Menuju konten utama

Usung Konsep Grand Symphonic, Konser Afgan Pukau Ribuan Penonton

Afgan retrospektif: The Concert mengajak lebih dari 4.000 orang menyusuri berbagai fase di hidup Afgan lewat 30 lagu yang diaransemen Erwin Gutawa.

Usung Konsep Grand Symphonic, Konser Afgan Pukau Ribuan Penonton
Afgan retrospektif: The Concert, pertunjukan Grand Symphonic Universe yang menjadi selebrasi 18 tahun karier Afgan, digelar di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC). Konser ini didukung PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI). (FOTO/Dok. Seven Star Production)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Promotor Seven Star Production sukses menghadirkan Afgan retrospektif: The Concert, sebuah pertunjukan Grand Symphonic Universe yang menjadi selebrasi paling personal sepanjang perjalanan 18 tahun karier Afgan. Digelar di Plenary Hall, Jakarta International Convention Center (JICC), konser mengajak lebih dari 4.000 pasang mata menyusuri berbagai fase kehidupan Afgan melalui 30 lagu pilihan yang diaransemen secara megah oleh maestro orkestra Indonesia Erwin Gutawa, menghadirkan pengalaman konser yang menyatukan musik, visual, dan cerita dalam satu pertunjukan. Afgan retrospektif: The Concert didukung PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) sebagai sponsor utama.

Dolly Sartika, Promotor - CEO & Founder Seven Star, mengatakan, “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari perjalanan menghadirkan Afgan retrospektif: The Concert. Setelah hampir satu tahun menjalani proses kreatif dan berbagai persiapan, rasanya sangat membanggakan melihat seluruh kerja keras tersebut akhirnya terwujud di atas panggung. Antusiasme dan respons luar biasa dari lebih dari 4.000 penonton menjadi apresiasi terbaik bagi seluruh tim, sekaligus memotivasi kami untuk terus menghadirkan pertunjukan musik berkualitas dengan pengalaman berbeda di masa mendatang.”

Perjalanan 18 Tahun Afgan dalam Empat Babak Grand Symphonic Universe

Memasuki Plenary Hall, penonton langsung disambut oleh konsep panggung scaffolding yang menampilkan struktur konstruksi secara terbuka, elemen yang biasanya disembunyikan dalam sebuah pertunjukan. Konsep ini menjadi metafora perjalanan Afgan yang ingin tampil lebih apa adanya, jujur, dan membuka dirinya kepada para penggemar yang telah menemaninya selama hampir dua dekade.

Konsep tersebut semakin diperkuat melalui teknik mirroring visual dengan penggunaan layar reflektif dan inverted projection, menciptakan pengalaman visual yang imersif, hidup, dan terasa tanpa batas. Tata pencahayaan, visual artistik, dan desain panggung dirancang untuk memperkuat alur storytelling di setiap segmen pertunjukan.

Konser dibagi ke dalam empat babak yang merepresentasikan perjalanan musikal Afgan dari masa awal karier hingga fase pendewasaan. Pertunjukan dibuka dengan alunan ‘Misteri Dunia’ yang dibawakan bersama The Gandarians, memantik sorakan meriah dari penonton. Menuju babak kedua, kabuki raksasa terangkat dan menunjukkan Erwin Gutawa Orchestra yang langsung disambut gemuruh tepuk tangan penonton, menghadirkan overture megah yang perlahan menyelimuti seluruh ruangan, hingga Afgan muncul dengan membawakan ‘Jalan Terus’.

Babak ketiga menjadi ruang bagi Afgan untuk menunjukkan eksplorasi musikalnya. Medley Shallow Water dan Say I’m Sorry dari album berbahasa Inggris Sonder dan Wallflower memperlihatkan sisi musikal Afgan yang lebih modern dan eksperimental. Memasuki babak keempat, suasana berubah menjadi penuh semangat saat Dia, Dia, Dia dan Kacamata sukses mengajak ribuan penonton bernyanyi bersama. Salah satu momen yang paling mencuri perhatian hadir di tengah penampilan Kacamata, ketika musik mendadak berhenti dan Afgan bersama seluruh personel Erwin Gutawa Orchestra serempak melepas kacamata mereka, memicu riuh tepuk tangan dan sorakan penonton.

“Setiap babak ini menjadi cerminan yang sangat penting dalam perjalanan hidup sekaligus karier saya di industri musik. 18 tahun bukan sekadar tahun perjalanan bagi saya, tetapi juga bagi para fans yang selalu mendukung saya sejak awal. Konser ini merupakan Selebrasi atas semua perjalanan yang telah kita lewati bersama, baik, buruk, hal menyenangkan, hal yang menyedihkan, dan semua rasa. Saya berharap penonton tidak hanya pulang dengan kenangan akan pertunjukan musik, tapi juga membawa pulang sesuatu yang lebih bermakna,” ucap Afgan.

Konser semakin istimewa dengan kehadiran sejumlah kolaborator spesial lintas generasi. Salah satu momen paling berkesan ketika Afgan berduet dengan Kris Dayanti, sosok yang selama ini diakui Afgan sebagai salah satu inspirasinya dalam bermusik. Keduanya membawakan medley ‘Kepastian', ‘Kamu Yang Ku Tunggu’, ‘Percayalah’, dan ‘Ada’ dalam aransemen orkestra.

Pada segmen lagu-lagu bertema patah hati, Mahalini membawakan ‘Sadis’, salah satu lagu paling ikonik dalam diskografi Afgan. Petra Sihombing kemudian melanjutkan penampilan dengan ‘Peluk’ yang dibawakan dalam iringan gitar akustik dan paduan suara Paragita. Seiring lantunan lagu, ribuan penonton serempak menyalakan flashlight ponsel mereka, mengubah Plenary Hall menjadi lautan cahaya yang berkelap-kelip. Momen tersebut menjadi salah satu puncak emosional konser, menghadirkan suasana yang hangat, syahdu, dan membekas bagi ribuan penonton.

Tak berhenti di situ, Afgan juga menghadirkan treatment yang belum pernah dibawakan pada konser-konser sebelumnya melalui format mashup, yakni penggabungan beberapa lagu menjadi satu rangkaian musikal yang utuh. Aransemen ini dirancang khusus untuk konser retrospektif sebagai simbol perjalanan karya yang saling terhubung dari masa ke masa.

Tak hanya memanjakan mata lewat tata panggung, konser ini juga menghadirkan pengalaman audio sinematik melalui penerapan cinematic sound surround. Didukung karakter akustik Plenary Hall JICC, tata suara tersebut menciptakan sensasi audio yang lebih imersif, dengan detail suara yang terdengar jernih dan seolah mengelilingi penonton di sepanjang pertunjukan.

Di balik kemegahan konser ini berdiri kolaborasi sejumlah talenta kreatif terbaik Indonesia. Creative Director Shadtoto Prasetio menjadi sosok yang merancang konsep Grand Symphonic Universe, menghadirkan pertunjukan yang menampilkan sisi Afgan yang lebih personal, berani, dan artistik melalui perpaduan musik, visual, serta storytelling. Di sisi lain, Stylist Ajeng Svastiari mengkurasi seluruh penampilan Afgan dengan komitmen menggunakan 100% karya lokal Indonesia. Bersama Sapto Djojokartiko, Sean & Sheila, Temma Prasetio, dan Alto Project, setiap elemen visual konser dirancang untuk memperkuat identitas artistik di setiap babaknya.

Penulis: Tim Media Servis