. Dan ternyata ada. Metode itu baru ditemukan sejak tahun 1960, dan ini bukan metode yang unik luar biasa tetapi itu metode yang berhasil memberikan kita bukti evidence.
Untuk gamblangnya, saya bisa kasih tahu dari penelitian sejak 1960 sampai sekarang, termasuk beberapa penelitiannya saya senang sekali dikontribusikan oleh laboratorium saya, itu kita mengetahui ada yang kita sebut core knowledge. Core itu kan artinya inti, knowledge pengetahuan. Jadi pengetahuan inti. Pengetahuan inti ini kita lihat dari bukti-bukti adalah pengetahuan yang dimiliki oleh semua manusia, bahkan juga dimiliki oleh hewan.
Jadi karena tadi saya bilang kan saya membandingkan antara manusia, hewan, dan juga AI. Pengetahuan inti ini ada di hanya di beberapa bidang. Pengetahuan inti nomor satu adalah yang kita sebut pengetahuan ruang. Jadi, sejak lahir manusia itu mempunyai pengetahuan tentang ruang. Ini adalah kita bisa bilang fisika gampang, fisika sederhana atau fisika basic.
Salah satu ilmuwan yang paling berpengaruh itu adalah ibu akademik saya, Professor Elizabeth Spelke. Dialah yang pertama menemukan mengenai core knowledge ini. Jadi seperti apa pengetahuan ruang? Kita tahu kalau misalnya pengetahuan ruang, fisika itu nggak mungkin si anggur ini bisa menembus ke jeruk. Oke, itu fisika.
Ini nggak mungkin benda satu dan benda lainnya itu menembus satu sama lain, itu pasti terjadi. Itu pengetahuan ruang yang basic. Ternyata, begitu kita tanyakan bayi itu waktu lahir sudah tahu ini atau belum, jawabannya sudah. Apakah bayi sudah tahu tentang gravity? Jawabannya sudah dan itu semuanya ditemukan oleh ibu akademik saya Profesor Elizabeth Spelke dan ilmuwan-ilmuwan lainnya yang lahir dari ruang.
Yang kedua adalah pengetahuan inti mengenai angka, numerical cognition. Ini beberapa riset, saya menyumbang juga kepada ini. Jadi kita sejak lahir itu sudah punya pengetahuan basic tentang matematika dan angka. Misalnya kalau ditanyakan ke kalau misalnya bayi dikasih lihat antara dua ini, mana kumpulan yang lebih banyak, bayi itu sudah tahu bahwa ini yang lebih banyak.
Ada satu eksperimen yang saya lakukan itu menarik, itu bayinya di beneran seperti ini, ada dua, terus bayinya ini yang sudah bisa merangkak, terus kita lepasin nih bayinya begitu terus kita cuma lihat bayinya mau merangkak ke yang mana, bayinya akan merangkak ke sini. Karena dia sudah punya sense untuk melihat yang lebih banyak dan, ini menariknya, binatang pun punya kemampuan hewan yang kita sudah tes di semuanya.
Yang ketiga, core knowledge. Yang ketiga itu adalah pengetahuan. Pengetahuan inti atau ilmu inti tentang sosial. Apa itu artinya sosial? Kita adalah makhluk sosial, kita sering mendengar ini. Makhluk sosial artinya kita selalu melihat atau sangat bergantung kepada sesama kita, interaksi kita. Nah, yang dipertanyakan apakah seorang apakah bayi waktu lahir itu mempunyai ekspektasi tentang bagaimana sesama itu berperilaku.
Ini saya ceritakan penelitiannya menarik. Kalau kita lihat nih ada dua kelompok, yang satu menarinya itu persis sama bareng-bareng, terus sekelompok satu lagi misalnya ini dua-duanya lima orang, terus yang lima orang ini begitu ada musik menarinya itu masing-masing beda-beda.

Terus kalau saya tanya ke Mas Madin (Rachmadin Ismail), Mas antara dua grup ini, yang satu menarinya persis bareng, yang satu lagi menarinya beda-beda, grup yang mana yang akan lebih mungkin membantu satu sama lain?
Yang bareng-bareng.
Nah, itu yang ditanya apakah bayi mempunyai ekspektasi yang sama, ini dari menari ke membantu. Itu berarti kan grupnya itu akan saling membantu satu sama lain, dan jawabannya adalah iya. Bayi waktu lahir, ini kita tes 3 bulan 4 bulan, itu sudah mempunyai ekspektasi bahwa grup yang ritmenya itu sama itu lebih mungkin membantu satu sama lain karena mereka lebih kohesif sebagai sosial grup.
Ini pengetahuan, tapi pengetahuan itu tentu saja adalah pengetahuan dasar yang terus berkembang, dan perkembangannya ini sangat dipengaruhi oleh informasi dan lingkungan sekitarnya. Jadi, walaupun pada awalnya kita mempunyai kemampuan matematika, kita sekarang harus tanya kenapa kok ada ada anak yang pintar matematika, ada anak yang kurang pintar matematikanya. Itu bukan karena kemampuan IQ.
Tentu saja kalau kita berbicara jenius itu sedikit lain, tapi secara rata-rata kita semua mempunyai kemampuan matematika. Semuanya itu kita bisa buktikan secara saintifik itu adalah berdasarkan perbedaan dari lingkungan sekitarnya.
Jika ada core knowledge, lalu kenapa ada anak yang pintar matematika dan ada yang tidak? Apakah ada faktor gifted tanpa pengaruh lingkungan?
Tidak ada! Artinya lingkungan ini menjadi faktor yang sangat kunci juga ya. Bukan juga, sangat kunci. Jadi yang kita ketahui adalah core knowledge ini bagian yang sangat kecil sekali, tapi kita tahu bahwa kita tidak lahir sebagai Tabula Rasa. Core knowledge ini dan kita tahu sekarang persisnya apa yang kita miliki, tidak semuanya kita miliki. Kita nggak punya pengetahuan misalnya untuk pengetahuan tentang history, kita nggak punya pengetahuan itu waktu kita lahir ya. Tapi, ada beberapa core knowledge yang kita lahir, dan pengetahuan core knowledge itulah yang menjadi basis informasi-informasi apa yang akan lebih cepat ditangkap oleh seorang anak.
Jadi kalau kita ngobrol sama anak-anak tentang angka itu kan kayaknya aneh ya kalau sama anak umur 1 tahun ngomong tentang angka? Ini adalah sesuatu yang salah kaprah karena anak, tadi saya udah bilang, umur 3 bulan pun punya pengertian tentang pengertian dasar tentang angka dan matematika.
Jadi, tidaklah salah kaprah kalau kita berbicara tentang angka, tetapi jangan sampai salah kaprah saya sangat tidak menyarankan ini berarti harus les olimpiade matematika, bukan. Tapi ini pembicaraan biasa, misalnya saya tanya, misalnya kalau saya dengan anak kecil saya bisa tanya, "Wah ini jeruk kalau kita buka dalamnya berapa isinya?" Riset menunjukkan, orang yang bisa mengestimasi jumlah secara tepat biasanya prestasi akademik matematikanya di sekolah nanti akan bagus.

Apa bedanya membicarakan angka dengan memberikan 'les' matematika? Banyak orang tua ingin memberi les sejak dini agar anaknya bisa 'mencuri start'. Benarkah begitu secara riset?
Sangat salah. Saya bahkan punya paper yang saya tulis ini waktu saya di Tiongkok, mengapa adalah sangat salah kalau Anda memberikan les-les kepada anak Anda waktu dini. Kenapa? Karena manusia satu keunggulannya adalah kita harus terus-menerus belajar hal yang baru. Kita sekarang banyak berbicara tentang AI, tapi bukan hanya AI, semuanya!
Di dunia, AI itu apa kita takut tergantikan kan? Untuk kita bisa tidak tergantikan, kita harus lincah berpikir untuk belajar bermacam-macam yang baru. Dulu waktu saya kuliah nggak ada yang namanya AI, tapi waktu saya sekarang menjadi peneliti saya juga meneliti AI. Jadi saya harus terus-menerus belajar dan peneliti dan juga policy maker sebagai jabatan di pemerintah, saya harus terus-menerus bisa belajar yang baru. Itu adalah kemampuan yang kita bilang learning to learn, bisa belajar untuk belajar, itu adalah kemampuan paling utama yang harus kita bentuk di anak kita.
Kenapa saya sangat tidak sarankan les terutama kepada anak kecil? Kalau mereka les, itu semuanya terstruktur. Berarti, anaknya tidak akan punya input tentang bagaimana mereka mau menstruktur dan mempertanyakan hal-hal yang baru, karena semuanya sudah diberikan sama gurunya.
![]()
Jadi, pada saat itu, mungkin Mas Madin akan melihat anaknya punya pengetahuan yang lebih banyak tentang konten yang diajarkan pada les tersebut, tetapi di lain pihak anaknya tidak menjadi terbiasa untuk berpikir sendiri apa yang mau mereka pelajari. Jadi, mereka akan selalu menunggu gurunya kasih saya homework yang apa? Gurunya kasih ini. Tetapi saya jamin, saya jamin tidak akan ada Nobel Prize Winner di bidang matematika, di bidang fisika, di bidang medicine yang waktu kecil itu les. Saya jamin dan ini ada papernya, saya udah pernah nyiapin papernya.
Bukannya saya bilang les sama sekali nggak perlu ya, tapi saya kasih tips yang pragmatis karena saya juga pragmatis. Les itu perlu kalau kita melihat anaknya sangat kesulitan dalam pelajaran tersebut dan tidak bisa menyelesaikan sendiri permasalahannya dan kasihlah les itu dalam batas waktu.
Lalu apa yang harus dipersiapkan orang tua yang baru saja memiliki, sesuai dengan kaidah sains?
Iya, sekarang kita kembali lagi kita harus menanyakan tujuan pengetahuan itu apa, tujuan pendidikan baik itu pendidikan di rumah oleh orang tua maupun pendidikan di sekolah itu apa. Kalau dari saya dan bukti sains adalah menghasilkan manusia yang mampu tadi saya bilang belajar untuk belajar dan mampu menyelesaikan masalah apa pun itu masalahnya, problem solving skill.
Karena dunia itu terus berubah, jadi sebenarnya yang paling penting itu adalah kemampuan untuk berpikirnya dan bukan pengetahuan konten pikirannya. Caranya murah dan mudah: banyaklah berbicara dengan anak. Riset membuktikan kosakata anak umur 5 tahun berkorelasi kuat dengan prestasinya di sekolah dan kariernya nanti. Semakin banyak kata yang diketahui, semakin efisien dia menangkap informasi. Ini seperti efek bola salju.
Karena anak yang mempunyai kosakata banyak—kosakata itu artinya jadi berarti dia mengerti kan dia mengerti mempunyai kata-kata yang banyak itu—kata setiap kata yang kita sebut itu adalah preposisi. Kata itu mempunyai makna dan makna itu dan kata itu bisa dipergunakan untuk komunikasi.
Selain itu, bermainlah. Bermain itu sangat penting, bukan cuma buat senang-senang. 80% waktu masa kecil dihabiskan untuk bermain karena di sanalah mereka belajar memecahkan masalah dan negosiasi sosial.
Nah, dari mana kosakata itu? Itu bukan genetik. Kosakata itu dari apakah orang tuanya sering ngajak bertanya sama anaknya dan waktu anaknya tanya itu dijawab oleh orang tuanya. Ini sebenarnya mungkin kalau kita ingat waktu anak kita umur 2 tahun buat yang punya anak itu kan banyak bertanya.

Ada perbandingan antara Roger Federer (generalis) dan Tiger Woods (spesialis). Federer mencoba banyak hal sebelum fokus ke tenis. Apakah teori generalis ini valid secara sains?
Saya tidak akan membicarakan teori, saya akan membicarakan data dan bukti. Jadi memang saya waktu itu pernah mensitasi paper yang barusan keluar, yang melihat dari jenius-jenius yang ada di dunia. Pertanyaannya waktu mereka kecil apakah mereka lebih banyak cuma fokus kepada satu hal atau mereka lebih banyak yang mencoba beberapa hal yang bahkan mungkin bukan di bidangnya.
Jadi saya ini berdasarkan setelah hipotesanya dites, data menunjukkan hanya 10% dari mereka yang disebut jenius di bidang di bidang yang waktu itu di bidang sains, olahraga, sama satu lagi catur waktu itu dilihatnya, hanya 10% dari mereka yang jenius di tiga bidang itu yang waktu kecil itu sangat fokus hanya kepada satu bidang. Artinya 90% dari para jenius-jenius itu waktu kecilnya bahkan banyak mencoba beberapa hal.
Perbandingan antara satu bidang dengan bidang yang lainnya, pemikiran dan perilaku seperti apa yang paling bisa membuat kita bertahan dan menghadapi tantangan-tantangan apa pun jenis tantangannya. Jadi, dari tadi generalis program itu kita bisa mendapatkan satu prinsip, prinsip tentang perilaku dan pemikiran kita yang membantu kita apapun tantangannya kita bisa handle, kita bisa menghadapinya.
Sehingga, untuk bisa menjadi kita bilang jenius itu kan berarti kita berhasil untuk melihat sesuatu yang baru dan sungguh-sungguh jenius itu pemikiran baru ya. Seorang jenius di catur itu bisa melihat move-move yang baru yang tidak bisa diantisipasi oleh lawannya. Jenius di olahraga dia bisa berpikir bagaimana dia bisa dengan cara yang baru mengalahkan rekor-rekor sebelumnya, apalagi di saintifik di bidang sains itu pemikiran baru.
Nah inilah mungkin dengan perbandingan secara generalis itu bisa lebih memungkinkan menghasilkan pemikiran yang bisa menghadapi berbagai macam tantangan. Sementara yang sangat spesifik itu bisa berhasil tetapi begitu ada sedikit perbedaan dengan yang mereka sudah hadapi ini menjadi sedikit kurang kemampuannya.
Dari sekian banyak riset yang telah dilakukan, adakah penelitian yang dapat mengubah cara pandang masyarakat tentang pendidikan, kognitif, serta hal terkait lainnya?
Sebenarnya secara jujur kalau boleh ini seorang ilmuwan biasanya risetnya itu sebenarnya hanya satu. Jadi pertanyaannya satu tapi harus dilakukan dalam berbagai macam eksperimen, tapi saya akan kasih tahu karena tadi saya risetnya adalah untuk mengerti dari mana asalnya pengetahuan dan jawaban dari riset itu bisa memberikan kita tahu bagaimana menjadikan how to make your kid smart, how to make someone smart, dan saya akan kasih tips satu ini riset saya melakukan perbandingan.

Itu di-against all public common opinion (ditentang oleh persepsi publik) kan kita nggak boleh membanding-bandingkan anak, (atau ini dalam konteks) beda ya?
Bukan banding-bandingin anaknya, itu sosial perbandingan. Maksudnya, seorang individu itu akan bisa mendalami pengetahuan mereka jika mereka dilatih untuk melakukan perbandingan. Tadi saya tadi saya kasih contoh anak yang bertanya kenapa saya harus makan, lalu saya kasih perbandingan perbandingan dengan HP. Kamu makan itu sama seperti HP di-charge listrik.
Nanti saya bisa nanyain ke anaknya, "Apa lagi yang seperti HP?" Ini nggak gampang. Kalau seorang anak bisa jawab mobil dan listrik itu seperti apa, listrik itu seperti HP dan listrik itu bisa apa lagi yang seperti itu tapi bukan HP dan bukan listrik.
Menarik. Sekarang kita masuk ke beberapa pertanyaan singkat. Apa fun fact tentang pengetahuan manusia vs AI?
Pengetahuan AI sangat tergantung pada data. AI butuh jutaan gambar untuk mengenali sepeda (lewat captcha), sementara anak umur 2 tahun sudah tahu mana sepeda mana bukan hanya dengan sedikit contoh. Manusia punya categorical thinking. Selain itu, hewan ternyata juga mengerti konsep matematika dasar, tapi mereka sulit berpikir secara sistem atau struktural.
Bagaimana cara paling efektif melawan hoaks menurut sains?
Jeda. Hanya perlu beberapa detik jeda sebelum membagikan (forward) pesan. Bertanyalah pada diri sendiri: "Yakin ini benar?" Kecepatan membuat kita mudah percaya hoaks. Sains membuktikan jeda beberapa detik bisa menurunkan tingkat penyebaran disinformasi.
Terakhir, mana yang lebih penting untuk sukses di era sekarang: Who You Know atau What You Know?
Who you know, pastinya. Bukan dalam arti nepotisme, tapi jejaring (networking). AI punya pengetahuan (what you know) lebih banyak dari manusia mana pun. Tapi who you know membuat pengetahuan itu bisa terhubung dan memberikan nilai. Ilmuwan paling sukses adalah yang memiliki jaringan paling padat, karena tujuan ilmuwan adalah hasil temuannya digunakan orang lain (sitasi). Lewat orang yang kita kenal, kita belajar "apa"-nya.

Penulis: Irfan Amin
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































